AES 1198 Ngobrol Seputar Kota Bandung
joefelus
Wednesday September 11 2024, 10:23 AM
AES 1198 Ngobrol Seputar Kota Bandung

Kemarin saya tidak menulis. Sepanjang hari saya masih harus berurusan dengan batuk yang tidak mereda karena mungkin keracunan asap mesin diesel yang sudah sekitar 10 hari terus mengotori udara di rumah. Saya sudah berusaha sebanyak mungkin menghindar dan lebih banyak mengeram diri di kamar, tapi namanya asap, serapat apapun kamar ditutup, udara kotor masih tetap masuk.

Eniwei, saya memiliki rasa sesal karena tidak menulis, jadi pagi ini selagi belum terlalu terpengaruh asap diesel, saya akan mencoba menulis sesuatu walau sungguh hingga saat ini saya belum memiliki ide apapun yang akan saya kembangkan.

Hampir 1 bulan lamanya sejak saya kembali ke tanah air. Banyak sekali yang saya alami yang mungkin setelah sekian tahun terlupakan dan mungkin akan menjadi obrolan hari ini berdasarkan pengalaman dan "pandangan mata" hahahaha.

Yang pertama saya rasakan adalah ketergantungan pada teknologi. Ini langsung saya rasakan begitu menginjakkan kaki di tanah air. Penggunaan telepon genggam begitu marak hingga hampir kesemua aspek kehidupan. Ini adalah fenomena yang bagi saya sangat menarik. Begitu tiba di bandara saya langsung diminta menggunakan HP untuk memperoleh QR code. Semuanya sangat berbau administrasi, hingga hal yang paling utama menurut saya sepertinya terabaikan. Contoh, saya membawa banyak sekali barang. Ada 14 koper dan ketika tiba di bandara tanah air tidak melalui security check. Yang saya harus lakukan hanya memperoleh QR lalu saya tunjukkan secara manual dengan mengacungkan HP saya dan kemudian dibiarkan lewat. Begitu saja! Bayangkan jika ada yang membawa benda-benda berbahaya, tidak ada pengawasan! Hanya administrasi yang menyatakan bahwa saya tidak membawa benda-benda berbahaya. Yang lucu juga ternyata penggunaan HP untuk memindai merupakan kegiatan "resmi" dimana-mana! Bahkan kantor pemerintah. Saya agak mempertanyakan faktor legalitasnya sebab selama ini di tempat lama saya, pemindaian dilakukan dengan cara yang lebih formal dan menggunakan alat yang lebih baik. Well, lain padang lain belalang! Oh ya, belum sebulan, HP saya sudah mulai dipenuhi dengan aplikasi dari toko makanan, geroceries, peralatan rumah tangga, hingga jasa! Luar biasa!

Pembangunan. Luar biasa! Saya terkejut ketika perjalanan saya begitu lancar dari bandara ke Bandung. Jalanan sepi! Saya pikir mungkin kondisi lalu lintas sekarang memang teratur, ternyata tidak. Yang kami lalui adalah jalan tol yang di atas, jadi seperti fly over begitu, sementara di bawah memang tetap seperti dulu, penuh bus dan truk hahaha.. Di Bandung juga demikian, saya menjumpai beberapa jalan layang yang dahulu sebelum saya tinggal di Colorado tidak ada, seperti jalan layang dekat jalan Supratman dan juga jalan layang di jalan Gatot Subroto.

Yang berikutnya, yang sudah saya antisipasi adalah lalu lintas. Yang saya perhatikan jumlah angot begitu menurun dibandingkan dulu, tapi jumlah pengguna kendaraan roda dua meningkat secara luar biasa. Saya melihat hanya di beberapa titik angkot yang ngetem terutama disaat pulang sekolah. Lalu pengendara motor online memang luar biasa banyaknya, bahkan di sekitar tempat saya tinggal ada beberapa keributan hingga ada korban luka-luka antara jasa pengantar yang menggunakan sepeda motor tradisional dan online.

Lalu lintas memang tetap menjadi masalah sejak lama, kali ini juga sama, saya tetap harus keluar rumah jauh lebih awal seperti dahulu dan pulang ketika matahari sudah tenggelam, persis sama. Mobilitas terlihat sangat padat walau jika saya katakan cepat, itu sama sekali tidak tepat karena hingga saat ini kecepatan maksimal dalam kota yang pernah saya lakukan di dalam kota hanya sekitar 60 hingga 70 kilometer/jam atau setara dengan 43 mph. Sementara sekitar 90km/jam di luar kota atau setara dengan 55mph yang perupakan kecepatan maksimal dalam kota di beberapa jalan di Fort Collins sementara highway di sana saya bisa mengemudi hingga di atas 75 mph (120km) yang biasanya sering diabaikan oleh pengemudi dan mereka mengemudi kadang di atas 100mph atau di atas 160km/jam.

