Aku memiliki ketertarikan tersendiri terhadap musik keras. Musik yang katanya mengganggu, memekakkan telinga, diasosiasikan dengan kekerasan dan hal kurang baik lainnya.
Aku ingat pertama kali aku mendengar musik itu, dulu seorang sahabatku di kelas 1 SD membawa walkman tape dan berbagi earphonnya denganku, Sanya kecil menemukan sensasi yang berbeda kala itu, sesuatu yang membuatku tertarik dan bersemangat tapi entah apalah itu yang kutahu aku menyukainya. Lagu With You, dari album pertama Linkin Park.
Cerita berlanjut sampai aku duduk di bangku SMP rupanya intensitas ritme keras itu menjadi lebih tinggi, dari musik rock ke metal. Tahun 2000 awal teknologi internet sudah mulai menjangkit anak-anak usia labil sepertiku, menghabiskan waktu di warnet beberapa jam dalam seminggu, mencari band terpopuler di luar sana yang masih belum familiar di sini. Sampai berangkat ke Jakarta menjadi satu dari ribuan orang yang bersorak ramai bersama musisi idolanya.
Kata orang tuaku biarlah ini hanyalah sebuah fase, seorang remaja yang sedang mencari jati diri.
Lama kutinggalkan dunia itu, belakangan aku rindu perasaan bersemangat yang kudapat dari mendengarkan musik keras. Lucunya semesta seolah memberi jalan mengulang cerita yang belum usai band-band favoritku kala itu datang membawa kejutan. Mereka melakukan tur dunia. Terlepas apapun alasannya mereka kembali membawa ingatan segar yang sejenak yang pernah aku lupakan.
Kalau dipikir saat ini usia ku kurang lebih sama dengan mereka dulu saat menciptakan lagu. Perlahan aku mengerti apa yang sebenarnya ingin mereka sampaikan, apa yang ingin mereka ungkapkan. Dari sekedar dulu hanya menyukai tanpa alasan yang terang sekarang aku mengerti. Lagu yang sama sekarang memiliki pemahaman yang berbeda.
Aku sadar ini bukanlah suatu fase, ini merupakan suatu media reflektif dalam hal ini musik keras menjadi suatu katalis, jembatan penghubung antara kerasnya isi kepalaku dengan kerasnya suara untuk didengarkan. Kerasnya suara dapat kudengarkan, suara menjadi media konkret tidak seperti isi pikiran yang abstrak dalam ruang hampa.
Bisa jadi aku menyukainya karena mereka berani menyuarakan pemikirannya dengan lantang. Bisa jadi aku menyukainya karena mereka merasakan hal yang sama sepertiku namun mereka sanggup mengutarakannya tanpa berpikir bagaimana penilaian orang lain terhadap mereka. Bisa jadi aku menyukainya karena merekalah bentuk alter egoku yang selama ini aku harapkan aku sanggup melakukannya.
Mereka menjadi diri mereka sendiri. Itulah hal yang paling aku dambakan. Suaranya begitu mentah dan jujur, semua instrumen mengalun bagai orkestra tanpa batasan. Kisah mereka tersampaikan dalam bentuk apa adanya.
Katanya teriakan diibaratkan sebagai perasaan jauh yang tidak terdengar, perlu berteriak agar perasaan yang diutarakan sampai pada seseorang yang dituju. Ya aku merasakan teriakan itu tapi tidak dapat aku utarakan. Mereka mewakiliku melakukan semuanya.
Untuk mereka yang tidak menyukainya, kupikir ada yang lebih dalam dari sekedar tidak suka. Bisa jadi mereka tidak terbiasa mengutarakan sesuatu dengan gamblang dan berani. Bisa jadi mereka terpaku pada norma sosial untuk tidak menyuarakan kebenaran. Bisa jadi mereka terbiasa untuk bungkam. Bisa jadi mereka merasa kecil dan tak berdaya, adanya ‘kekacauan’ berkorelasi dengan ketidakpatuhan. Bisa jadi mereka hanya dapat memendam, mengubur semuanya atas nama ketidaksesuaian.