AES035 Merasakan Kehangatan Sebelum Libur Lebaran
Rizalk47
Monday March 24 2025, 5:25 PM
AES035 Merasakan Kehangatan Sebelum Libur Lebaran

Pagi hari ini merupakan hari ke 24 bulan puasa. Waktu melesat begitu cepatnya bukan?. Yah tapi mau bagaimana lagi memang sudah seharusnya berjalan demikian. Rutinitas pagi hari yang seperti biasa, aku datang terlalu pagi dan suasana sekolah nampak sunyi, gerbang yang biasanya terbuka lebar kini tertutup dan aku baru mengetahui warna gerbangnya yaitu warna biru. Kendaraan yang terparkir nampak lengang yang bising hanyalah suara kicauan burung dan angin yang bertiup dengan lembutnya. Aku rasa itu suara bising yang paling aku sukai. Okey--hari ini adalah hari kesekian aku magang di Semi Palar, dan agenda hari ini adalah evaluasi tema dan penutupan tema.

Di ruang tengah sudah ada Kakak-kakak yang terlihat bersiap-siap untuk berdoa, anehnya aku malah diam di pendopo dengan kawan magangku dan tidak langsung menuju ruang tengah, jadi aku sepert terlihat telat. Lalu aku mengambil kursi dan duduk bergabung dengan mereka, keheningan menyertai kami dan kata-kata sakti semoga terbasuh di seluruh jiwa kami pada pagi itu. Di kelas tidak terdengar suara anak-anak yang biasanya riuh dalam obrolan dan candaan, hanya keheningan dan ramainya pikiranku sebagai orang dewasa. Setelah selesai berdoa, lalu kakak-kakak bersiap untuk mengadakan evaluasi akhir tema bagian 3, dan akan dipresentasikan di ruang kelas 5, aku pun membantu merapihkan meja. 

Evaluasi aku ikuti, begitu banyak ilmu yang bisa aku serap tentang bagaimana mengawasi anak dan tidak hanya sekedar memberikan materi saja, namun bagiku kesan humanis yang paling fantastis sangat terasa di setiap kata yang kakak-kakak rangkai di presentasinya. Aku menyimak sesekali mencatat point-point penting. Satu kelas mempresentasikan selama 40 menit berikut sesi pertanyaan kira-kira 20 menit, jadi kurang lebih aku duduk dan mendengarkan selama dua jam. Di sela pengamatanku, aku banyak berpikir dan berkonflik dengan diriku sendiri. Apakah aku benar-benas sudah menjadi pengajar? Sarjana Pendidikan yang aku emban menjadi sirna begitu saja bagiku, semenjak di Semi Palar aku tidak merasa bangga dengan gelar yang aku miliki, apalagi ada kata pendidikannya dalam gelarku, bagiku sungguh berat, seperti tanggung jawab yang memang harus benar-benar dipertanggung jawabkan secara moril. Bagi aku menjadi guru itu bukan sekedar profesi, tapi lebih dari itu, dan sangat sulit untuk mencapainya. 

Tak terasa waktu evaluasi telah selesai, kami pun bertepuk tangan mengapresiasi kumpulan yang lumayan menguras tenaga dan pikiran. Aku kembali ke ruang tengah duduk diujung meja kakak-kakak SD 6. Dan aku dikasih cemilan seperti basreng, keripik ubi cilembu dan kue, aku sangat senang sekali. Terima kasih kakak-kakak, rasanya aku sangat dianggap walaupun masih menyandang status pegawai magang. Semoga kalian sehat selalu, dan senantiasa ada dalam lindungan-Nya--amiin. 

Arah jarum jam menunjukkan ke arah tiga, cuaca begitu mendung, angin berhembus tidak elok, suara gemuruh dari pohon-pohon yang hijau, dan air hujan pun turun, membawa aroma khas dari tanah yang lama kering, menusuk ke hidungku dan memanggil kembali kenangan-kenangan yang telah aku lalui. Lalu kami seluruh kakak-kakak smipa berkumpul di longpus, semua kakak telah berkumpul, dan harus menunggu kakak yang lain-yang evaluasinya belum selesai. 

Kami duduk secara melingkar membuat kehangatan di tengah dingiinya rintik hujan yang lumayan menusuk permukaan kulitku. Singkat cerita, penutupan pun dimulai, beberapa kalimat tentang kesan dan memberikan selamat terhadap hari raya yang akan dirayakan, dan ditutup oleh doa-doa panjang tentang pengharapan dari kakak-kakak smipa yang dengan giatnya menghidupi rumah belajar terhadap protagonis-protagonis sejarah, iya betul para protagonis itu adalah murid-murid kecil yang berhati besar. Setelah selesai berdoa kami pun bersalaman (halal bi halal), lalu aku pun bersalaman dengan kakak-kakak smipa, dengan ekspresi canggungku, aku tersenyum menyapa. Setelah selesai bersalaman dengan semua kakak-kakak, aku berdiri sebentar, merenungi kejadian yang telah aku lalui, dan mencoba memotretnya kedalam ingatan intiku, langit berhenti menurunkan air ke tanah, matahari tiba-tiba cerah dengan cara yang paling indah, aku menatap pohon seolah-olah ia tersenyum melihat kehangatan kita bersalaman, saling memaafkan dan akan segera merayakan kemenangan. 

Yah begitulah pengalaman aku hari ini, aku pulang ke rumah dengan kantong penuh, oh iya sebelum pulang ke rumah aku diberi martabak oleh teman magangku, kata mereka tanda terima kasih karena sudah menerima mereka bukber di rumah. Lalu aku menerimanya dengan senang hati. Sesampainya di rumah lantas aku membuka kantongku, dan sedikit senyum menatap ibuku, ibuku pun tersenyum dan berkata "Alhamdulillah nak, ada makanan buat buka puasa". Aku langsung pergi ke toilet untuk mengambil wudhu, untuk menghapus air mata menjadi air suci untuk sembahyang. 

Terima kasih.