AES 1224 Keputusan
joefelus
Thursday October 24 2024, 9:40 PM
AES 1224 Keputusan

Jean-Paul Sartre, seorang filsuf Perancis, berpendapat bahwa kita, manusia, ditakdirkan untuk bebas, "We are condemned to be free". Kita memiliki kemampuan yang unik untuk membentuk hidup kita melalui berbagai keputusan yang kita buat setiap hari, bahkan ada yang pernah berkata, dan seingat saya pernah saya tulis beberapa tahun yang lalu bahwa setiap hari manusia membuat kurang lebih 35 ribu keputusan. Dari kita mulai membuka mata di pagi hari langsung pada detik itu pun kita dituntut untuk membuat keputusan, langsung bangkit dari tempat tidur atau akan menarik selimut melanjutkan tidur kita. Jika tarik selimut, berapa lama lagi kita akan berbaring? Apakah meraih telepon genggam di samping tempat tidur atau tidak, menyalakan lampu atau tidak? Dan sebagainya, dan sebagainya. Kalau dipikir-pikir berat sekali ya hidup kita karena setiap hari harus bergumul dengan pengambilan keputusan.

Mangambil keputusan itu seringkali melelahkan. Beberapa bulan terakhir ini saya merasakan itu. Untuk memperbaiki rumah yang sedang saya tempati ini tidak lepas dari berbagai keputusan. Akan memperbaiki lalu ditempati? Dibiarkan saja dan dijual? Itu pertanyaan awal. saya mengambil keputusan untuk memperbaiki sebab ini rumah pertama saya dan dibangun dari nol ketika daerah saya masih kebun dan pemandangan masih sangat indah, rumah ini punya nilai emosional yang tinggi walau dari 30 tahun sejak dibangun saya hanya menempatinya selama 8 tahun, sisanya ditempati orang lain. Rumah ini sangat berarti bagi saya, bahkan ada dinding yang memang dikhususkan untuk merekam ketinggian Kano. Penuh dengan garis-garis ditulis dengan pensil maupun ballpoint. Di situ ada tanggal pengukuran dan tinggi badan Kano. Sepertinya tidak rela untuk melepas diniding ini. Bahkan setelah diputuskan untuk diperbaiki, saya akan biarkan dinding ini tidak disentuh, kotor juga tidak apa-apa karena itu catatan sejarah! hahaha.. Nah itu sebuah keputusan yang sudah saya ambil.

Mengapa mengambil keputusan itu melelahkan? Keputusan itu sendiri netral, iya atau tidak, positif atau negatif, yang melelahkan adalah prosesnya! Memperbaiki rumah itu sangat rumit. Mau diapakan? Siapa yang nanti mengerjakan? Berapa anggarannya? Itu semua keputusan besar. Lalu mulai pada hal-hal detail. Desain, keramik? Wastafel, kran air, shower head?, panjang sekali daftarnya. Pemborong pastinya sakit kepala dengan keinginan saya yang sering berubah-ubah.

Mengambil keputusan merupakan proses belajar. Tidak mudah dan tidak jarang kita merasa kecewa dengan hasil keputusan yang kita ambil. Tapi ada beberapa hal yang saya pelajari, yang pertama saya kemudian mengerti bahwa selama ini saya seringkali menghabiskan waktu dan terjebak dalam mengambil berbagai keputusan sepele. Ini yang harus selalu saya ingatkan pada diri sendiri dan perlu diperbaiki agar lebih efisien. Kedua untuk mempermudah mengambil keputusan saya belajar untuk memfokuskan pada keputusan besar yang biasanya dapat mengeliminasi berbagai keputusan kecil-kecil dikemudian hari. Jika saya memutuskan membuat kanopi di bagian void antara dapur dan garasi, maka saya tidak akan perlu lagi memikirkan membuat saluran air di garasi untuk menghindari kerusakan keramik, rel pintu yang karatan karena air dan sebagainya. Itu salah satu contohnya.

Saya juga belajar menggunakan waktu dengan efisien. Mengevaulasi kembali keputusan besar membutuhkan waktu dan juga akan berakibat pada rentetan keputusan-keputusan kecil. Sesudah mengambil keputusan, bukan berarti kita selesai dan tidak perlu meninjau ulang. Sebagai manusia, kita tidak sempurna, demikian juga dengan keputusan-keputusan yang sudah kita ambil.

Yang terakhir, sisihkan waktu untuk mengapresiasi diri kita sendiri. Kita mempunyai kemampuan mengambil keputusan, kita mempunyai kebebasan memilih dan itu yang menjadikan kita manusia.

Foto credit: themandarin.com.au