Ada yang pernah bertanya kepada saya, peristiwa apa dalam hidup yang paling sangat membuat saya bahagia. Ini pertanyaan yang mudah sekali tapi sangat sulit untuk dijawab. Saya bisa saja menjawab dengan sebuah jawaban cliche, yaitu ketika menyaksikan anak saya satu-satunya lahir. Hmm.. Kalau mau jujur, jawaban itu sama sekali tidak tepat. Sebab saya ingat dengan sangat detail ketika pertama kali melihat anak saya. Ketika entah suster atau dokter mengangkat bayi Kano di udara dan Kano menangis dengan kencang. Saya tidak merasa apa-apa, saya mati rasa, dunia berhenti berputar, waktu seolah-olah tidak bergerak dan pikiran saya begitu kosong. Ini detik-detik pertama kali saya berada dalam sebuah void. Bahagia? Oh betul sekali, tapi pada saat itu saya tidak bisa menggambarkan apa yang sedang saya alami. Seperti yang saya katakan, void.
Lalu kembali pada pertanyaan tadi, persitiwa apa yang paling membahagiakan. Lagi-lagi saya bingung. Saya tidak bisa memilih hanya sebuah peristiwa. Tapi mungkin akan lebih aman menjawab bahwa yang paling membahagiakan saya dalam hidup adalah hadir dan menyaksikan anak saya tumbuh. Sejak lahir hingga sekarang itu adalah peristiwa-peristiwa yang paling membahagiakan. Mengapa begitu? Karena kehadiran dia dalam hidup saya memberikan sense of purpose!
Kehidupan saya langsung berubah, bergeser dan fokus langsung tertumpu pada kesejahteraan dia! Nah itu salah satu hal bagaimana bisa menjelaskan apa sense of purpose hidup saya. Sederhana saja, ketika melihat dia jatuh, semesta seolah-olah berhenti dan tanpa banyak berpikir langsung menggapai menyelamatkan dia. Kita tidak peduli lagi dengan kondisi diri sendiri, tidak peduli pada saat itu misalnya sedang memangku laptop seharga ribuan dollar, langsung bangun dan berusaha menyelamatkan anak yang jatuh. Tidak ada apapun yang lebih penting daripada dia. Itu namanya fokus, itu namanya determinasi, itu namanya entah apa, pokoknya dia adalah segala-galanya, selain itu tidak ada lagi yang lebih penting! Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun dari kecil hingga menjadi dewasa. Itu adalah masa-masa yang terindah.
Nah, pertanyaan kedua. Peristiwa apa yang paling menyedihkan dalam hidup? Banyak sekali peritiwa menyedihkan yang kita semua alami. Kehilangan anggota keluarga misalnya, orang tua, bahkan sahabat. Saya mengalami semua itu. Menyedihkan, ada bahkan peristiwa dimana saya sangat sedih hingga hampir tidak bisa bernapas. Tapi itu bukan jawaban dari pertanyaan ini. Lalu apa jawabannya? Mungkin ini: Yang paling menyedihkan adalah ketika menyaksikan anak saya satu-satunya mulai menjauh dan memasuki kemandirian dan kedewasaan dia. Kok begitu? Bukannya itu justru membahagiakan? Itu juga! Aneh khan? Tahu mengapa? Karena saya mulai kehilangan sense of purpose!
Selama belasan tahun saya sudah begitu terbiasa memusatkan seluruh kehidupan saya untuk keberhasilan dia, well-being dia, proses belajar dia, kesehatan dia dan sebagainya, ketika tiba pada saat dia bisa melakukan segala sesuatu sendiri, disitu peran saya mulai mengecil. Terdengar sangat egois ya? Tidak juga. Menyaksikan semua itu memang membahagiakan bahwa tugas saya sudah purna, tapi pada saat yang bersamaan, saya kembali bingung. Kembali ke titik dimana segala sesuatu berhenti bergerak, kembali mengalami void. Kembali ke asal.
Peristiwa puncak kesedihan memang belum terjadi. Saya masih bersiap-siap. Sedikit demi sedikit mulai terasa, dan saya tidak tahu apakah dengan mudah dapat menghadapinya. Untungnya saya sangat yajin bahwa itu bukan melulu peristiwa yang paling menyedihkan tapi juga ada kebahagiaan hadir di sana. Jadi ya mudah-mudahan tidak buruk-buruk amat. Satu hal yang harus saya persiapkan, yaitu menemukan kembali sense of purpose hidup saya yang baru. Saya tidak bersedia terjebak dalam void!
Foto credit: npr.org