AES073 - Babel: Identitas dalam Bahasa
Ara Djati
Thursday November 7 2024, 4:43 PM
AES073 - Babel: Identitas dalam Bahasa

Aku baru saja menamatkan buku berjudul Babel, karangan seorang penulis Tionghoa-Amerika bernama R.F. Kuang. Buku ini sudah lama mengambil perhatianku, karena di internet banyak sekali yang memuji-muji buku ini. Ternyata Babel memang sangat layak dipuji dan dibaca. Tokoh utamanya adalah Robin Swift, anak yatim-piatu yang dibawa oleh Profesor Lovell ke London, tahun 1828, setelah keluarganya meninggal dari wabah di Canton. Dia kemudian disekolahkan di Oxford di Institut Penerjemah, disebut Babel, di mana dia bertemu teman-teman dari seluruh dunia.

Buku ini membahas berbagai topik yang menarik, terutama berkaitan dengan kolonialisme, juga elitisme dan rasisme di dunia akademik.Tokoh-tokohnya semua mengalami dampak-dampak kolonialisme dalam bentuk yang berbeda-beda. Mereka terpaksa untuk menghapus identitas mereka, mencairkannya sedapat mungkin agar bisa hidup dengan aman dan nyaman di tengah masyarakat Inggris elit 1800an. Buku ini banyak membuatku berpikir tentang identitas dan asimilasi. Aku jadi punya perspektif baru: apakah benar globalisasi adalah membawa anugerah yang “global”, atau sebenarnya hanya eurosentris?

Hal yang paling membuat kisah ini unik adalah sistem sihirnya. Mereka menggunakan batang-batang perak. Di satu sisinya, terukir kata-kata dalam sebuah bahasa; lalu di sisi lainnya, terjemahan kata itu dalam bahasa lain. Kita hanya perlu menyentuh batang itu sambil mengucapkan kata itu dalam kedua bahasa. Sihirnya ada pada unsur-unsur yang tak terjemahkan. Batang-batang ini bisa digunakan (dan disalahgunakan) dalam berbagai cara – menyembuhkan, mempercantik bunga, membuat kereta bergerak, bahkan membunuh. Masalahnya, tak sembarang orang bisa mengaktifkannya. Kita harus benar-benar menguasai bahasa itu: “live and breathe the language”. Maka, Babel, terutama berkaitan dengan dampak kolonialisme Inggris, menggunakan sebanyak mungkin orang dari berbagai negara untuk membuat batang perak baru. Tapi ini hanya untuk menafkahi Babel. Semua uang dan batang perak ini tetap berpusat di Inggris. Tanah kelahiran mereka tidak mendapatkan imbal balik.

Buku ini sangat membuka perspektifku dalam melihat nuansa-nuansa dan dampak-dampak penjajahan. Tokoh Robin sangatlah menarik. Begitu dibawa oleh Professor Lovell, dia diminta mencari nama baru yang “bisa diucapkan oleh orang Inggris” dan melupakan nama lahirnya. Sampai akhir buku, kita tidak pernah tahu apa nama Tionghoanya. Itu suatu sentimen yang begitu kuat. Aku jadi berpikir lagi tentang identitas budayaku dan nenek moyangku, serta dampak-dampak kolonialisme dan akulturasi. Babel benar-benar mengusung pentingnya bahasa dan keterkaitannya dengan identitas kita.