Seorang anak miskin menjajakan jualannya dari pintu ke pintu. Dia kelaparan dan berusaha menjual agar dapat membeli makanan namun usahanya tidak berhasil. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk sebuah rumah untuk minta makan, namun begitu ada seorang wanita muda membuka pintu dia kehilangan keberaniannya dan hanya berani meminta air minum. Wanita itu melihat kondisi si anak dan dia tahu bahwa anak itu kepalaran, sehingga dia memberinya segelas susu. Anak itu meminum susu perlahan-lahan hingga habis, lalu bertanya berapa dia harus membayar. Wanita itu berkata,"Kamu tidak perlu membayar apa-apa."
Bertahun-tahun kemudian, wanita muda itu jatuh sakit. Dokter setempt tidak mampu menolong sehingga dia dibawa ke kota besar dan ditolong oleh seorang dokter terkenal bernama Howard Kelly. Ketika dokter itu mendengar dari mana wanita itu datang, dia langsung menuju ruang wanita itu dirawat dan langsung mengenalinya. Wanita itu yang dulu memberi dia segelas susu ketika sedang kelaparan. Wanita itu dirawat hingga sembuh.
Ketika akan kembali ke kotanya, wanita itu menerima surat tagihan biaya perawatan. Wanita itu begitu takut membuka surat itu karena dia khawatir tidak akan mampu membayar. Ketika surat itu dibuka, dia melihat sebuah tulisan yang sangat jelas,"Telah dibayar lunas dengan segelas susu."
Kebaikan akan dibayar dengan kebaikan pula. Itu moral of the story dari cerita di atas, yang katanya merupakan kisah nyata yang terjadi di pertengahan tahun 1800-an dan sudah diceritakan kembali beribu-ribu kali atau bahkan jutaan kali.
Jaman sekarang ketika semua orang di dunia ini berlomba-lomba berusaha untuk sukses dan mulai kehilangan kepedulian pada orang lain, sepertinya usaha kebaikan menjadi semakin jarang kita saksikan. Perhatikan saja di jalan raya ketika sangat ramai dan mulai sangat sulit melihat orang yang mengalah terhadap orang lain. Ada penyeberang jalan yang terlalu perlahan, tidak jarang diteriaki orang lain. Mungkin terdengar sangat naif, tapi perhatikan para gelandangan, perhatikan peminta-minta di jalanan. Berapa banyak orang yang peduli?
Beberapa waktu yang lalu saya melihat sebuah video pendek. Seorang kurir pengantar barang berhenti di sebuah rumah yang memiliki halaman seperti panggung di depan pintu masuk. Halaman itu dipenuhi salju. Kurir itu meletakkan 2 buah paket di dekat gerbang pintu masuk dan begitu dia akan kembali ke kendaraannya, seorang wanita sudah sngat tua berjalan perlahan-lahan dan berhati-hati agar tidak tergelincir di atas salju sambil menggunakan tongkat berusaha untuk mengambil paket. Kurir itu langsung kembali dan membantu serta membawakan paket-paket tersebut sambil menuntun wanita tua tersebut kembali ke dalam rumahnya.
Beberapa saat kemudian kurir itu kembali lagi dengan membawa sekop dan sapu, mulai membersihkan jalan di depan pintu rumah wanita tua itu. Tidak hanya itu, dia menyebarkan garam agar salju dapat segera meleleh dan tidak licin supaya wanita tua pemilik rumah dapat berjalan dan terhindar dari tergelincir. Sebuah jestur yang mulia yang membuat saya terharu.
Ada banyak sekali cerita maupun video tentang kebaikan. Mengapa kita begitu tertarik akan cerita-cerita semacam itu? Apakah karena semakin hari semakin langka? Apakah jestur kebaikan merupakan hal yang begitu spesial sehingga mendapat porsi khusus?
Sekarang begini, saya ingin mengambil sebuah perbandingan yang sangat sederhana. Apakah kita terharu melihat orang membersihkan sampah? Apakah kita begitu tertarik melihat orang menyapu halaman? mengendarai sepeda motor? Menaiki kuda? Tidak bukan? Mengapa kita tidak begitu tertarik? Karena hal-hal itu sangat biasa, tidak luar biasa, sangat mudah kita jumpai dimana-mana. Apakah kita terharu ketika petugas sampah mengambil sampah dari depan rumah kita? Tidak! Mengapa? Karena itu memang pekerjaan dia. Lalu mengapa kita terharu ketika melihat seseorang membantu wanita tua menyebrang jalan? Membawakan belanjaan? Kita memuji kebaikan dia! Karena ada unsur kebaikan disana. Lalu kenapa sangat jarang kita saksikan? Saya tidak bisa menjawabnya dan saya juga tidak dapat mengharapkan orang lain untuk berbuat kebaikan. Saya punya usul. Mungkin kita yang harus memulai. Saya memulai. Lalu jika setiap orang mempunyai ide yang sama dan memulai, maka akan jadi semakin banyak, bukan begitu? Ingat moral cerita di atas, kebaikan akan dibayar dengan kebaikan. Jadi mungkin kini saatnya kita menanam banyak kebaikan sehingga kita juga akan dibayar dengan banyak kebaikan. Tapi menurut saya, sebaiknya kita berbuat baik bukan karena mengharapkan bayaran, melainkan hanya sekedar menyebarkan kebaikan, mungkin itu lebih mulia karena kita tidak mengharapkan pamrih.
Foto credit: mindsoother.com