"Spirit. A Sonic Reflection Of The Soul." Itu tema dari Parahyangan Orchestra yang saya hadiri bersama Nina tadi malam.
"Leave your standard at home." Bisik Mina ketika konser akan dimulai setelah beberapa menit terlambat.
Saya tidak menjawab, tapi memang sejak awal saya sudah menutup rapat-rapat segala bentuk haarapan bahkan saya mulai menimbun kekecewaan ketika banyak penonton yang baru memasuki auditorium lebih dari 10 menit sesudah waktu pertunjukkan. Ini sesuatu yang harus saya mulai sesuaikan diri. Dalam sebuah pertunjukkan ada tata krama umum yang harus dipatuhi, salah satunya demi menghormati penyelenggara bahkan lakon pertunjukkan, merupakan sesuatu yang sangat tidak sopan hadir terlambat. Saya sudah kecewa di sini, maklum saja jika pertunjukkan terlambat bahkan announcer terpaksa harus memanggil para hadirin yang masih di luar untuk segera masuk. Duh!
"Sangat Indonesia!" Kata saya dalam hati dan mulai berusaha melepaskan semua perasaan negatif yang menganggu suasana hati saya untuk mulai menikmati keasyikan malam ini.
Awal dari pertunjukkan ini mulai meletakkan saya di tempat yang terpisah, jarak antara saya dan lelakon semakin menjauh karena saya merasa berada dalam tempat dan waktu yang asing dan tidak saya mengerti. Oh jangan salah, ini adalah pertunjukkan seni, dan saya menyukai seni, hanya saja ada banyak sudut-sudut seni yang saya tidak mengerti dan malam ini saya merasa excluded.
Saya tahu bahwa saya akan merasa kesulitan menyerap apapun yang nanti akan disajikan dalam pertunjukkan ini, apalagi menarasikannya. Saya akan berusaha sebisa mungkin meresapkannya dengan kemampuan "bahasa" yang saya miliki.
Seorang pria berjubah hitam (saya berasumsi seorang frater, karena orkestra ini bekerja sama dengan Fakultas Filsafat Unpar), memasuki panggung memegang tongkat dari ranting pohon. Lalu mulai bernarasi secara sangat puitis. Di sini saya mengalami lost in translation. Oh jangan salahkan dia. Bukan dia, tapi saya. Ini bahasa asing bagi saya. Saya tidak pernah mengerti atau menyukai deklamasi! Yang terbayang oleh saya saat itu adalah bagai Rafiki, seekor babon shamanis, atau semacam dukun dari film Lion King. Tak apa, pikir saya. Saya tidak perlu mengerti walau sebenarnya di setiap pertunjukkan seni saya selalu ingin terlibat dan ada di dalam. Kali ini saya hanya menyaksikan.
Opera, konser maupun orkestra walaupun menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, misalnya bahasa Italia, Perancis ataupun Latin, saya masih bisa menerka-nerka dan mengikuti jalannya cerita. Saya bahkan bisa ikut hanyut dan emosi saya diperas-peras hingga mencucurkan air mata haru, atau bahkan ikut bahagia. Nah malam ini berbeda, sangat mistis dan filosofis. Sepanjang malam saya berusaha menermukan arti dari semua cerita-cerita yang mereka sajikan. Semuanya sangat misterius bahkan ada bagian-bagian yang menurut saya menyeramkan.
Ini pengalaman saya yang sangat unik ketika bersentuhan dengan seni. Orkestra malam ini sangat luar biasa. Para pemain biola, cello, terompet dan sebagainya sangat profesional. Tidak kalah dengan orkestra-orkestra di Colorado yang pernah saya hadiri, bahkan jika memandang usia para pemusik yang tergabung dalam Parahyangan Orchestra ini, mereka tergolong sangat muda. Bahkan ketika saat istirahat saya berjumpa dengan seorang ibu yang dulu sering ngobrol di Smipa, ternyata putrinya Hanna yang juga alumni Smipa bermain Cello. Luar biasa! Semua sajian yang dipertunjukkan juga komposisi mereka semua. Original composition! Kreasi seni yang menurut saya sangat bermutu dan membuat saya bangga. Anak-anak muda, mahasiswa bahkan ada yang masih SMA mampu menyajikan orkestrasi musik sekaliber ini, menurut saya merupakan sebuah prestasi yang membanggakan. Bulan Maret nanti malah akan ada pertunjukan lain bersama dengan Dwiki Dharmawan, personel Krakatau, kelompok musik yang dulu pernah saya sukai ketika saya masih mahasiswa. Sendainya saja mereka tahu bahwa mereka bisa disandingkan dengan para pemusik orkestra profesional di luar negeri, tentunya mereka akan merasa bangga.
Musik mengalun dengan sangat harmonis bercerita tentang berbagai ragam peristiwa, seperti salah satunya adalah Kali Cikapundung yang menjadi saksi bisu peristiwa tragis beberapa anak yang tenggelam, atau musik yang sangat indah tentang hidup dan seekor burung yang sayapnya patah. Saya disuguhi setidak-tidak 10 cerita pendek yang sangat indah, mistis dan penuh misteri yang sebagian bagi saya sulit dicerna karena menggunakan bahasa yang tidak saya mengerti, dipadu dengan narasi putis di awal setiap cerita yang sering menempatkan saya di jarak yang berseberangan. Sangat indah sekaligus juga sangat sulit.
Ini adalah sebuah konser musik orkestra yang berbeda. Biasanya saya pulang dengan perasaan puas, terhibur dan takjub, kali ini tidak sama. Saya pulang dengan berbagai pikiran. Saya dipaksa pulang membawa bekal bahan renungan yang harus saya olah. Karya-karya seni dalam bentuk cerita pendek yang filosofis sekaligus juga reflektif dari para komposernya yang berusaha membekali para hadirin dengan misteri kehidupan dalam bahasa yang sangat berbeda.