Kelintas kutipan yang fana itu waktu, manusia ini abadi. Karena dicolek di grup lingkar AES tadi sore. Soalnya, sampai rumah tiba-tiba memainkan daftar lagu MTV AMPUH 1999-2000. Zaman saya SMP akhir.
Kalau saya sebagai manusia itu abadi, bisa jadi saya usang di saat ini. Karena semua pengetahuan dan pengalaman saya, sudah terpatri sebagai keabadian. Seperti prasasti atau fosil, bisa juga relief yang mondar-mandir saat ini.
Sudah tidak relevan dalam merespon realita, karena yang terekspresikan hanyalah pengulangan kenangan. Usang sudah. Jadi sadar, kalau zaman selalu memiliki anak-anaknya. Pada anak-anak zaman ini kita belajar, walau kesannya kita mengajar.
Saya pun pernah menjadi anak-anak zaman, waktu itu yang tertulis di kertas koran yang sudah usang. Sembilan delapan dan dua ribu delapan, misalnya. Membangkitkan semangat dulu itu di saat ini rasanya bukan aktualisasi, lebih ke memaksakan nostalgia saja.
Persoalan akan selesai dengan sendirinya, oleh waktu yang katanya fana itu. Maka kita sebagai yang abadi, abadi dan usang, usang dan berkeinginan mengulangi kenangan; Baiklah menghapus kehendak menempelkan cetakan foto usang, ke layar tajam terang. Malahan, arif dan bijaksana-sini dengan memakai kacamata untuk menyaksikan realita seada-apanya saat ini.