AES 1238 Nego
joefelus
Saturday November 9 2024, 11:22 AM
AES 1238 Nego

Kalau dikatakan bahwa belajar itu sepanjang hayat, menurut saya itu tidak terbantahkan. Ini berdasarkan pengalaman pribadi, selama 3 bulan terakhir ini saya belajar banyak mengenai urusan renovasi rumah yang terus terang saya sama sekali tidak memiliki pengalaman. Nah obrolan hari ini saya ingin mengangkat apa yang saya pelajari.

Di awal saya agak sungkan dan khawatir karena seperti saya katakan tadi, pengalaman saya mengenai ini nol besar. Kalau urusan procurement, pengadaan barang saya punya pengalaman puluhan tahun, pekerjaan saya di bidang kuliner selalu berkaitan dengan itu sejak dulu mulai di Hawaii hingga beberapa bulan kemarin saya masih berkecimpung dengan pengadaan bahan baku dan sebagainya. Tapi kalau urusan bangunan, nol besar!

Jadi pada awalnya ketika saya melihat kondisi rumah yang sangat jauh dari layak pakai, saya hanya memiliki 1 nama yang sudah direncanakan jauh-jauh hari untuk diminta bantuan, yaitu salah seorang mantan murid saya, yang saya tahu mempunyai kepiawaian di bidang bangunan dan memiliki usaha dibidang itu. Hanya saja karena yang bersangkutan ini, katakan saja namanya Mawar, Huahahaha... (seperti tabloid kriminal jadul yang recehan haha), mungkin sungkan atau tidak mau "membisniskan" kebutuhan mantan gurunya, jadi yang dia bantu adalah memberikan nama-nama rekanan dia.

Nah, satu dua minggu saya bergumul dengan diri sendiri apakah saya mampu. Kalau mau enaknya mungkin saya tinggal cari kontraktor dan minta dia menangani itu semua. Rencananya ya begitu dan menghubungi mantan murid saya ini karena dia memang seorang kontraktor. Tapi saya tidak dapat menunggu terlalu lama. Rumah saya butuh air, butuh listrik dan butuh AC karena saya tidak bisa tidur. Kalau pintu ditutup kepanasan dan gelap krn listrik mati, kalau dibuka nyamuk masuk. 2 minggu saya sengsara, belum lagi saya masih jetlag. kalau terus menerus begitu saya dan istri bisa jatuh sakit. Repot.

Saya hubungi tukang listrik. Nama dari mantan murid itu. Yang bersangkutan datang, 1 hari listrik selesai. Murah! Karena masih baru mudik, saya menghitung dalam dollar. Kalau membereskan sekian titik listrik kurang dari $200, itu menakjubkan karena uang segitu biasa untuk 1 kali makan malam enak dengan teman-teman, dan masih kurang! Masa membereskan listrik rumah seharga kurang dari makan malam? Luar biasa!

Nah pengalaman pertama dengan tukang listrik ini memberikan kepercayaan diri. Saya hubungi tukang AC dan tukang air. Listrik ada, tetap belum bisa tidur karena sangat panas, apalagi rumah mulai sulit air. Langsung saya hubungi mereka. AC selesai dalam 1 hari. Mulai hari itu saya bisa tidur nyenyak, tapi belum bisa mandi dengan damai dan tenteram. Harus sabar selama 3 minggu untuk memperoleh air yang layak ditambah jatuh sakit berdua karena harus menghisap udara kotor dari mesin diesel yang digunakan untuk ngebor.

Berikutnya saya harus mencari orang yang dapat membantu saya memperbaiki pagar dan pintu garasi. Ini mulai bertambah seru karena saya menghubungi lebih dari 1 orang. Untuk urusan nogosiasi harga di tanah air saya kurang berpengalaman, sangat berbeda dengan negosiasi si tempat kerja saya di Amerika. Tidak masalah, saya harus berani mencoba. Saya tidak ingat berapa lama pagar dan pintu garasi selesai, mungkin 1 minggu karena ada masalah pengadaan bahan, karena saya menggunakan bahan yang "kekinian", yang masih jarang digunakan orang. Hahaha..

