Pagi-pagi saya mengalami konflik batin! Hahaha.. Bukan hal serius, hanya konflik mengenai ide yang akan saya kembangkan jadi bahan ngobrol hari ini. Tadinya saya ingin ngobrol tentang surabi atau serabi, makanan tradisional yang sudah lama tidak saya nikmati. Tapi ketika saya buka Ririungan, eh ada cerita mengenai tanaman dari mbak @sanya.
Saya tertarik pada tanaman walau terus terang pengetahuan dan pengalaman saya tentang tanaman itu nol besar. Saya belum pernah menanam apapun dengan berhasil. Lalu ketika saya baca ulasan mbak Sanya tentang kapan menyirami, PH tanah, jenis pupuk, dan lain sebagainya, saya langsung menyadari bahwa selama ini saya melakukannya dengan salah. Jika akan serius, saya sungguh-sungguh harus belajar dan mencari informasi sebanyak-banyaknya.
Sejauh ini di rumah saya hanya memiliki beberapa tanaman. Itu pun hasil negosiasi saya dengan tukang landscape, yang saya minta adalah plumeria (kamboja), Keladi sente hitam, dan beberapa pucuk merah. Halaman depan dan belakang rumah masih sangat kosong, hanya ada tanaman-tanaman itu dan kerikil. Saya memutuskan menghilangkan rumput dan mengganti dengan kerikil karena tubuh renta ini sudah tidak mampu keep up dengan pertumbuhan rumput. Saya juga mempertahankan 2 pohon belimbing wuluh, karena punya nilai emosional dengan tanaman itu hahaha.
Eniwei, keladi sente saya tumbuh dengan baik, sudah banyak tunas-tunas baru dan salah satu sudah punya anak yang nanti akan saya pisahkan, saya harus belajar dulu supaya tidak mati. Plumeria juga sudah banyak tunas baru dan bunga-bunga baru. Jadi mereka semua aman dan tidak mati. Kegiatan saya mendatang adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang tanam menanam. Ini akan jadi kegiatan seru dalam menikmati masa "pensiun" saya hahaha..
Itu tentang tanaman, saya tidak puny bahan apa-apa untuk diobriolkan selain fakta bahwa pengetahuan saya sangat minim atau bahkan tidak punya sama sekali. Bagaimana tentang serabi? Nah ini mungkin saya bisa lebih banyak cerita.
Serabi atau Surabi merupakan salah satu makanan favorit sejak kecil. Terbuat dari tepung beras, parutan kepala dan santan lalu dimasak dengan menggunakan alat masak yang terbuat dari tembikar yang ditaruh di atas tungku. Kalau dilihat sekilas, bahan bakunya sama dengan bandros, hanya bentuk dan cara memasaknya berbeda karena bandros menggunakan cetakan dari metal/besi atau alumunium. Yang tradisional biasanya besi tempa atau cast iron.
Sudah sejak saya kembali ke Bandung, niat untuk mencoba kembali menikmati surabi muncul hanya saja saya belum tahu harus kemana mencarinya. Di Cihapit yang terkenal itu, saya agak kurang puas karena teksturnya tidak sama dengan surabi yang sejak jaman kecil saya nikmati. Agak densed dan kurang berongga. Itu dulu, tidak tahu jika sekarang. Yang saya tahu beberapa kali lewat sana masih terlihat ramai. Yang membuat saya malas ke sana adalah lalu lintas dan sulit parkir karena Cihapit sekarang menjadi salah satu lokasi kuliner yang sangat ramai karena bertumbuhnya banyak tempat kuliner baru.
Bagi saya, surabi harus memiliki tekstur keras dibagian bawahnya, ada bau gosong yang khas karena dimasak dengan tembikar dan kayu bakar, sehingga temperatur tidak stabil, kadang panas cukup tapi juga kadang terlalu panas atau kurang panas. Panas yang dihasilkan oleh api juga tidak rata sehingga bagian bawah tidak sama gosongnya. Nah itu keunikan dari surabi tradisional. Jika bentuknya cantik, bagian bawahnya rata dan mulus, itu bagi saya bukan surabi yang otentik.
Surabi bagi saya harus berongga di dalamnya, itu menandakan proses pembuatan yang baik karena itu adalah air bubble yang tersisa ketika mousiture dari adonan escape, cairan menjadi uap dan melepaskan diri pada saat proses pemanasan lalu meninggalkan rongga-rongga udara. Nah bagi saya semakin berongga semakin bagus karena surabi akan menjadi fluffy, tidak densed.
Sudah seminggu terakhir saya melihat tukang surabi tradisional di daerah pacuan kuda. Ada dua di sana, yang satu kecil yang lain jauh lebih besar. Saya ingin mencoba kedua-duanya. Itu artinya saya harus bangun pagi. Saya ingat dahulu jaman mahasiswa saya bagun ketika matahari baru akan mulai terbit dan mengendarai sepeda motor ke daerah Buah Batu hanya untuk makan surabi. Saat itu saya tinggal dekat jalan Bungsu, jadi memang lumayan jauh. Tapi demi surabi, saya rela! Hahaha
Nah pagi ini saya meniatkan diri, bangun lebih pagi agar jalanan masih lengang dan belum ada kesibukan lalulintas. Di daerah pacuan kuda ternyata hanya tukang surabi yang kecil yang berjualan. Saya mencoba yang oncom dan yang polos. Ada juga yang tambah telur, tapi saya hari ini benar-benar ingin menikmati surabinya, telur seringkali mengubah tekstur dan baunya jadi berbeda.
Tiba di rumah, surabi masih keluar uap. Ternyata saya diberi sambal oncom juga untuk cocol surabi. Sambal oncomnya luar biasa! Tekstur surabinya memenuhi kriteria saya. 2 buah surabi habis dalam sekejap. Yang polos saya cocol gula aren yang manis dan ada rasa gurihnya. Saya bahagia!
Kalau ada taman kosong biasanya akan lapar mata Pak kalau mau mulai ngisi! Hati-hati Pak hahaha
Tips berikutnya beli tanaman hias yg indukan, jangan tergoda harga murah anakan atau yg remaja. 😁🙏🏻