Hidup adalah udunan, demikian tulisan di tembok bawah jembatan layang pasupati. Beberapa tahun lalu, gak tau apakah sekarang masih ada. Udunan juga seringkali diucapkan dengan istilah pete-pete.
Dengan ilmu cocoklogi cocok lagi, lagi cocok aja. P(pe) pertama adalah Peka. Dengan kepekaan diri sekaligus kepekaan lingungan yang menyala secara simultan, menemukan minat kesukaan diri.
P(pe) kedua adalah pandai. Minat tanpa kecerdasan hanyalah peniruan. Kesukaan tanpa ketekunan hanyalah alasan. Pandai kan soal menyalanya kecerdasan dan ketekunan, yang kalau sudah sampai tingkat intuitif jadinya pintar.
Bisa jadi, itu kali ya sejarahnya muncul sebutan orang pintar. Cerdas sekaligus tekun yang menyala simultan hingga tingkat intuisi. Tanpa minum yang tolak-tolakan, orang pintar langsung tahu apa yang perlu dilakukan.
Okelah balik lagi, ke T(te) yang pertama adalah terampil. Sudah peka, sudah pandai, enggak terampil. Yhaaa... Overthingking deh. EH, over-thought-ing. Gak ada itu yang namanya overthink, yang ada underthink.
Karena thinking ability rendah, thoughts jadi gak kecerna. Menumpuk deh kayak debu di gudang ratusan tahun gak dibersihkan. Lalu kenapa yang terkenal si overtingking? Mungkin karena pengucapan overtoting kurang enak.
Demikianlah diperlukan T(te) yang kedua, adalah terbatas. Bebas adalah soal menentukan batas. Kalau gak dibatasi komitmen dan konsekuen secara konsisten, katanya akan beda dengan nyatanya. Lalu terjebak pengulangan.
Dimana-mana, gak kemana-mana. Ngapa-ngapain, gak jadi apa-apa. Makanya perlu pembatasan. Segini, di sini, sampai sini, begini, untuk saat ini. Ini sebesar apa? Sebesar kemampuan pete-pete masing-masing lah. ^^