Beberapa hari ini, atau lebih tepatnya hampir seminggu ini aku nggak nulis apa-apa. Bukan karena sibuk rebahan atau jadi filsuf dadakan yang merenungkan hidup, tapi karena lagi bikin bot Twitter. Aku bakal ceritain soal itu di AES lain, jadi sekarang kita fokus dulu ke topik utama: Imlek. Sebelumnya, Gong Xi Fa Cai! (Walaupun ini telat beberapa hari, hahaha). Maklum, nulis juga butuh effort dan kadang otak ini nggak sinkron sama niat baik yang udah ada.
Jadi sehari sebelum Imlek, aku pergi ibadah ke rumah nenek buyut aku di Cicaheum. Ini udah kayak tradisi keluarga tiap tahun yang beda adalah, biasanya pihak keluarga aku jarang bisa datang karena mami aku kerja di Papua. Jadi seringnya, kehadiran keluarga aku diwakili sama om aku. Begitu sampai, suasananya langsung berasa kental banget sama nuansa Imlek. Rumah nenek buyut rame penuh sama keluarga besar yang lagi ngariung (bahasa Sundanya berkumpul). Aku yang biasanya lebih sering ketemu mereka di grup WhatsApp keluarga, sekarang akhirnya ketemu langsung.
Yang menarik dari ibadah ini adalah banyaknya sesajen. Aku ngelihat ada beras, nasi, ikan, ayam satu ekor, dan lilin. Awalnya aku sempat mikir, “Ini buat makan bareng atau gimana, ya?” Tapi karena aku nggak mau jadi orang yang banyak tanya, aku langsung ikut alur aja. Aku pun ambil dupa, terus berdoa dan naruh di atas beras yang ada di meja persembahan.
Setelah ritual ibadah selesai, tibalah di bagian paling aku suka yaitu makanan. Karena ya gimana pun juga kalau udah acara keluarga besar gini, makanan selalu jadi highlight utama. Ada banyak banget makanan khas Imlek, dari mulai ayam, ikan, kue keranjang, sampai camilan yang kalau dimakan bisa bikin perut kembung tapi hati bahagia. Aku pun langsung ambil piring dan mulai mengisi dengan penuh perhitungan, biar bisa mencicipi semuanya tanpa terlihat terlalu rakus.
Momen makan-makan ini juga jadi waktu di mana aku akhirnya bisa ngobrol lebih banyak sama keluarga yang jarang aku temui. Dari obrolan santai, nostalgia masa kecil, sampai pertanyaan-pertanyaan wajib khas keluarga besar:
“Sekarang sibuk apa?”
“Kapan punya pacar?”
“Masuk Unpad aja !”
Aku yang udah terbiasa dengan serangan pertanyaan semacam ini cuma bisa senyum sambil pura-pura sibuk ngunyah. Teknik menghindari pertanyaan yang udah diwariskan turun-temurun. Setelah perut kenyang dan hati senang, akhirnya aku pulang dengan rasa puas. Imlek kali ini mungkin nggak jauh beda dari tahun-tahun sebelumnya, tapi tetap punya cerita tersendiri yang bikin aku senyum-senyum sendiri pas di jalan pulang. Dan yah walaupun telat, sekali lagi: Gong Xi Fa Cai! Semoga tahun ini banyak rezeki, banyak kebahagiaan, dan yang paling penting, banyak makanan enak lagi di Imlek tahun depan!