Saya terbangun karena mendengar suara batuk. Pagi ini terasa sangat dingin hingga saya merasa tidak nyaman. Sudah sebulan lebih saya tidak merasakan cuaca dingin yang menusuk tulang.
"Are you ok?" Tanya saya kepada Nina yang terus-menerus terbatuk-batuk.
Dia hanya mengangguk dan saya berusaha kembali tidur setelah melihat jam tangan yang tergeletak di samping tempat tidur. Di luar masih sangat gelap, belum juga mencapai pukul 5 pagi. Seharusnya sebentar lagi teman-teman akan keluar dan berolahraga pagi. Saya rasa dengan suhu sedingin ini, saya lebih memilih menarik selimut dan kembali tidur.
Lereng gunung Lawu. Saya tinggal di sana selama 2 malam di salah satu diantara sederet kabin yang dibangun seolah-olah sebagai bedeng tempat pekerja perkebunan tinggal walau tentu saja dengan sentuhan modern, bagian depan dan belakang menggunakan kaca. Bukan desain kesukaan saya, tapi begitulah tempat tinggal saya saat ini.
Di belakang kabin tempat saya tinggal ada sebuah perkebunan yang sangat luas, ada strawberry, broccoli, wortel bahkan bokcoy. Sesudah membersihkan diri saya duduk-duduk di kursi di teras belakang dan menyaksikan pemandangan yang indah dan para petani yang sedang bekerja. Mungkin konsep tempat ini sebagai agro wisata. Lereng gunung Lawu memang jika diperhatikan sungguh-sungguh dipenuhi dengan penginapan-penginapan yang mengetengahkan desain glamping. Camping tapi dengan cara yang nyaman, glamorous, yang glamor sehingga segala sesuatu disediakan. Saya sendiri baru mengalami 2 kali menginap di tempat dengan konsep semacam ini. Menarik tapi bukan pilihan saya yang utama. Saat ini karena tempat ini dipilih sebagai tempat untuk acara kumpul-kumpoul teman SMA.
Sesudah sarapan kami berkumpul di halaman depan dan kemudian sekitar 10 kendaraan Suzuki Katana tiba. Acara kami pagi ini adalah berpesiar ala off road. Saya sama sekali tidak tahu medan di sini. Yang saya bayangkan adalah keliling dengan kendaraan terbuka semacam ini untuk menikmati pemandangan lereng gunung. Dengan kondisi cuaca seperti pagi ini, saya nilai sebagai sebuah pilihan yang tepat dan menarik, jadi saya tidak keberatan untuk ikut serta.
Kami kemudian mulai bergerak secara convoy. Perjalanan agak terganggu sejenak karena salah satu "jeep" terpersosok ke dalam parit dan terkuci di sana yang kemudian dibantu dengan diderek kendaraan lain. Hanya sedikit kejadian kecil dan kami mulai memasuki hutan. Begitu masuk ke dalam hutan, saya langsung tahu bahwa ini kegiatan off road yang sesungguhnya. Kendaraan memasuki medan yang luar biasa sempit, bergelombang dengan kondisi yang bagi saya cukup ekstrim.
Tubuh saya tergoncang-goncang, walau duduk di belakang, tapi sama sekali tidak menggunakan alat pengaman, tidak ada helm maupun seat belt, padahal kondisi jalan sangat buruk, dan sangat sempit sementara pengemudi mengendarai kendaraan dengan kecepatan yang menurut saya terlalu cepat. Sangat mengerikan.
Saya menghela napas lega begitu mencapai perhentian yang pertama. Pada saat itu saya mulai mempertanyakan keputusan yang saya ambil untuk ikut serta dalam acara gila ini. Jika saya 20 tahun lebih muda, mungkin saya akan dengan senang hati menikmati kegiatan ini, tapi tidak saat ini karena seluruh tubuh dan tulang belulang saya sudah mulai sulit menerima siksaan semacam ini, maka menurut saya ini keputusan yang kurang bijak.
"Aku pernah terjun payung, tapi ini lebih menakutkan dari pada itu." Kata saya setengah berteriak ditengah tubuh-tubuh kami tergoncang kesana kemari karena medan yang dilalui kendaraan ini begitu luar biasa menyeramkan, berbelok-belok, turun-naik di jalan yang bergelombang kadang berbatu dan terhalang pepohonan. Tidak jarang jalan yang kami lalui sangat sempit dan terjal karena di samping kiri dan kanan adalah tempat yang curam.
"Kalau kecelakaan, bisa patah tulang atau bahkan lebih buruk lagi." Kata saya dalam hati.
Ini bukan kegiatan yang memicu adrenalin yang saya sukai. Rasa takut memang memicu hormon-hormon seperti cortisol dan adrenalin, tapi ini bukan yang saya sukai karena berbagai pertimbangan. Pertama saya tidak merasa aman, kedua ini terlalu ekstrim untuk tubuh saya. Berbeda dengan terjun payung, saya merasa aman sebab telah melalui berbagai prosedur keamanan dan tubuh saya dilengkapi dengan semua peralatan yang membuat saya aman. Kali ini, tubuh saya tidak diberi alat perlindungan apapun dan kendaraan yang saya tumpangi sepertinya juga dipertanyakan keamanannya.
Di perhentian kedua, tongkat persneling lepas. Saya semakin ngeri walau bapak pengemudi mengatakan bahwa itu tidak bahaya. Jika keselamatan saya dipertanyakan maka urusannya lain lagi.
Kami memutuskan putar balik melewati jalanan yang mulus dan mengakhiri petualangan gila ini. Ini bukan kegiatan yang cocok untuk saya!