Saya menghirup kopi panas yang milk art-nya berantakan. Tubuh berkeringat dengan deras, basah kuyup tapi saya merasa sangat senang karena satu rencana saya pagi ini berhasil. Tinggal rencana saya yang lain yaitu melunasi hutang-hutang menulis yang sudah beberapa hari ini sangat terbengkalai. Saya comot sepotong martabak dan mulai menikmatinya sambil berpikir apa yang akan saya tulis dalam beberapa menit kedepan. Dengan penuhnya isi otak, akhir-akhir ini saya sangat kesulitan memilah-milah dan akhirnya ide yang seharusnya muncul menjadi simpang siur dan berakhir dengan kelelahan tanpa ada hasil tulisan yang baik.
Musik tahun 90-an berkumandang, saya mengenakan kaus tangan dan mengambil sebuah pot besar berdiameter 40cm dan mengeluarkan sekarung media tanam. Pagi ini saya ingin memisahkan sebuah tanaman keladi sente hitam yang sudah terlalu tinggi dari induknya. Semakin besar semakin sulit karena akar-akar sudah menjalar kemana-mana dan semakin erat menempel pada induknya. Saya harus bisa melepaskan tanpa terlalu banyak merusak akar-akarnya agar setelah dipisahkan akan tetap hidup. Kali ini adalah yang terbesar dan terimbun yang harus saya kerjakan.
Rumput-rumput sekelilingnya saya angkat dari tanah dengan hati-hati agar dapat ditanam kembali. Lalu tanah saya gali dengan hati-hati, sambil berimajinasi sebagai seorang ahli paleontologi yang sedang menggali sebuah situs bersejarah. Harus sangat hati-hati agar tidak merusak. Hahahaha... Semakin dalam semakin muda anak pohon ini bergerak. Akar-akarnya sudah lebat menjalar ke berbagai arah, saya harus telusuri sebisa mungkin agar tidak putus dan bisa terangkat. Saya usahakan sebanyak mungkin tidak rusak atau patah. Sesudah merasa cukup banyak dan saya anggap dapat menopang kehidupan "mandiri" tanaman baru ini, saya mulai menggoyang-goyangkan agar terlepas dari induknya lalu perlahan-lahan saya tarik ke atas, saya angkat dan akhirnya terlepas.
Sementara itu pot besar saya sudah siapkan dengan setengah media tanam, saya gali sedikit bagian tengahnya karena ternyata akarnya lebih panjang dari yang saya perkirakan, lalu saya masukkan anak keladi ini dan saya timbun dengan media tanam yang masih ada di karung. Saya tekan-tekan sedikit agar dapat menjulang tegak dan kuat. selesai. Lalu saya harus membereskan lubang besar yang tadi saya gali, saya tutup denga tanah dan media tanam serta rumput-rumput saya kembalikan.
Tubuh saya basah berkeringat, sesudah semua saya bereskan, saya lepaskan kaus tangan dan duduk di kursi belakang menghadap taman dan menikmati kopi panas yang tadi sebelum bermain dengan tanaman saya buat sendiri. Kaus tangan saya simpan dan saya bisa istirahat sejenak. Jari-jari saya sama sekali tidak kotor terutama di bawah kuku, itu alasan saya menggunakan kaus tangan. Bisa hemat air untuk membersihkan tangan, dan juga menjaga kesehatan dan kebersihan diri. Saya tidak tahu apa isi media tanam itu, bisa saja kompos atau bahkan kotoran binatang yang biasa untuk pupuk.
Martabak terasa manis dan harum dalam rongga mulut. Rasa kacang dan coklatnya memanjakan titik-titik perasa di lidah. "Ini makanan mewah." Kata saya dalam hati. Saya ingat tahun-tahun lalu harus mengemudi pulang pergi setidak-tidaknya 3 jam untuk menjemput martabak terang bulan buatan salah seorang warga asal Bandung yang tinggal di kota Aurora, sebuah kota sekitar 18 menit dari Denver. Harganya tidak murah, tapi itu yang paling mendekati martabak yang umum dinikmati di Bandung. Sekarang saya bisa menikmati yang jauh lebih nikmat dengan hanya 20 ribu rupiah, hanya 1 Dollar lebih sedikit sementara di sana harganya lebih dari 10 kali lipat.
Saya pandangi tanaman yang baru saya pisahkan. Saya yakin dia akan dapat hidup di pot baru. Ada rasa senang bahwa saya telah membantu sebuah "kelahiran" mahluk baru. Nanti sesudah melewati masa penyesuaian dan terlepas dari "shock" karena mulai hidup mandiri, akan saya pindahkan ke halaman depan untuk menghiasi rumah saya. "Hmm.. ini kok seperti metafor kehidupan keluarga saya ya. Seperti Kano dan saya. Hahaha.. ada-ada saja!"