AES 725 Jo & Jello
joefelus
Friday May 19 2023, 9:18 AM
AES 725 Jo & Jello

Tiba di rumah saya sangat lapar. Apalagi sepulang kerja saya menghabiskan lebih dari 1 jam berolahraga. Tubuh butuh asupan untuk mengembalikan tenaga. Untuk memasak sesuatu yang enak saya sudah tidak memiliki energy yang cukup, jadi harus sedikit kreatif dan berusaha membuat sesuatu yang membuat saya berselera, mengandung protein yang cukup, ada serat, dan juga mengenyangkan.

Saya ingat masih ada sisa telur yang saya rebus setengah matang untuk ramen, juga toge, udang besar-besar, dan beberapa helai baby bok choy serta sedikit jamur. Di atas kompor masih ada sisa kari Thailand yang sudah saya masak dengan santan. Yang hinggap dalam pikiran saya adalah laksa. Langsung saya lihat di kabinet apakah masih ada mie telur. Ternyata banyak. Maka saya rebus air dan mie saya masak selama sekitar 10 menit, sementara saya menyiapkan telur, udang, toge , jamur, dan baby bok choy. Begitu mie matang, saya taruh semua yang sudah saya siapkan diatas mie dan saya masukkan kuah kari. Tidak lebih dari 15 menit saya sudah duduk menikmati laksa abal-abal.

Ternyata rasa makanan abal-abal ini sangat enak, saya bisa merasakan aroma daun jeruk, daun ketumbar serta serai yang begitu harum tidak hanya di penciuman tapi juga ketika berasa dalam rongga mulut. Saya dapat merasakan kenikmatan dari rasa umami yang begitu lembut tapi juga kuat merangsang titik-titik perasa di lidah. Umami adalah istilah yang diterima dunia sebagai sebuah rasa baru, tidak hanya manis, pahit, asin atau asam. Mungkin umami lebih tepat diterjemahkan menjadi "gurih". Nah makanan yang sedang saya nikmati ini mempunyai cita rasa yang menarik apalagi dengan aroma udang yang kuat. Sengaja ketika memasak, saya tidak mengupas udang itu, kepalanya juga tidak saya buang, sebab menurut saya, cita rasanya justru ada di situ. Kulit dan kepala udang merupakan ingredien utama untuk membuat kaldu udang bukan? Kalau tahu cara membuat tom yum, kaldunya dibuat dari kulit udang! Semua rasa dapat saya nikmati, bahkan saya beri sedikit air jeruk hanya karena saya ingin menikmati semua rasa agar lengkap, ditambah rasa pedas. Nah Pedas sebetulnya bukan termasuk rasa (taste), kata para ahli pedas adalah pain! Hanya saja dalam bahasa indonesia pain adalah "rasa" sakit. Nah jadi agak tersesat di situ hahahaha..

Sambil menikmati makanan saya malah merenung tentang hidup. Lalu membanding-bandingkan dengan memasak. Pikiran ini memang sedang aneh hari ini. Sejak beberapa hari terakhir tidak punya ide, kali ini idenya juga agak tidak biasa. Menjalani hidup, seperti halnya memasak, agar memperoleh kenikmatan yang sempurna harus melalui banyak tahap.

Kreatifitas itu sangat penting dalam memasak, demikian juga hidup. Jika semuanya hanya monoton maka kita tidak akan bisa menikmatinya secara maksimal. Harus ada bumbu, harus ada keseimbangan dalam meramu, harus ada kelengkapan dan rasio yang tepat. Begitu juga hidup. Kita harus juga berani mencoba sesuatu dan tidak hanya terperangkap dalam comfort zone dan bermain dengan aman. Tanpa mencoba hal baru, saya hanya bisa makan ramen, tapi dengan sedikit kreatifitas yang tadinya ramen bisa jadi laksa! Hidup sepertinya harus bisa demikian.

Latihan sangat dibutuhkan dalam memasak. Semakin sering kita berlatih maka semakin terbiasa dan dengan sendirinya kita mempunyai "feeling" berapa banyak menambahkan gula atau garam dalam masakan kita sehingga memperoleh hasil yang sempurna. Demikian juga dalam hidup, kita harus banyak berlatih dalam menghadapi banyak situasi, semakin sering kita berlatih, semakin mampu kita menghadapinya.

Kesabaran itu juga penting dalam memasak. Kita tidak bisa terburu-buru untuk menghasilkan sesuatu yang baik. Untuk membuat kuah yang sempurna kita harus bersabar, banyak makanan yang membutuhkan waktu yang sangat lama untuk mencapai kesempurnaan. Hidup juga demikian! Jika kita terburu-buru dan mengabil jalan pintas maka kita akan banyak kehilangan kesempatan. Untuk mencapai suatu tempat jika kita bersabar, banyak yang dapat kita nikmati dalam mencapainya. Tidak hanya itu, jika sesuatu dilakukan dengan penuh perhatian serta usaha yang maksimal, maka hasilnya akan terasa lebih nikmat.

Ketika memasak, kadang-kadang hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Banyak uji coba dilakukan dan melalui banyak kegagalan. Belajar dari pengalaman maka usaha selanjutnya akan berusaha membuat dengan lebih baik, menghindari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan. Seperti merebus telur setengah matang. Ramen yang enak biasanya membutuhkan soft boiled egg. Ketika pertama kali membuat, kuning telurnya masih terlalu encer. Saya hanya memasaknya selama 6 menit lalu dimasukkan air es agar menghentikan proses memasak. Dari hasil pertama saya belajar bahwa butuh waktu lebih lama. Yang kedua kalinya saya beri 7 menit. saya suka ini tapi Nina beranggapan kurang matang. Nah belajar dari pengalaman sebelumnya sya tahu, untuk nina butuh setidak-tidaknya 8 hingga 9 menit! Pengalaman adalah guru yang baik bukan? Nah memasak dan menjalani kehidupan ternyata juga begitu. Dalam hidup kita tidak selalu mengalami hal-hal yang menyenangkan, usaha kita tidak selalu berhasil, tapi kita selalu bisa belajar dari segala bentuk kegagalan dan kesalahan.

Terakhir, kenapa judulnya Jo and Jello? Iseng saja! Hanya ingin menghubungkan saya dengan makanan lalu dikaitkan dengan hidup hahahaha.