Ini tulisan saya 3 tahun lalu yang masih menjadi penghuni draft folder.
Summer break is over! ini sebuah kalimat yang sudah sangat lama saya kepingin ucapkan. Kenapa? karena pada dasarnya saya tidak terlalu menyukai bekerja di musim panas karena very high tension, lots of stressful condition, dan alasan-alasan lainnya. Selama musim panas memang hampir semua asrama dijadikan semacam "hotel" di mana ribuan orang, kelompok dan organisasi berbagai macam ragam menginap untuk berkonferensi, pelatihan, lokakarya dan sebagainya. Pokoknya dari kegiatan olahraga seperti football, soccer, voleyball, camp untuk penyandang cacat fisik hingga kelompok kegiatan keagamaan tumplek semua di kampus CSU selama musim panas ini. Saya terus terang lelah fisik dan mental menghadapi beban kerja yang bukan main banyak, padat dan melelahkan, belum lagi ditambah faktor cuaca yang panasnya kadang mencapai di atas 40° C. Lengkap sudah! Walaupun kami dibantu ratusan mahasiswa yang digaji jam-jaman, tetap saja ini menjadi beban berat.
Nah, 2 hari terakhir kemarin menjadi saat-saat resmi usainya masa yang melelahkan itu, yaitu para mahasiswa baru masuk asrama. Tahun ini mencatatkan sebuah rekor baru, 8100 orang mahasiswa baru masuk asrama selama kurun waktu 2 hari. Kesibukan yang bukan main. Jalanan macet, tempat parkir penuh dengan kendaraan yang menurunkan barang bawaan para mahasiswa yang kemudian dibawa masuk ke kamar masing masing. Bayangkan 8100 orang, ditambah orang tua dan keluarga mereka berbondong-bondong mengantar. Para mahasiswa baru memang diwajibkan masuk asrama selama 1 tahun, sesudah lewat 1 tahun mereka bebas boleh memilih tinggal di luar kampus hingga lulus.
Seluruh karyawan, sukarelawan, para mahasiswa-mahasiswi sorority and fraternity, mahasiswa atlet football dan lain-lain terjun ikut membantu memuluskan move in days ini. Seru! Mereka membantu mengangkut barang ke dalam kamar-kamar di asrama.

Hari pertama, sebagai volunteer, saya pakai seragam hijau dangdut seperti angkot gede bage, ditambah rompi oranye lengkap dengan reflektor yang genjreng bertugas menjadi pengatur lalu lintas. Tempat parkir memang sangat luas, tetapi lokasi untuk menurunkan barang sangat terbatas, sehingga mereka harus dibatasi jamnya... 30 menit mereka harus pindah sesudah semua barang turun.
Cerita saya berhenti sampai sini, belum pernah selesai----****
Sekarang di akhir Summer Break tahun 2021. Kampus sepi! Dining centers hanya 1 yang buka. Selama musim panas hampir tidak ada konferensi, training dan lain sebagainya. Sudah 2 tahun kondisi summer seperti ini, mati suri! Biasa ada ribuan orang yang membanjiri kampus dengan puluhan kegiatan silih berganti, seperti saya tulis 3 tahun lalu, kampus seperti hotel tempat orang-orang melakukan kegiatan. Bahkan ada kelompok keagamaan yang seolah-olah menguasai kampus karena mereka membawa ribuan orang untuk berkonperensi. Sepanjang trotoar yang berumput dipasang tenda-tenda lengkap dengan AC! Lapangan olah raga yang sebesar ratusan meter diganti menjadi tempat karnaval, khusus untuk mereka lengkap dengan komidi putar, ferris wheel, dan lain-lain. Pokoknya kampus menjadi kampung mereka selama berminggu-minggu. Itu semua tidak terjadi di kurun 2 tahun terakhir ini.
Move in day akhirnya kembali hadir di tahun 2021 plus segala kekhawatiran karena ada virus delta varian. Sesudah beberapa minggu masker tidak diwajibkan, sejak kemarin semua yang berada dalam ruangan di kampus wajib memakai masker kembali, semua karyawan dan mahasiswa wajib melaporkan jika sudah divaksin atau jika mereka memilih untuk menolak vaksin (hadeuh!). Di udara terbuka masih optional, boleh tidak pakai masker! Beberapa hari lagi para mahasiswa baru akan mulai berdatangan dan menghuni asrama. Tahun ini jumlahnya sangat berkurang! 3 tahun lalu lebih dari 8000 mahasiswa baru, tahun ini hanya 6000-an saja. Ya memang ini kampus besar, kalau ditotal seluruh mahasiswa bersama para dosen dan karyawan, totalnya sekitar 40.000! Kota ini seperti mati karena satu setengah tahun hampir tidak ada mahasiswa yang ke kampus, artinya kota yang jumlah penduduknya hanya 342 ribu berkurang sekitar 35 ribuan. Bisnis juga sangat tertekan karena tidak ada kehidupan kampus. Bayangkan 40 ribu orang itu sangat berpengaruh terhadap kehidupan kota. Tempat kos kosong, rumah makan kosong, penduduk banyak yang kehilangan pekerjaan, bisnis lesu.
Sekarang masyarakat sangat antusias menyambut kedatangan para mahasiswa karena memberikan harapan yang sebelumnya hancur karena pendemi, tapi antusiasme ini juga dibarengi dengan kekhawatiran bahwa pandemi akan memburuk. Repotnya, para pendatang tidak bisa atau belum bisa diwajibkan untuk imunisasi karena konstitusi menjamin hak warga negara untuk bebas memilih, bebas berpendapat. Pusing khan?
Saya juga khawatir, karena minggu depan kampus akan ramai dengan ribuan orang yang masuk asrama. Tempat parkir akan penuh dengan mahasiswa baru yang membongkar muatan barang-barang pribadi yang akan masuk asrama. Orang tua dan saudara para mahasiswa baru juga akan ada mengantar. Jadi walau katanya hanya 6000 mahasiswa, tapi dikalian 2 atau 3 karena banyak yang mengantar. Nah siapa yang sudah divaksin siapa yang belum kita tidak tahu. Jadi ya masuk akal jika saya khawatir. Rencananya saya akan lebih banyak menyibukkan diri di ruangan kantor saja, makan yang cukup, vitamin yang cukup, pakai masker sepanjang hari dan juga menjaga jarak seperti biasa. Saya akan menjauh, jika tertarik ya nonton saja dari jendela kantor! Yang penting saya selamat dan menjaga kesehatan! Begitu rencananya!***
wah sudah mulai tatap muka ya pak.. semoga aman..
hijau dangdut angkot gedebagenya itu loh.. hehe
Iya nih, seragam kok ijo dangdut gede bage hahaha.. Tahun ini saya tidak berani jadi volunteer, mau nonton saja dari kantor hahaha
Ga ada fotonya ya Jo? Yang pake seragam ijo dangdut... Sepertinya cukup epic penampakannya ya...