"Penyebab penyakit itu seringkali gara-gara pikiran!" Kata salah seorang sahabat kami kemarin.
Kami semuanya berenam, duduk mengelilingi 2 buah meja kecil yang kami satukan sambil menikmati pempek palembang dan minuman segar. Saat itu memang masih 1 jam lebih menjelang buka puasa, kami yang nakal curi start makan duluan dengan alasan pukul segitu belum ada banyak orang yang parkir untuk berbuka puasa. Memang benar, kedai yang kami datangi kosong dan dapat parkir dengan leluasa.
Kami duduk sambil berbincang, salah seorang rekan kami baru saja pulang retreat di Bali. Sebuah retreat mirip Vipassana di daerah puncak sana. Kami ingin tahu. Sudah entah sejak kapan saya sangat berminat mengikuti retreat semacam ini. Mengolah diri dengan meditasi dan menjauh, benar-benar menjauh, dari kebisingan dunia dengan berdiam diri, meditasi, tidak berkomunikasi dengan siapapun kecuali diri sendiri. Menyembuhkan luka-luka batin, refocus, dan lain sebagainya. Ini butuh komitmen yang kuat sebab selama sekian hari, seminggu, sepuluh hari bahkan lebih, benar-benar memutuskan hubungan dengan dunia luar dan berbenah. Ini yang menurut saya dapat sungguh-sungguh disebut healing bukan hura-hura berombongan naik jeep ke puncak gunung Bromo hehehe.. Itu juga asyik sih, cara lain untuk escape dari kepenatan. Tapi retreat jauh lebih serius.
Manusia adalah enerji. Itu kata seseorang, dulu ketika saya berusaha belajar menata diri. Jika energi kita tidak dibenahi, tidak diatur dan dirawat dengan baik sehingga berada di jalur yang benar dan berfungsi dengan baik, maka itu saatnya kita jatuh sakit. Energi yang berputar-putar, tersumbat, arahnya kacau dan lain sebagainya membuat tubuh dan jiwa kita juga terganggu. Bagaimana kita dapat memperbaikinya, salah satunya dengan bermeditasi, mengenal diri, mengenal tubuh dan mengolah serta mengatur, menyalurkan energi dengan baik. Bagaimana melakukan itu sehingga mampu bermeditasi? Mengatur pikiran, mengosongkan pikiran dan membiarkan energi mengalir, menyatu dengan semesta, menciptakan harmoni.
Menciptakan traquility merupakan salah satu kunci dalam mengolah diri. Kita dapat bermeditasi dan masuk ke dalam diri sendiri jika kita dapat terlepas dari kebisingan dunia, dari masalah yang bertimbun-timbun, dari keruwetan hidup dan lain sebagainya. Nah itu tantangannya. Retreat membantu kita untuk menciptakan tranquility. Kita dapat menyepi sebab kondisi memungkinkan itu. Di rumah? Susah! Baru bangun saya langsung teringat, radar toren belum berfungsi, harus mengisi air, cucian di dapur belum dikerjakan, tanaman harus dikeluarkan agar kena sinar matahari, oh waktunya bayar listrik dan telepon karena sudah hampir tanggal 20. Apakah ada barang kiriman datang hari ini? Langsung buka HP dan sibuk membuat rencana hari ini. Otak kita penuh, harus diatur satu-satu, dibenahi hingga hari ini dapat berjalan dengan lancar tanpa ada yang tertunda atau bahkan terlupakan. Meditasi? Wah tidak ada waktu, sekarang sudah lewat pukul 8, 1 jam lagi harus sudah di jalan karena pukul 10 sudah ada meeting. Tranquility menjadi mimpi karena kita langsung terjebak dalam kehidupan sehari-hari.
Retreat semacam itu memang banyak gunanya. Tapi itu bukan jawaban sebab jika pulang dari sana kita tidak melakukan apa-apa lagi. Retreat bisa menjadi semacam stepping stone yang menjadi awal dari sebuah perjalanan. Reatreat menjadi semacam awal yang memicu pergerakan yang kalau tepat maka diharapkan bisa menjadi kekal. Pernah melihat ayunan Newton? Nah anggap saja retreat adalah awal dimana kita mengangkat bandul pertama lalu dilepaskan dan bandul itu akan menyentuh bandul kedua, ketiga, keempat dan yang kelima akan bergerak mengayun dan kembali memberikan benturan ke bandul keempat, ketiga, kedua lalu ke bandul pertama. Begitu seterusnya. Idealnya begitu. Tapi sayangnya hidup kita sepertinya tidak bisa disetarakan dengan ayunan Newton. Banyak variabel lain yang mempengaruhi sehingga menurut saya, hidup tidak sama dengan hukum kekalan momentum dalam fisika, karena hukum kekekalan itu berlaku hanya jika tidak ada keberadaan kekuatan eksternal, sementara hidup tidak semonoton itu.
Foto credit: science.howstuffworks.com