Mobilitas yang ingin saya ketengahkan bukan soal angka seperti yang saya ungkapkan di atas, melainkan dengan tingkat kepadatan seperti di Kota Bandung ini, mobilitas terasa lebih cepat karena sama sekali tidak ada perasaan santai. Nah ini yang bagi saya begitu terasa. Saya sempat ke luar kota yang hanya berdekatan dengan Bandung. Begitu tiba di rumah yang saya rasakan adalah kelelahan. Kelelahan itu terjadi semata-mata karena saya tidak dapat menikmati perjalanan. Yang biasa saya mengemudi dengan santai, bersenda gurau, bahkan ikut bersenandung mengiringi musik di kendaraan, saat ini saya belum bisa. Kemungkinan besar karena saya masih menyesuaikan diri dengan kepadatan lalu lintas di sini yang relatif lumayan chaotic hahaha...

Bandung memang kota kuliner! Entah sudah berapa banyak tempat baru yang sudah saya datangi, terakhir bahkan saya berjumpa dengan sahabat lama, kakak dari Smipa dan salah seorang orang tua murid. Saya pencinta makanan dan tidak keberatan mencoba hal baru seaneh apapun (Kecuali seblak! Saya masih belum menerima kreatifitas ini hahaha) Saya sudah mencoba banyak sekali makanan tradisional di banyak cafe, hingga hamburger yang konon mendapat review sangat baik dari Bloomberg dan didaulat sebagai salah satu burger terbaik di dunia. Saya sangsi dan sudah saya buktikan bahwa burgernya biasa saja dan proses menyiapkannya mendapat angka merah dari saya! hahahaha.. Banyak burger lokal di kota saya dahulu yang jauh lebih baik dari itu, dan yang jelas proses menyiapkannya tidak berbahaya seperti di sini hahaha.. Maksud saya, untuk ukuran restoran (bukan penjaja makanan pinggir jalan), proses menyiapkan makanan seharusnya memiliki standar sanitasi dan higienis yang baik. Karena saya mengeluarkan uang jauh lebih banyak sehingga sudah selayaknya mendapat pelayanan yang jauh lebih baik dari makanan kaki lima. Terutama soal kebersihan!

Eniwei, soal makanan saya bisa menulis buku tebal karena memang saya memiliki ketertarikan yang luar biasa tentang ini. Indonesia, atau mungkin saya kecilkan ruang lingkupnya sebatas Bandung, sangat identik dengan "kekerenan". Lihat saja disain penyajian yang sangat mewah saya lihat dimana-mana. Soal produk nanti saya bahas belakangan, tapi yang jelas disain ruangan, disain tempat penyajian sangat mewah! Ini yang jarang saya lihat di kota saya dahulu. Bahkan di kedai kopi langganan saya, pastry dan kue-kue yang kualiatasnya sangat baik hanya ditumpuk begitu saja, berbeda dengan di sini, satu produk dipajang seperti perhiasan berharga! Tentu saja saya kagumi karena ini sangat menarik untuk dipandang dan mengundang selera. Untuk ini saya beri acungan jempol sebanyak yang saya miliki! Hahaha..

Nama! Nah ini juga luar biasa! Menggunakan bahasa asing menjadi fenomena yang menarik walau kadang terkesan memaksakan dan salah penggunaan maupun pelafalannya hahaha.. Mungkin dengan menggunakan istilah asing, maka harga dapat di-mark up jauh lebih tinggi. Kalau kopi susu gula aren hanya seharga 18 ribu Rupiah, tapi jika Traditional Café au lait, maka mereka dapat menghargai 35 ribu Rupiah Hahahaha.. Dua-duanya sama, gula aren diganti dengan kata tradisional, sementara Café au lait adalah kopi susu! Karena arti dari Café au lait sendiri adalah kopi dengan susu!

Mungkin karena saya pulang dari belahan Barat, maka saya lebih tertarik pada makanan tradisional. Saya sama sekali tidak tertarik pada pasta atau steak. Untuk itu saya sudah puas sementara di sini sangat overrated. Saya berkecimpung dengan food bisnis, jadi jika saya akan makan maka saya mempunyai cara berpikir unik, seperti food cost dan preparation, appearance, tastes dan sebagainya. Jadi memang sangat rewel!, Tapi jika makanan tradisional, saya menghargai proses pembuatannya sehingga apresiasi saya jauh lebih tinggi. Terus terang karena walau saya sudah mencoba banyak makanan manca negara, perut saya tetap kampung hahaha, jadi saya lebih memilih nasi bakar atau nasi gulai jengkol dengan rendang daripada Spaghetti aglio e olio yang aslinya berasal dari Napoli, Italia. Saya tidak mau membayar 50 ribu hanya untuk makan spaghetti dengan minyak jaitun, bawang putih, cabe bubuk dan parsley! Lebih baik saya membuat sendiri. Itu resep asli Spaghetti aglio e olio! Tanpa daging maupun keju! Daripada itu lebih baik makan nasi bakar cakalang yang harum karena daun kemangi dan bumbu-bumbunya banyak, ikan cakalang yang sedap rasanya serta taburan petai! Ini harganya hanya setengah dari spaghetti yang tidak ada isinya kecuali pasta dan minyak!

Tuh khan sudah jadi kepanjangan, apalagi urusan makanan. Saya akan sambung saja khusus soal makanan nanti. Di tulisan sendiri. Yang jelas, saya belum genap 1 bulan di Bandung, masih sangat banyak yang akan saya alami. Sekarang saya masih menikmati masa bulan madu dengan hal-hal seru, miris, nikmat dan keluar-biasaan kota Bandung tercinta yang tidak akan pernah dapat habis diceritakan!