Waktu pembagian raport kemarin, @kak-andy menampilkan puisi indah dari Kahlil Gibran tentang jiwa anak anak kita.
Kahlil Gibran
Anak-anakmu bukanlah milikmu.
Mereka adalah putra-putri dari kerinduan Hidup akan dirinya sendiri.
Mereka datang melalui engkau, tetapi bukan dari engkau.
Dan meski mereka bersamamu, mereka bukan kepunyaanmu.
Secara spiritual, hubungan kita dan anak kita, sebagaimana hubungan kita dan orang tua kita, bukan hanya hubungan biologis semata, melainkan hubungan jiwa yang jauh lebih erat baik secara frequensi energi dan jalur evolusi.
Sebagaimana fisika klasik memahami tentang prinsip frequensi dan energi, dimana energi dengan frequensi sejenis akan bersifat tarik menarik dan sebaliknya.
Anak, memilih kita, sebagaimana kita memilih orang tua kita, karena kesamaan frequensi energi dan jalur evolusi tersebut.
Mereka adalah teman teman seperjalanan kita, yang sama sama memecah dari kesadaran yang tunggal untuk mengalami pengalaman rasa polaritas dan keterpisahan, yang memiliki kesamaan frequensi kesadaran dan energi, itu sebab mereka bisa lahir melalui kita.
Karena untuk bisa lahir ke bumi, jiwa terlebih dahulu harus bisa menemukan jalur atau perantara, dalam hal ini orang tua, yang secara jalur evolusi dan energi sesuai dengan jiwa yang bersangkutan.
Jadi kelahiran seorang manusia lewat orangtuanya, apapun sebab akibatnya, bukanlah peristiwa kebetulan, melainkan suatu rancangan presisi antara semua jiwa yang terlibat dalam jalur evolusi tersebut.
Dalam kehidupan dibumi, jiwa jiwa tersebut biasanya akan berbagi peran sesuai dengan tujuan pengalaman rasa yang ingin dicapai.
Di panggung bumi, jiwa anak kita, bisa saja berperan dalam kisah yang lain sebagai orang tua kita, sahabat atau pasangan kita. Ini adalah bentuk keseimbangan yang perlu dialami semua jiwa untuk melengkapi pengalaman rasanya.
Karena setiap peran membawa pengalaman rasa dan pelajaran yang berbeda beda bagi semua pihak. Hal ini juga terjadi antara kita dan orang tua kita saat ini.
Sejatinya, hubungan antar manusia adalah pengalaman rasa dua arah. Agar suatu bentuk pengalaman rasa hadir menjadi realitas, entah itu pengalaman kebahagiaan, penderitaan, sedih, duka, pencerahan, dll kita perlu jiwa jiwa lain sebagai sebab akibat agar pengalaman rasa itu mewujud.
Hal ini juga berlaku dalam hubungan anak dan orang tua.
Itulah sebabnya seperti motto penuh makna spiritual di rumah belajar Semi Palar :
Menemukan Bintangku
Bahwa setiap jiwa akan menemukan bintangnya / kesadarannya lewat pengalaman rasanya masing masing.
Foto by Gemini