In tears she poured out words with a faint voice,
lamenting her sad woe, as when the swan
about to die sings a funereal dirge. ("The Story of Picus and Canens")
Di luar hujan rintik-rintik, suaranya bersaing dengan bunyi AC portable yang berada di samping tempat tidur saya. Pagi ini begitu damai, suara burung di musim semi mewarnai pagi setelah sekian lama senyap, terutama di musim dingin yang terasa sangat sunyi. Kini suara kehidupan bagaikan alunan melodi menghiasi pagi yang sejuk mendekati dingin ini.
Rencananya saya akan lari pagi karena selama 2 hari mendatang Gym di kampus akan tutup untuk perbaikan. Saya perlu mengisi waktu dengan olahraga agar kebugaran tetap terjaga. Terpaksa rencana saya batalkan. Saya hanya berbaring dan memandangi layar kecil HP. Ada seorang pria sedang bermain piano di lobby sebuah airport lalu ada seorang gadis datang dan bertanya apakah dia boleh bermain besamanya. Pria itu mengangguk dan gadis itu menyiapkan alat musiknya, sebuah cello. Lalu mereka berdua bermain. The Swan! Komposisi yang sangat indah diciptakan oleh Camille Saint-Saƫns untuk The carnival of the animals. Tanpa terasa saya mulai meneteskan air mata. Seluruh emosi saya meluap. Saya membiarkan air mata mengalir walau mata saya terpejam menikmati lagu yang indah ini.
Saya langsung teringat akan sebuah cerita mitologi Yunani, tentang seekor angsa yang akan dikorbankan untuk dewa Apollo. Menjelang kematiannya dia menyanyikan sebuah lagu yang amat sangat indah. Lagu menjelang kematiannya!
Saya kemudian membayangkan sebuah tarian ballet walau bukan pencinta maupun penikmat karena saya sungguh-sungguh tidak mengerti. Selama ini saya hanya membayangkan seseorang berpakaian putih menari sambil berjinjit. Membayangkankan kesakitan atau cidera pada buku-buku jari kaki karena posisi menari yang menurut saya sangat aneh. Saya akui bahwa tarian ballet itu indah, tapi saya hanya mampu menikmati sejenak, sesudah itu kehilangan minat. Semata-mata karena tidak mengerti.
Tapi pagi ini lain lagi ceritanya! Saya membayangkan penari itu, yang berpakaian putih seperti angsa yang anggun, pendiam dan bergerak dengan halus dan indah tapi menuju kematian. Itu yang saya bayangkan tentang angsa walaupun binatang ini bagi saya menakutkan karena pernah punya pengalaman di masa kecil. Saya berusaha menghapus pikiran itu. Pagi ini yang ingin saya tampilkan adalah keanggunan, keheningan, ketenangan dan harmoni. Begitulah seekor angsa yang berada di danau dalam lamunan saya.
Agak aneh sebetulnya. Angsa-angsa di masa kecil saya begitu berisik dan berceloteh serta galak. Seperti pernah saya ceritakan tentang ketakutan saya pada 2 binatang yaitu ular dan angsa. Ketika kecil saya pernah dikeroyok angsa. Mungkin ada 10 atau lebih dengan kepala mereka terjulur siap menyerang sementara saya berada disudut bangunan dan tidak ada jalan keluar. Pengalaman itu mengganggu saya seumur hidup, hingga saat ini saya selalu menghindar sejak di musim gugur hingga musim semi, bebek-bebek Canada yang bentuknya mirip angsa tapi berwarna abu-abu dan jumlahnya ribuan "mengunjungi" kota saya untuk kawin dan berkembang biak. Kebanyakan mereka kembali ke utara di akhir musim dingin tapi sebagian yang bertelur tetap tinggal untuk mengerami dan menetaskan lalu membesarkan anak-anak mereka hingga musim dngin mendatang ketika gerombolan yang lain kembali lalu terbang bersama-sama kembali ke utara. Nah berbeda dengan angsa-angsa di Indonesia, di sini mereka sangat anggun, pendiam dan terlihat sangat pongah di danau. Bergerak tanpa suara, sangat halus dan terlihat sangat menikmati kedamaian.
Musik terus mengalun dan pikiran saya melayang-layang dari seekor angsa yang sedang meluncur di danau yang sunyi dan indah lalu ke kesedihan yang mencekam ketika angsa itu menari dan bernyanyi menjelang kematiannya. Sebuah metafor yang sangat mencekam antara keindahan dan kegelapan.
Mau tidak mau saya mulai berpikir mengenai kematian. Menurut salah satu dokter bernama Dr. Ajmal Zemmar apa yang dialami seseorang menjelang kematiaannya itu tidak mungkin diketahui, tapi jika kita berusaha mendalami phylosophical realm, dia bersepekulasi bahwa kemungkinan orang itu menelusuri kembali kehidupannya, flashback, mengingat kembali semua keindahan yang pernah dialaminya lalu menutup mata dan menghadap yang Ilahi.
"If I were to jump to the philosophical realm, I would speculate that if the brain did a flashback, it would probably like to remind you of good things, rather than the bad things,"
Suara cello itu menyanyat-nyayat isi hati saya. Kematian seringkali menakutkan karena ketidaktahuan kita akan apa yang ada di sebelah sana.
"Kita harus banyak berbuat baik, Mas. Walau kita banyak kesalahan mudah-mudahan berimbang sehingga setidak-tidaknya kita bisa masuk ke Sorga walau di level yang paling rendah!" Kata sahabat saya yang mempercayai bahwa sorga mempunyai 7 tingkatan.
Saya yang memang bandel selalu berkata," Saya tidak mau ke sorga yang tingkat paling tinggi. Apa serunya hidup bersama para petapa, santo-santa dan orang-orang suci. Mungkin level paling rendah penuh keseruan karena isinya orang-orang seperti kita ini yang bandel-bandel. Hahahaha.." Begitu saya selalu bercanda. Tidak hanya sekali karena kami sahabat yang sangat dekat, hampir setiap akhir pekan kami pergi ke luar kota walau hanya sekedar mengunjungi kedai makanan enak atau hanya menemui kerabat lainnya.
Pagi ini gurauan itu membuat saya ketakutan! Sepertinya tidak baik mentertawakan kematian, mempermainkan sorga. Seandainya saya menjadi seekor angsa yang menjelang menghadapi kematian, apa yang akan saya perbuat? Apakah berseloroh dengan kenakalan saya tentang sorga? Sepertinya tidak. Saya akan lebih suka membayangkan perjalanan hidup saya sejak kecil hingga menjelang akhir. Mengingat kembali wajah-wajah orang-orang yang saya cintai, wajah-wajah orang-orang yang telah menghiasi hidup saya dengan berbagai pengalaman yang luar biasa. Wajah-wajah mereka yang selalu mendampingi saya ketika menghadapi banyak kesulitan. Wajah-wajah yang menemani saya ketika merayakan kegembiraan.
Menjelang akhir lagu, saya masih memejamkan mata. Tanpa sadar saya mengusap wajah saya yang basah. Saya bukan angsa itu, dan mudah-mudahan belum saatnya untuk meyanyikan lagu yang indah seperti ini. Saya masih punya waktu untuk berbuat baik, meminta maaf dan menyayangi orang-orang yang ada di sekeliling dan menemani perjalanan hidup ini. Ya, saya masih punya waktu dan akan menjalaninya dengan sebaik mungkin!
Foto credit: scottish-country-dancing-dictionary.com
The Carnaval of the Animals - XIII - The Swan