Tulisan ini saya dedikasikan untuk kelompok Giri Gora secara khusus dalam konteks pementasan Drama Musikal JasMerah hari Jum'at lalu. Sekalian saya coba menjelaskan lebih jauh kata pengantar - yang cukup panjang - yang saya rasa perlu disampaikan dalam memberikan konteks terhadap proses dan penampilan Giri Gora. Tulisan ini juga tidak akan membedah apa yang ditampilkan di dalam teater kemarin tapi memberikan konteks lebih luas.
Tidak ada peristiwa kebetulan. Semesta tidak pernah membuat kesalahan. Ada arus besar semesta yang menjadikan segala sesuatu yang terjadi hari ini, saat ini. Termasuk berkumpulnya keluarga besar Semi Palar di Mayang Sunda - tempat teman-teman Giri Gora membawakan hasil latihannya sejak 7 bulan yang lalu. Semesta - dalam bahasa holistik, dan dalam konteks religiusitas, kita menyebutnya dengan Tuhan. Apapun itu, saya percaya tidak ada peristiwa kebetulan. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita memaknai seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi dan menemukan pembelajaran yang tersimpan di dalamnya.
Belum lama ini saya mengobrol panjang dengan dua teman alumni Smipa, Milo dan Linus. Saya belum punya banyak kesempatan untuk mendapat cerita tentang bagaimana teman-teman alumni - terutama yang sudah 'masuk' masyarakat, setidaknya dunia kampus, dunia kerja, atau komunitas lainnya. Cerita tentang ini ada di sini - kata kuncinya adalah Anomali. Anomali ini tentunya dalam artian positif karena saya melihat teman-teman ini punya sikap mental dan cara berpikir yang berbeda dibandingkan dengan teman-teman barunya di luar lingkungan Semi Palar. Bagaimana bedanya? Dari yang saya pahami, teman-teman di Smipa ini lebih bebas - lebih terbuka - lebih berani mencoba dan mengeksplorasi diri dan berbagai kemungkinan - apapun itu bentuknya.
Hal ini juga yang bisa dicermati dari teman-teman KPB Giri Gora, berproses membongkar batasan-batasan diri mereka. Pengalaman inilah yang jadi penting dalam proses penemuan diri, terutama atas berbagai definisi dan keyakinan diri, pemikiran yang terpatri sejak kita semua dilahirkan. Batasan-batasan yang kita genggam dalam pikiran-pikiran kita menjadikan diri kita hanya bergerak di dalam ruang aman, kotak kecil yang kita jadikan ruang gerak kita sampai kita dewasa nanti. Di sinilah kata-kata thinking outside the box menemukan konteksnya. Lebih jauh, sebetulnya kita perlu menyadari bahwa kotak yang kita buat adalah ciptaan pikiran kita sendiri. Berbagai ketakutan kecemasan dan batasan yang dikonstruksi oleh pikiran-pikiran kita. Karenanya apa yang disebutkan oleh Deepak Chopra lebih masuk akal.
Mari bongkar batasan diri kita - sebagaimana yang dicontohkan teman-teman Giri Gora dalam berproses menyiapkan dan menampilkan Drama Musikal Jas Merah. Ini yang penting disadari buat kita semua di Rumah Belajar Semi Palar. Saat hal ini bukan hanya jadi kesadaran kita - tapi jadi keyakinan kita, segala kemungkinan bisa terjadi, karena kedirian anak-anak kita yang pada dasarnya tidak terbatas - sejauh mana kita berani mendorong mereka terus membongkar segala batasan diri yang mungkin masih membatasi. Semoga tulisan ini bermanfaat. Sekali lagi selamat dan terima kasih buat teman-teman Giri Gora. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. 🙏🏼🙏🏼🙏🏼