Pagi ini kabut sangat tebal, saya belum pernah mengalami hari dengam kabut setebal ini. Sangat sulit melihat ke depan saat mengantar Kano ke tempat kerja ketika matahari belum muncul. Orang yang menyeberang jalan tidak tampak dari jarak sekian meter, juga sepeda jika tidak menggunakan lampu kecil. Sangat berbahaya. Lampu lalu lintas, seperti yang dikatakan Kano, terlihat seperti mata monster dari kejauhan karena hanya dua titik yang terlihat walau remang-remang, kadang hijau kadang merah. Menyeramkan!
"Misa requiem akan diadakan pukul 10:00 WIB..."
Tiba-tiba saya mendapat pesan dari salah seorang rekan di Jakarta untuk menghadiri upacara terakhir dalam proses mengantar sahabat saya ke keabadian. Rekan-rekan yang lain langsung menyambut walaupun sebagian besar pasti tidak akan mengerti karena upacara itu nantinya akan berbahasa Indonesia.
Saya begitu terharu ketika sahabat-sahabat yang lain langsung menyambut. Bayangkan saja mereka ini sekarang tinggal di segala penjuru dunia. Yang berada di Amerika saja berasal dari berbagai state seperti California, Washington, Vermont, Hawaii, Connecticut, Missouri, Colorado dan sebagainya. Lalu ada sahabat-sahabat juga yang tinggal di Irlandia, Thailand, Filipina, Hungria hingga di Malawi, di Afrika sana. Mereka semua akan hadir secara virtual untuk mengantar kepergian seorang sahabat yang istimewa ini.
Sangat disayangkan bahwa "reuni" ini terlaksana karena sebuah alasan yang menyedihkan. Tapi jika dipikir-pikir dia telah menyatukan kami, walau secara fisik kami berada diberbagai penjuru dunia tapi kami semua hadir mengantar. Kedukaan yang dirasakan ini sebetulnya menyajikan sebuah kesempatan bagi kami semua untuk merasakan dampak yang sangat berarti dalam menjalani hidup, bahwa kita semua tidak memiliki kontrol yang berkaitan dengan kondisi manusia. Siapa yang mempunyai hak untuk menghadirkan maupun menyelesaikan perjalanan hidup? Yang saat ini bisa kami lakukan adalah merayakan sebuah kehidupan yang sudah pernah bersama-sama kami lalui.
Cinta kasih dan semangat persaudaraan sepertinya merupakan sesuatu yang digunakan dalam proses menjalani hidup, untuk menyiapkan diri dan merespon kedukaan. Ini sangat memiliki dampak yang dalam ketika mengalami peristiwa duka.
Banyak orang menggambarkan proses kehilangan dan kedukaan ini sebagai sebuah bencana. Merupakan sesuatu yang menyakitkan dan membutuhkan waktu yang panjang serta kadang sangat sulit untuk bisa sembuh bahkan untuk sementara orang peristiwa ini tidak pernah bisa tersembuhkan. Walau semua ini sangat dapat dimengerti, tidak ada seorangpun yang dapat menghindarinya. Ini merupakan bagian dari kehidupan. Lahir dan mati itu sudah merupakan bagian dari perjalanan hidup. Ada awal dan ada akhir. Alfa dan Omega.
Duka dan kehilangan merupakan pengalaman universal. Merupakan sesuatu yang normal dan sehat bahwa setiap manusia merespon, menanggapi rasa duka. Tidak hanya manusia malah, binatang pun mengalami hal yang sama, gajah, lumba-lumba atau jerapah menurut para ahli memperlihatkan rasa sedih ketika kehilangan anggota keluarganya. Tidak ada diskriminasi dalam kaitan dengan rasa duka, tidak pandang bulu apakah tua maupun muda, tidak peduli warna kulit atau keturunan siapa, semua tidak dapat melepaskan diri dari duka yang diakibatkan oleh kematian.
Saya mempelajari sesuatu sepanjang menjalani proses kedukaan ini. Mereka yang mengalami, termasuk saya, menjadi lebih terbuka, lebih hangat dan ingin saling membantu bahkan terhadap orang yang tidak benar-benar kami kenal. Dalam menjalaninya kami semua mengalami koneksi yang kuat satu sama lain yang tidak pernah kami sangka-sangka, unexpected! Kami, tanpa sebelumnya direkayasa, memperoleh insight yang baru, persahabatan yang jauh lebih erat serta rasa kekeluargaan yang lebih hangat. Kekuatan dari duka ternyata begitu luar biasa dan mempersatukan banyak jiwa. Seperti yang saya katakan dalam tulisan terdahulu, lilin itu boleh saja musnah tapi begitu banyak yang menikmati cahayanya, semua yang berada di sekelilingnya merasakan itu dan sekaligus menyatukan. Ini sebuah pengalaman spiritual yang sangat dalam.
Rest in Love, sister! Little by little we will try to let go of loss, but never of love, especially yours!
foto credit: fineartamerica.com
Duh, kok mirip banget ya pengalaman Joe sama pengalaman saya di awal tahun ini. Saya juga baru kehilangan seorang teman dekat... sebelumnya 6 bulan lalu istrinya meninggal dunia. Kedua anaknya sekarang sebatang kara... Sedih banget. Mengharukan sekali saat kemarin kami menyampaikan kepada kedua putrinya, kalau kami semua teman-teman ayahnya adalah sosok pengganti ayah dan ibunya yang sudah tiada... Hidup memang penuh misteri... 🙏😔