AES 1283 Busy Living
joefelus
Tuesday December 24 2024, 8:31 AM
AES 1283 Busy Living

Ini akan menjadi renungan saya yang pertama di akhir tahun. Saya tidak yakin akan dapat melakukannya setiap hari karena sejauh ini saya belum menemukan bahan renungan yang lengkap hingga akhir tahun. Tapi saya akan coba seperti tahun-tahun sebelumnya.

Pernah menyaksikan film Shawshank Redemption? Ini salah satu film favorit saya. Dilakoni oleh Tim Robins sebagai Andy dan Morgan Freeman sebagai Red. 2 orang yang dipenjara karena kasus pembunuhan dimasa muda mereka. Ada saat dimana Andy minta seutas tambang. Red, sahabatnya, begitu khawatir karena dia menyangka bahwa Andy sudah putus asa dan akan berusaha mengakhiri hidupnya dengan seutas tambang. Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Andy sebenarnya sudah memiliki rencana untuk melarikan diri. Tambang itu akan digunakan untuk mengikat benda-benda miliknya ke kaki karena dia harus merangkak melalui gorong-gorong. Red menyangka karena sudah sekian lama dipenjara, Andy sudah menyerah dan busy dying. Ternyata sebenarnya Andy is busy living, dia merencanakan kabur dari penjara secara cerdas dan detail.

Ini renungan saya hari ini. Seringkali kita dihadapkan pada berbagai kondisi kehidupan dimana kemudian kita harus memilih untuk menghadapinya dengan sekuat tenaga atau menyerah karena sudah terlalu lelah dengan gempuran permasalahan. Kita dihadapkan pada pilihan yaitu Are we going to be busy living or dying?

Hidup itu dinamis, penuh ups dan downs. Kita sering lupa bersyukur ketika dalam posisi di atas, terlalu busy living, menikmati segala kesenangan, kemudahan maupun kesuksesan. Tapi begitu kita berbenturan dengan masalah yang seringkali beruntun tidak ada habis-habisnya, kita langsung sibuk berkeluh kesah. Sangat wajar kita merasa lelah, tidak jarang kita berada di situasi begitu karena didera kekecewaan, kegagalan dan seringkali segala usaha yang kita lakukan tidak membuahkan hasil yang kita harapkan.

Mungkin terdengar naif jika saya katakan bahwa kebahagiaan hadir karena adanya kesedihan. Bicara itu gampang! Coba saja rasakan sendiri digempur dengan masalah tanpa henti, apakah kita dapat berkata demikian? Untuk kondisi ekstrim, walau kalimat tadi benar dan saya percayai karena segala sesuatu di semesta itu perlu keseimbangan, semua ada batasnya. Saya bukan Ayub dalam Perjanjian Lama yang kualitas hidupnya hancur tapi tetap pada keyakinanannya. Kalau saya mungkin sudah memilih untuk menyerah. Saya tidak sekuat dan seajaib itu. Tapi saya belajar dari hal sederhana bahwa dalam kesusahan, kegembiraan itu ada; dalam kelaparan penghargaan kita akan sebutir nasi itu sangat luar biasa. Saya ingat dulu ketika diopname dan dokter hanya mengijinkan saya makanan halus. Hingga saat ini saya benci akan bubur lemu. Itu yang harus saya makan selama sekitar 1 minggu. Setangkap roti gandum dengan pindekaas menjadi makanan terindah. Padahal apa sih artinya roti dengan selai kacang ketika kita sedang sehat? Biasa saja. Tapi ketika kita dihadapkan pada kelangkaan, hal yang sederhana menjadi sangat berarti. Itu esensi dari kebahagiaan.

Hidup menurut saya tidak biner. Memang segala sesuatu itu berpasangan seperti laki-laki dan perempuan, siang dan malam, tapi ada fajar dan ada senja. Ada abu-abu tidak hanya hitam dan putih. Maksud saya, kita masih bisa kompromi. Seperti kata peribahasa jaman saya SD di pelajaran bahasa Indonesia: Tidak ada rotan, akar pun jadi. Jika kita dihadapkan pada kekecewaan terus menerus, apakah mungkin tujuan atau goal yang kita canangkan itu terlalu tinggi? Itu saatnya kita melakukan evaluasi. Tidak ada hal yang tidak mungkin, itu juga benar. Tapi segala sesuatu ada batasnya, demikian juga kemampuan kita. Mungkin saatnya kita lebih realistis dan memodifikasi langkah yang kita ambil. Kompromi, compromise kadang menjadi jembatan yang baik menuju keberhasilan. Seringkali untuk mencapai puncak kita harus berputar, tidak selalu mengambil jalan lurus, itu salah satu cara untuk menjalani kehidupan yang baik, get busy living!

Foto credit: themanagersprism.com