Pukul 8:39 malam. Matahari baru saja terbenam, belum benar-benar gelap, dan masih terlihat warna jingga di ufuk sebelah barat di belakang deretan pegunungan Rocky Mountains. Saya sedang mengemudi pulang sesudah seharian berkumpul dengan teman-teman yang kebanyakan ibu-ibu warga Colorado. Musik di kendaraan sengaja saya putar kencang-kencang, kebanyakan lagu-lagu oldies yang biasa ayah saya putar di pagi hari ketika saya masih kecil. Petang ini saya merasa begitu gembira sesudah menjalani hari yang sangat menyenangkan.
Sejak bangun pagi memang saya menghabiskan sebagian waktu di dapur. Saya harus menyiapkan makanan untuk konsumsi di rumah sebelum kemudian pergi ke acara kumpul-kumpul di mana saya bertanggung jawab menyiapkan sate. Sebelum itu, tentu saja urusan rumah tangga harus didahulukan. Saya menyiapkan buncis yang di tumis dengan saos black beans dan masakan kedua adalah ikan tilapia yang dimasak dengan paprika, bawang bombay dan thai basil. Buncis paling mudah dibuat karena saya hanya sedikit merebus hingga agak empuk, lalu ditumis dengan saos black beans botolan dan bawang putih. Selesai tidak lebih dari 15 menit sudah termasuk merebus. Ikan tilapia (sejenis mujair/gurame) fillet saya taburi tepung, dibumbui, dan digoreng sementara saya menyiapkan bawang bombay, cabe paprika dan bawang putih, serta daun thai basil yang sudah saya petiki. Saos yang saya gunakan adalah campuran antara gula, kecap asin, saos tiram, dan air jeruk lemon. Semua masakan selesai tidak lebih dari 1 jam. Lalu saya mandi dan menunggu waktu dijemput oleh sahabat saya untuk ke acara kumpul-kumpul di rumahnya.
Begitu tiba di rumahnya, saya langsung membuat bumbu sate. Satenya sendiri sudah saya tusuki kemarin dan sebelumnya sudah saya beri bumbu perendam sehari sebelumnya. Hari ini tinggal membuat bumbu sate dan membakar tapi masih akan menunggu hingga ketika para tamu tiba, agar sate dapat disajikan ketika masih panas dan segar.
Para tamu yang kebanyakan ibu-ibu yang heboh kemudian berdatangan dengan membawa berbagai macam jenis makanan. Ada pempek Palembang, bihun goreng, sambal goreng kentang, rujak, mie ayam, bala-bala, perkedel jagung, bubur kacang, risoles, martabak mini, nagasari, pisang goreng, dan banyak lainnya. Orang Indonesia memang senang berpesta dan jika berpesta, walaupun pesertanya kurang dari 15 orang, makanan yang tersedia cukup untuk 100 orang!
Begitulah orang Indonesia di rantau. Kadang kami mengundang teman-teman dari tempat kerja yang rata-rata orang bule. mereka begitu terheran-heran ketika di akhir pesta kami menyiapkan kotak-kotak, ziploc dan kantong keresek agar mereka dapat membawa makanan pulang. Orang-orang di sini sepertinya tidak pernah pulang dari pesta membawa pulang makanan.
"I love going to Indonesian parties because we never go home empty-handed! Indonesian people are so generous!" Komentar hampir semua teman-teman kami.
Kalau dipikir-pikir entah sudah berapa banyak sate yang pernah saya buat di kota ini. Saya yakin setidak-tidaknya sudah lebih dari 2000 tusuk. Pesta hari ini saya membuat sate yang paling sedikit jumlahnya, hanya sekitar 160-an tusuk saja. Biasanya saya membuat lebih dari 300 tusuk!
Dalam perjalanan pulang, saya melalui jalanan yang sangat sepi dikelilingi oleh padang dan lapangan yang sangat luas. Keindahan semacam ini yang selalu membuat saya jatuh cinta pada kota tempat saya tinggal saat ini. Dan mengetahui bahwa ini hanya sementara, membuat saya begitu sedih. Saya berusaha menghapus perasaan ini sebab saya sadar ini menjadi penghalang kebahagiaan dan mencegah saya untuk bisa menikmati suasana seperti ini sebaik-baiknya. Saya perhatikan padang-padang mulai ditanami jagung. Daun-daun yang masih hijau baru tumbuh kurang dari setengah meter. Sapi-sapi gemuk sudah mulai duduk bergerombol untuk istirahat sesudah seharian berkeliaran di padang rumput. Beberapa ekor kuda juga mulai berjalan menuju kandang mereka. Tidak ada manusia sama sekali yang saya lihat karena saya satu-satunya yang mengendarai mobil di jalan yang luas tapi kosong ini. Kegembiraan ini tidak menghalangi saya ikut bersenandung. Ah, benar-benar hari yang sangat menyenangkan.

"Mas, ini sate yag paling enak di Nothern Colorado!" Kata beberapa otrang ibu-ibu. "Bahkan lebih enak dari satenya Ibu anu." Sambung mereka lagi. Ibu anu konon merupakan pembuat sate yang dianggap paling enak dan menerima pesanan untuk setiap pesta yang ingin menyajikan sate. Wah, saya merasa tersanjung. Apalagi yang mengatakan itu adalah ibu-ibu yang mempunyai bisnis catering, jadi pendapat mereka itu tidak main-main.
Saya hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih atas sanjungan mereka. "Buka PO dong, Mas!" kata salah seorang ibu sambil menggigit sate. "Hahaha.. engga ah. Saya cuma senang masak buat acara ngumpul-ngumpul, bukan buat penghasilan." Kata saya. Masak memang selalu membuat saya gembira. Ini hobby yang bisa menjauhkan saya dari berbagai perasaan negatif. Mungkin saja hari ini begitu menggembirakan karena saya menghabiskan banyak waktu libur akhir pekan ini dengan melakukan kegiatan yang saya sukai, yaitu masak. Hmm... apa mungkin saya perlu ganti pekerjaan sebagai tukang masak sehingga saya bisa melakukan pekerjaan yang saya cintai setiap hari? Ini sepertinya perlu dipertimbangkan hahahaha....