AES 1108 Grief
joefelus
Friday June 7 2024, 10:56 PM
AES 1108 Grief

"Good Morning! You are so early today!" Kata Boss saya menyapa

"Good morning! Yes, I could not sleep and I like it to be here, nice quiet and peaceful." Jawab saya

Saat ini memang belum menunjukkan pukul 7 pagi. saya sudah berada di bakeshop sekitar pukul 6:40 pagi, melakukan berbagai urusan sebelum akhirnya ke kantor dan menjalankan tugas. Beberapa saat kemudian boss saya datang. Beliau juga senang tiba di kantor pagi sekali.

Saya memang beberapa waktu terkahir ini senang melakukan banyak hal di pagi hari, berusaha menyerap semua situasi dan ketenangan sebanyak mungkin karena saya tahu kurang dari 2 bulan lagi akan melepaskan semuanya. Saya akan kehilangan banyak hal, terutama ritual di pagi hari, teman-teman di tempat kerja dan banyak hal lainnya. Baru beberapa orang saja yang tahu bahwa saya akan pergi. Boss saya belum. Saya ingin menyampaikannya pada saat yang tepat.

Berduka karena kehilangan sesuatu atau seseorang itu sangat sulit dihadapi. Memang kita mengalaminya berkali-kali dalam hidup, tapi semua pengalaman itu tidak menjadikan kita seorang expert. Sama sekali tidak sebab semua peristiwa itu unik dan kita menghadapinya juga dengan cara yang berbeda-beda. Jangankah membandingkan dengan apa yang dilakukan orang lain, kita sendiri menghadapi berbagai peristiwa duka dengan intensitas dan cara yang berbeda.

Baru-baru ini seorang rekan kerja kehilangan anaknya yang masih kecil. Peritiwanya sangat tragis bahkan ditayangkan baik di TV maupun berita-berita lokal. Saya tidak ingat berapa umur anak itu, sangat menyedihkan ketika seseorang yang masih baru memulai kehidupan dan terengut begitu saja karena sebuah kelalaian. Anak satu-satunya itu meninggal dunia terjerat ayunan ketika kedua orang tuanya berada di dalam rumah.

Besok ada upacara memorial untuk anak yang meninggal itu. Saya bersama beberapa rekan kerja lainnya berencana akan hadir untuk memberikan support moral dan memberikan hiburan. Lalu ada pembicaraan yang sangat hangat. Seperti saya katakan setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk menghadapi kedukaan. Rekan kerja saya ini menghadapinya dengan cara yang menurut saya agak disrespectful. Dia agak kurang senang dengan orang-orang yang menyampaikan rasa simpati mereka. Dia berkata," I do not want to deal with other people emotions. I have enough stuff to deal with myself." Tidak hanya itu, seorang rekan saya lainnya juga bercerita bahwa dia merasa "beruntung" peristiwa menyedihkan itu terjadi karena sekarang bisnis suaminya menjadi lancar. