“Please let us know if you have any complains or suggestions” Kata suara di speaker mengakhiri sebuah pengumuman di kereta api yang sedang saya tumpangi menuju kota Solo.
Saya tersenyum. Ini merupakan pengumuman yang kesekian kalinya yang saya dengarkan di kereta api sejak kemarin. Ada banyak perubahan yang sangat baik yang saya saksikan dalam hal pelayanan perkeretaapian di tanah air.
Kereta api yang saya tumpangi sejah ini selalu nyaman. Berbeda dengan dahulu. Saya merasa kali ini bepergian dengan kereta api menjadi sebuah pilihan yang sangat baik. Kereta berangkat tepat waktu, fasilitas yang sangat memadai, nyaman, dengan pelayanan yang sangat baik serta profesional. Secara tidak sadar saya membandingkannya dengan Amtrak, system perkeretaan di AS yang jika saya saat ini bandingkan, Indonesia sama sekali tidak kalah. Ini sangat membanggakan sebagai warga negara Indonesia. Yang sangat menojol menurut saya adalah keramah-tamahan dalam menjalani pelayanan, dan juga pemanfaatan teknologi. Ini sangat luar biasa.
Memang masih ada beberapa kejanggalan terutama dalam pengguaan bahasa asing yang sangat terkesan menterjemahkan dari bahasa Indonesia kata per kata sehingga seringkali terdengar tidak lazim. Tapi bagi saya sejauh informatif dan dapat dimengerti, tidak ada salahnya. Banyak yang lebih parah yang saya saksikan seperti misalnya user manual untuk produk-produk elektronik yang dibuat di China, seringkali penggunaan bahasanya jauh daeri tepat.
Perjalanan dari Stasion Gambir menuju Solo kurang lebih selama 7 jam. Sejauh yang saya alami saya tidak memiliki keluhan apapun. Kereta berangkat tepat waktu dan tiba tepat waktu. Ini sangat menyenangkan darip[ad pengalaman-pengalaman masa lalu di mana kereta api dari Jakarta ke Bandung bisa terlambat hingga 3 jam! Itu saya alami sendiri. kali ini kereta bergerak tepat sesuai jadwal hingga ke menit terdekat. Sangat tepat waktu.
Tidak jarang saya juga menggunakan pelayanan kereta api di Amerika. Jika dibandingkan dengan Indonesia, saya bahkan bisa mengatakan bahwa Amerika jauh lebih kuno. Kondektur masih menggunakan alat untuk membuat lubang di tiket penumpang. Mungkin alasannya untuk melestarikan tradisi, mungkin saja. Tapi Indonesia sangat jauh lebih maju dalam penggunaan teknologi. Untuk dapat masuk ke Peron di stasion Gambir, mereka menggunakan Face recognition! Jika penumpang belum pernah mengupdate data dengan face recognition, maka ada meja khusus yang merekam semua data dari KTP dan diintegrasikan dengan system di perusahaan kereta api. Boarding pass tidak lagi digunakan.Yang saya lakukan adalah berdiri di pintu masuk, lalu ada sebuah kamera yang memindi wajah saya. Ketika system mengenali wajah saya, maka jika saya memang sudah memiliki tiket maka pintu akan terbuka secara otomatis tanpa harus menunjukkan kartu identitas maupun tiket. Luar biasa sekali, bukan? Indonesia semakin membanggakan!
Foto credit: pajakonline.com