Pagar selesai, proyek berlanjut dengan perbaikan atap, plafon, kanopi dan sebagainya. Saya ingin rumah mulai sekarang bebas bocor, semua kayu kaso dan reng yang busuk karena lama tidak dirawat diganti dengan baja ringan, lalu ditutup plafon "kekinian" dan tidak lagi menggunakan gipsum karena saya ingin berbeda hahaha.. Ini proses yang lumayan lama. Penggantian dan perbaikan atap dengan sangat mengejutkan selesai dalam 1 hari. Pekerja Indonesia sangat luar biasa dibandingkan dengan pekerja di Amerika.

Dari perbaikan atap hingga pemasangan plafon berlangsung cukup lama karena kami agak lambat dalam penentuan warna. Gipsum memang mudah karena putih, tapi pengerjaannya kotor dan juga finishingnya lama. Saya tidak suka debu. Jadi menggunakan bahan lain. Karena melihat keindahan yang dihasilkan plafon di teras belakang dan depan serta garasi, bagian dalam rumah jadi terlihat kusam, tua dan tidak menarik. Saya harus memutuskan sesuatu segera dan juga menghitung anggaran. Untuk sementara, pintu-pintu yang rusak serta dimakan rayap, harus diganti. Maka saya memilih pintu alumunium. Saya kapok menggunakan kayu karena pintu kamar mandi sudah berkali-kali saya ganti karena masalah yang sama.

Eniwei menghindari banyak detail, proyek akhirnya berlanjut hingga seluruh rumah! Proyek ini kemungkinan baru selesai di bulan Desember. Saya masih harus mengkarantina diri hingga saat itu. Tak apa yang penting menjelang akhir tahun semua sudah beres dan siap meyambut tahun baru dengan baik.

Lalu apa yang saya pelajari? Yaitu bahwa saya bukan negosiator yang unggul! Hahaha.. Artinya saya tidak akan pernah bisa menjadi pebisnis yang sukses karena tidak memiliki killer punch! Saya tidak tegaan. Saya bisa menyuruh orang ini itu dengan mudah, memerintah orang melakukan sesuatu dengan cepat, tapi ketika bernegosiasi saya memiliki kelemahan yang sangat luar biasa. Kalau orang lain tahu bagaimana saya bernegosiasi, mungkin saya akan ditertawakan habis-habisan. Jika mereka yang mengambil alih, mungkin bisa menghemat puluhan juta. Jika mantan murid saya yang bertanggungjawab atas proyek-proyek ini, mungkin yang saya habiskan sudah dapat menutup fee untuknya bahkan lebih.

"Harumanis piro, pak?" Tanya ayah mertua saya

"Kalih doso, sewelas. Pak," Jawab penjual mangga. Di Surabaya menjual mangga dengan sistem welasan. Artinya kita membeli 10 mangga tapi diberi sebelas.

"Larang! telung ewu, wis." Tawar ayah mertua saya

Saya terkejut. Loh kok menawar sesadis itu. Lalu saya bisik-bisik ke ayah mertua. "Huss.. wis meneng ae!" Kata Ayah mertua.

Saya mundur dan hanya menyaksikan proses tawar menawar dari sedikit kejauhan. Sambil senyum-senyum akhirnya Ayah mertua memboyong satu kantong besar mangga. "pitungewu (7000)." Katanya sambil menyodorkan kantong itu untuk saya bawa ke mobil. Peritiwa itu selalu saya ingat dan terjadi mungkin hampir 30 tahun yang lalu.

Entah mengapa, walau proses negosiasi itu adalah proses membangun kesepakatan antar pembeli dan penjual, saya tidak pernah tega melakukan seperti yang mendiang Ayah mertua saya lakukan. Itu sesuatu yang sah dan kesepakatan adalah kesepakatan. Jika salah satu pihak merasa dirugikan, tentunya tidak akan terjadi kesepakatan. Saya paling berani menawar setengah dari harga yang ditawarkan penjual, tapi tidak seperti yang beliau tunjukkan pada saya. Hati nurani saya berkata bahwa itu sesuatu yang kurang berkenan. Mungkin itu alasan mengapa saya tidak pernah berbisnis.

Foto credit: talenta.co