AES 1182 Alam, Air dan Udara
joefelus
Sunday August 25 2024, 9:04 PM
AES 1182 Alam, Air dan Udara

Belum juga 2 minggu, saya memutuskan ikut teman-teman menghabiskan akhir pekan dengan kegiatan di luar kota yang jauh lebih sejuk dibandingkan dengan di kota. Semacam gateaway begitu lah. Setidak-tidaknya saya akan bisa menikmati udara lebih segar dan sejuk tanpa harus berkeringat siang dan malam.

Tempat yang kami datangi di sekitaran hutan pinus, memiliki semacam pondok yang terbuat dari kayu dan disekitarnya untuk pertama kalinya saya melihat tenda-tenda yang katanya sekarang menjadi salah satu kegiatan favorit, glamcamp.

"Apa itu glamcamp?" Tanya saya kebingungan. Terus terang saya belum pernah mendengar istilah semacam itu.

"Glamorous Camping. Jadi kamu kemping tapi tidak perlu menyiapkan apa-apa. Kamar mandi tersedia, tenda tersedia bahkan makan pun tersedia."

Tenda-tenda itu memang terlihat unik, tidak seperti tenda orang-orang yang biasa pergi kemping di hutan. Didalamnya terdapat tempat tidur dan sebagainya. Menarik tapi juga buat saya agak terlalu berlebihan sebab kemping itu biasanya kita menyatu dengan alam dan menikmati kehidupan di alam terbuka. Ini sih seperti tempat penginapan tapi dengan gaya kemping.

Kami bersama teman-teman memang tidak berniat untuk kemping, tapi memang ada kegiatan musik yang akan ditampilkan oleh salah seorang putra teman kami yang kebetulan diselenggarakan di tempat itu keesokan harinya. Ada bahkan beberapa artis yang katanya cukup terkenal akan tampil di situ. Buat saya tidak ada salahnya menikmati akhir pekan untuk melepas diri dari kesibukan sehari-hari, apalagi saya membutuhkan semangat karena hari Senin nanti saya akan sibuk dengan para pekerja yang akan membantu memperbaiki rumah saya.

Benar saja, malam harinya saya merasa sangat nyaman. Udara bagi teman-teman terasa begitu dingin, mereka harus mengenakan jaket bahkan penutup kepala, sementara saya yang terbiasa dengan suhu yang jauh lebih dingin merasa sangat nyaman dan cukup bercelana pendek serta kaos lengan pendek yang tidak terlalu tebal. Sangat nyaman, saya sama sekali tidak berkeringat atau merasa kepanasan.

"Ah seandainya Bandung sesejuk ini." Pikir saya. Tapi itu hanya keinginan, Bandung sekarang menjadi tempat yang panas, tidak senyaman puluhan tahun yang lalu, udaranya kotor, dan bising. Berada di luar kota di tempat yang sejuk menjadi salah satu bentuk hiburan tersendiri. Mungkin itu alasan banyak orang melakukan glamcamp, karena biayanya sangat terjangkau dan dapat mendapat selingan yang menyenangkan di akhir pekan. Kenapa tidak?

Saya mandi dengan air dingin di pagi hari. Memang rasanya seperti diguyur air es, tapi saya bersyukur dapat mandi dengan nyaman. Di Bandung saya sedang kesulitan air karena persediaan air sangat terbatas, bahkan saya harus mencuci pakaian dengan menggunakan jasa perusahaan laundry. Ini adalah satu hal yang tidak saya sukai, yaitu tergantung pada orang lain. Selama ini saya selalu dapat melakukan semuanya sendiri tanpa bantuan orang lain. Air adalah kebutuhan esensial yang tidak cukup saya miliki. Kondisi ini sangat menghambat proses adaptasi yang sedang saya jalani. Nah mandi air dingin sedingin es menjadi salah satu bentuk untuk saya syukuri. Air berlimpah adalah anugerah!

Saya duduk di sebuah meja sambil menikmati secangkir kopi. Sekelompok penyanyi mengalunkan lagu yang sangat lembut. Saya tidak mengenal dia, tapi syairnya sangat memenuhi relung hati. Seorang pria dengan perawakan yang tipis dan hampir saya pikir ringkih, mengenakan topi berwarna oranye, sweater berwarna kuning sambil memetik gitar yang buat saya bagaikan menyentil bagian-bagian dari hati yang sangat sensitif. Petikan gitar diiringi alunan cello, biola dan flute begitu harmonis dan indah. Ini akan menjadi pagi saya yang sangat menarik sesudah semalam mampu tidur nyenyak, setelah sekian lama harus bergumul dengan keringat dalam upaya penyesuaian diri dengan udara.

Saya memandang ke samping, ke perbukitan dengan pohon-pohon pinus yang berderet terlihat sangat rapih. Tempat yang berbeda, jenis pohon pinus yang juga berbeda, serta udara yang berbeda. Terbersit sebuah rasa kerinduan yang sangat mendalam, seolah-olah terbuai dalam alunan lagu pria tadi.

Rindu adalah perjalanan mengurai waktu
Menjelma pertemuan demi pertemuan
Catatannya tertulis di langit malam
Di telaga dan di ujung daun itu

Rindu mengekal menyebut nama-Mu berulang-ulang
Rindu mengekal menyebut nama-Mu berulang-ulang
Rindu mengekal menyebut nama-Mu

Saya terus memandangi pepohonan pinus yag terbentang dari kiri ke kanan, sangat rimbun dan indah. Warnanya berbeda dengan yang selama sekian tahun saya pandangi di belahan bumi yang lain. Udara sejuk dengan hembusan sepoi sepoi yang menyentuh kulit terasa agak dingin. Dingin yang berbeda. Beberapa orang berlalu lalang sebagian berdiri menyaksikan sekelompok seniman yang mengalunkan lagu melankolis itu. Bahasa mereka sangat berbeda. Saya berada di tempat yang berbeda sementara rasa rindu berada di sana begitu bergemuruh di dada, menyesakkan dan menyakitkan. Tanpa sadar saya mengusap wajah yang mulai membasah.

Saya berusaha untuk berada di sini, saya berusaha sangat keras. Tapi kondisi yang saya hadapi menghalangi usaha saya. Segala bentuk usaha seolah-olah ditantang dengan kondisi yang sulit dan harus diperbaiki. Tubuh saya memang ada di sini, tapi hati saya ditempat lain. Jasad jagat saya berada di sini tapi benak saya masih jauh belum mampu menyatu. Saya ingin hidup di saat ini, tapi pada saat yang sama menolak saat ini. Saya tidak pernah berada di sini, saya belum mampu berada di sini. Sangat berat tapi hanya satu pilihan yang saya miliki yaitu berada di sini, belajar menikmati alam, udara bahkan air yang ada di sini. Saya akan berusaha keras karena hanya itu yang saat ini saya miliki.