"Jaaammeeeessss!!!" Teriak saya dari kejauhan ketika sedang berjalan menuju Bakeshop dengan membawa sebuah tas penuh dengan label stickers untuk produk retail.
James, Ray Ann bersama seorang ibu yang saya tidak terlalu kenal sedang berjalan menuju arah saya di depan Ram's Horn Dining center. Mereka ada karyawan CSU bagian facilities dimana dulu saya juga pernah bekerja sebelum pindah ke dining. Dulu saya sering bekerja dengan James, seorang pria hispanik tapi berkulit putih bersih yang sangat ramah bertubuh gempal dan sangat murah senyum.
"It's been a long time! How have you been?" Tanya saya ketika sudah tiba berhadap-hadapan.
"Good, How about you?" tanya James. Lalu kami bercakap cakap ke sana kemari.
"How's your son?" Tanya Ray Ann tiba-tiba ikut ngobrol.
"Oh, he is great. He's graduated from high school." Kata saya.
"He graduated, already? The last time I saw him probably he was still 9 or 10 years old." Kata Ray Ann tidak percaya.
"Yes, he graduated a year early." kata saya.
"Ah, no wonder. Is he going to CSU now?" Tanyanya lagi.
"No. He still needs some time to figure out what he wants. He is working at the moment." Kata saya.
Setelah beberapa saat ngobrol akhirnya kami berpisah. Mereka bertiga ternyata akan ke gedung saya, di sana mereka butuh mengambil kunci untuk weekend shift. Ya, mereka memang bergantian dijadwalkan untuk bekerja beberapa jam di akhir pekan. Dulu saya juga begitu, lumayan sih bisa dapat jatah lembur tapi itu artinya bekerja selama 14 hari non-stop tidak ada libur. Saya beruntung sudah ganti pekerjaan. Bekerja di facilities itu lebih membutuhkan kegiatan fisik daripada pekerjaan saya sekarang. Jadi masuk akal sekali jika saya berusaha menyisihkan waktu untuk berolahraga.
Sambil melanjutkan perjalanan saya mengantarkan label stickers yang barusan saya print, saya mulai merenung. Hidup itu sangat menarik jika benar-benar dipikirkan. Ambil contoh misalnya tentang topik obrolan. Ketika di jaman sekolah, pertanyaan adalah "lulus SMA mau kuliah di mana?", lalu ketika sudah menjadi mahasiswa kita selalu ditanya, kapan lulus?, pertanyaan demi pertanyaan terus mulai berkembang dengan berjalannya waktu. Sudah lulus, pertanyaan berubah menjadi "kapan menikah", sudah menikah pertanyaan ganti lagi menjadi "kapan punya anak" Nah sesudah ini hampir semua pertanyaan bergeser dari pertanyaan tentang "saya' menjadi seputar anak! Faktor "saya" menjadi kurang penting lagi tapi fokusnya berpindah ke anak. Cukup mudah dimengerti karena hidup saya juga berubah fokusnya bukan lagi terutama pada diri sendiri tapi pada anak.
Pertanyaan-pertanyaan seperti, Sudah punya anak?, anaknya berapa? anaknya sudah bisa apa, TK dimana, SD dimana dan seterusnya. Saat ini saya sepertinya sudah mulai mendekati masa-masa di ujung. Tinggal beberapa langkah lagi seperti anaknya kuliah di mana, lalu anak menikah belum. Sesudah itu baru topik "anak" bergeser lagi menjadi cucu! Hahaha... Sadar atau tidak pertanyaan juga ternyata berevolusi! Pernah terpikir? Sepertinya jarang secara sungguh-sungguh kita berpikir tentang pertanyaan yang berevolusi, tapi kita sungguh menyadari pertanyaan-pertanyaan itu.
Pertanyaan kadang sangat mengganggu. Saya pernah menulis bahwa dulu saya sering sebal jika ditanya soal raport ketika jaman sekolah. Ada merahnya engga? Ini pertanyaan yang saya benci sebab saya pernah sekali dapat angka merah! Hahaha... Saya sebel karena walau punya 1 angka merah saya tetap juara kelas! Nah tidak ada orang yang bertanya "juara atau tidak!" Itu selalu mengingatkan saya bahwa ada "noda" dalam hidup hahahaha...
Pertanyaan menyebalkan yang lain adalah "kapan lulus", "kapan menikah" dan terakhir "kapan punya anak". Saya tidak tahu itu pertanyaan basa-basi atau pertanyaan prihatin. Saya termasuknya mahasiswa yang telat sedikit ketika lulus, seriusan, cuma sedikit, hanya setengah tahun. Saya juga bukan orang yang senang buru-buru menikah dan yang terakhir saya butuh waktu 12 tahun hingga akhirnya punya Kano. Teman-teman saya banyak yang sudah punya cucu, anak saya baru lulus SMA hahaha. Saya akhirnya menganggap, pertanyaan-pertanyaan itu hanya sekedar dilontarkan agar para penanya puas dari rasa ingin tahu tanpa memikirkan apakah yang ditanya ingin menjawab atau tidak, bahkan tidak peduli apakah pertanyaan itu mengganggu atau tidak karena yang penting rasa ingin tahu mereka terjawab. Menurut saya itu very inconsiderate! Tapi sepertinya itu jadi hal-hal yang wajar di masyarakat. Sama halnya dengan mengomentari bentuk tubuh dan warna kulit. "Duh kamu gemuk sekarang ya!" Ini komentar kurang ajar hahaha, tapi biasa dilontarkan bahkan oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi yang seharusnya tahu bahwa itu tidak appropriate! Yah begitulah!
Satu hal yang perlu diingat. menurut saya, kualitas seseorang itu bisa dilihat dari pertanyaan-pertanyaannya. Saya sangat setuju pada Pierre-Marc-Gaston, duc de Lévis , seorang Duke dari Perancis yang berhasil kabur ke Inggris ketika jaman revolusi Perancis. Saudara-saudara perempuan dan ibunya tidak berhasil dan dipenggal menggunakan Guillotine. Ungkapan terkenalnya: “It is easier to judge the mind of a man by his questions rather than his answers.”—Pierre-Marc-Gaston, duc de Lévis (1764–1830) Nah, jika mengingat ungkapan itu, saya bisa seikit lebih memaklumi seandainya ada orang yang melontarkan pertanyaan atau komentar yang inappropriate, karena di situ kita bisa mengetahui kualitas dia sebagai seorang pribadi. Tidak bisa kita mengharapkan ungkapan atau pertanyaan yang bermutu jika kualitas dia hanya segitu-gitunya. Tidak pandang bulu dengan tingkat pendidikan, sebab pendidikan tinggi tidak menjamin karakternya juga terpuji, itu beda masalah!***
Foto credit: Pixabay