"Do you miss our old apartment?" Tanya saya pada Nina pagi tadi ketika saya mengantarkan dia ke tempat kerjanya.
"A little." Katanya pendek.
Jalanan sangat sepi. Pemandangan kiri dan kanan begitu indah, damai dan membuat hati ini begitu tergugah dengan segala keindahan itu. Padang yang sangat luas menghijau, danau yang tenang di sebelah kanan, sementara sederet perumahan yang megah di sebelah kiri diapit oleh lapangan golf yang sangat luas. Memang terlihat rapih tapi saya akan lebih suka jika semua itu pemandangan alam yang tidak tersentuh tangan manusia. Matahari memang sudah tinggi, tapi katanya hari ini hanya akan berhawa sejuk dan suhu akan di bawah 30 derajat saja. Di sana sini akan turun hujan, tapi namamya hujan di sini ya begitu-begitu saja.
Saya kemudian merasa bahwa selama 2 minggu terkahir ini hampir melupakan tempat tinggal yang lama. Sepertinya konsentrasi saya dipusatkan ke hal-hal lain. Baru pagi ini saya sadar bahwa rutinitas yang sudah biasa dilakukan selama bertahun-tahun secara drastis berubah. Apakah saya merindukan tempat lama? Sulit dijawab karena saya juga tahu walau tempat itu pernah menjadi rumah kami, tapi bukan sungguh-sungguh rumah. Itu hanya tempat kami berlindung sementara. Rumah kami adalah kebersamaan kami bertiga yang sekarang sudah berubah.
Dada saya mendadak terasa penuh. Ada perasaan yang kuat, entah kesedihan atau apa, sulit dijelaskan. Yang saya rasakan adalah kehilangan akan suatu keutuhan. Kehilangan akan kebersamaan. Sekarang kita harus membuat janji jika ingin melakukan sesuatu bertiga.
"Are you free tomorrow night?" Tanya Nina pada Kano
Itu menjadi pertanyaan-pertanyaan yang menjadi kebiasaan baru. Dulu hal semacam itu tidak pernah ada karena kami tinggal bersama. sekarang semua berubah.
Memang di satu sisi saya merasa bangga dan bersyukur bahwa sekarang Kano sudah mandiri. Kemarin saya sempat makan siang berdua diantara jam istirahat di pekerjaan. Kano libur. Dia mempunyai berbagai rencana, mempunyai jadwal dan beberapa urusan yang dia bisa atur sendiri.
"I need to make an appointment to have a haircut." Katanya pada saat makan siang.
"Sure I can take you there." Kata saya
"You can just drop me off there and I'll go home on my own." Katanya lagi.
Tempat cukur Kano memang tidak jauh dari apartemennya tapi tetap dia harus naik bus kota. Sampai sekarang dia masih belum mau mengemudi sendiri, padahal rencananya mobil milik kami akan diberikan ke dia.
"I don't have anything to do, I can wait and take you home before I go back to the office." Kata saya
Masa transisi memang tidak selalu mudah, menyesuaikan diri dengan segala perubahan juga tidak mudah walau kita memang diberikan kemampuan untuk mengikuti perubahan, tapi jika hati kita enggan untuk berubah, maka akan banyak konflik yang terjadi. Selama ini saya selalu menganggap diri saya ini sebagai seorang petualang dan ini merupakan awal dari petualangan baru. Kita tidak bisa hanya memilih petualangan yang seru-seru saja, bukan? Ini kemungkinan akan menjadi petualangan yang tidak menyenangkan, tapi saya bisa katakan bahwa ini mempiliki keseruan tersendiri.
Foto credit: earlytorise.com