Pernah di satu kelas TCM guruku meminta kami mengingat satu memori indah di masa kecil, tapi aku lupa apa konteksnya beliau meminta itu dan untuk apa, karena saat pikiranku tergerak mencari, seketika itu juga aku terhadang tembok besar yang tak tertembus. Aku tak bisa mengingat satu pun kenangan indah masa kecilku, dan perasaanku saat itu bagai berada dalam ruang gelap dan hilang. Tiba-tiba rasanya semua gelap, aku pun menangis.
Sisa kelas pun terlalui dengan perasaan yang tidak enak. Seusai kelas aku menghampiri guruku dan mencoba bertanya 'Why can't I remember a single happy memory of my childhood ?', namun pertanyaan itu malah kembali membuatku menitikkan air mata. Beliau kemudian menatap dengan matanya yang teduh, lalu sedikit mengembangkan senyum dan berkata, 'I know...I know...'
Pertanyaan yang tak terjawab itu membuat aku tak bisa tidur semalam-malaman. Bagaikan memukul di tempat yang tepat, pertanyaan itu memicu robohnya tembok besar penghalang yang kutemui. Semua memori tak menyenangkan pun terputar ulang seperti tayangan filem di kepalaku tanpa henti, sehingga aku pun keluar dari kamar.
Kata demi kata pun jadi cerita yang mengalir keluar beriring derasnya air mata. Di saat itu kesedihan begitu terasa dan sesekali diselingi rasa marah pada keadaan atau seseorang yang termuat dalam ceritanya.
Membaca ulang tulisanku sendiri pada malam itu seperti melepaskan diriku dari kemelekatanku dalam setiap ceritanya. Untaian cerita itu membantuku melihat rangkaian keterhubungan antara satu keadaan dan keadaan lain dalam hubungan sebab akibat, yang memunculkan pemahaman baru atas situasi yang sama. Meski demikian proses panjang semalaman itu tetap saja tak membuatku berhasil menemukan apa yang kucari.
Beberapa waktu berselang dari momen itu, di akhir sebuah kelas yoga, aku berbaring dalam savasanaku. Aku pun lagi-lagi lupa apa yang jadi cerita guruku saat itu, namun tiba-tiba saja aku mengingat sesuatu. Bayangan gambar-gambar samar ketika aku kecil sedang makan bersama keluargaku di restoran pun tiba-tiba muncul. Laksana mata air terpancar yang menyembur keluar, mataku basah olehnya, namun rasanya bahagia karena telah menemukannya.
Apapun bisa jadi pemicu, sekecil dan sesederhana apapun itu. Ketika saatnya tepat dan orangnya pun siap, maka sebuah pintu pun terbuka dan disusul pintu-pintu lainnya. Bagai bola salju yang terus menggelinding kian besar, area yang dilewatinya kian luas dan kian terbuka. Makin terang.
There are no coincidences, only signs of alignment.