Dua orang sedang berpelukan. Seorang anak muda berambut gondrong dengan memakai hoodie berwarna putih meletakkan kepalanya di bahu seorang wanita yang memakai pakaian rumah sakit berwarna biru. Di lengan sebelah kiri ada sebuah alat yang tertempel yang disebut PICC yang merupakan singkatan dari Peripherally inserted central catheter, yaitu sebuah selang sangat kecil, tipis yang sangat fleksibel yang dimasukan ke dalam pembuluh vena di bagian lengan atas terus menuju vena besar yang berada di bagian tengah atas jantung, namanya superior vena cava. Kegunaan PICC ini adalah untuk memasukkan infus, tranfusi darah, obat-obatan dan sebagainya langsung ke pembuluh vena.
Mereka yang berpelukan ini seperti yang sudah lama tidak bertemu, padahal baru saja semalam berpisah, ibunya masuk rumah sakit sementara si gondrong anaknya tinggal di rumah. Kemarin sebenarnya Kano, si gondrong, ingin bertemu dengan ibunya dan menunggu selama ibunya dioperasi, tapi karena jadwal operasi terlambat lebih dari 1 jam dan proses pemulihan hingga mendapat kamar di lantai 3 hampir 4 jam dari jadwal awal operasi, Kano memilih pulang karena sudah kelelahan. Saya baru bertemu Nina yang masih terpengaruh bius total hingga beberapa jam kemudian. Kemarin memang hari yang lumayan berat. Bahkan sesudah dari rumah sakit saya baru pulang lewat tengah malam karena ada tugas membantu teman.
"I think we need to go. Daddy needs a rest and you too, Mom." Kata Kano sesudah merasa cukup melihat ibunya dan merasa yakin bahwa ibunya baik-bak saja.
Nina memang terlihat segar dan baik-baik saja. Ternyata dokter benar-benar membuka kembali sayatan bekas operasi yang lalu sepanjanag sekitar 30 cm. Saat ini lukanya persis sama seperti ketika operasi pergantian lutut yang lalu. Tapi Nina terlihat biasa saja dan sepertinya proses rehabilitasi nanti juga tidak akan sesulit ketika baru pergantian lutut. Saya agak lega melihat kondisi ini.
Beberpa waktu terakhir memang saya dilanda banyak kekhawatiran, Tulisan-tulisan saya terakhir juga mengenai hal-hal ini. 3 malam yang lalu bahkan saya bermimpi buruk. Nina dan saya mengalami siatuasi yang menyeramkan. Dilanda tornado atau twister. Dalam mimpi itu Nina dan saya berada di halaman rumah ketika badai terjadi lalu angin puting beliung yang sangat besar terbentuk. Suaranya sangat menyeramkan, menderu-deru dan mendecit-decit lalu semakin lama semakin mendekati tempat kami berdua berdiri. Saya mengajak Nina masuk rumah karena angin semakin membesar dan semakin dahsyat, mengerikan. Twister pun tiba dan saya merasa rumah terangkat ke udara dan berputar-putar berada dalam kekuasaan tornado. Saya tidak ingat dalam mimpi itu apa yang terjadi kemudian. Mungkin kami terlempar dan berakhir selamat, lalu saya terbangun.
Saya tidak percaya tafsir mimpi walau dari beberapa informasi yang saya baca, jika bermimpi tentang twister, maka itu menandakan adanya rasa khawatir yang sangat besar. Dan itu benar-benar saya rasakan. Saya merasakan bahwa kondisi yang saya takuti ini mulai semakin mendekat, seperti angin tornado yang akan datang menyapu apapun yang ada dupermukaan tanah. Kebetulan saja lalu Nina mengalami masalah kesehatan. Tentu saja tidak ada hubungan sama sekali dengan mimpi saya. Bisa sih dikait-kaitksn, tapi untuk apa? Mim[pi hanyalah buah dari setumpuk koleksi pemikiran, pertarungan dan pergumulan sehari-hari, emosi, orang-orang dan tempat di sekitar yang relevan dengan saya saat ini.
Saat ini memang lumayan berat menghadapinya. Tapi segala sesuatu pasti ada akhirnya, dan sejauh ini kami dapat melewatinya sedikit demi sedikit dengan baik. Twister juga ada akhirnya kok. Nikmati saja, nanti hal-hal seru ini akan menjadi sebuah cerita seru di kemudian hari.
Foto credit: thebeardedtrio.com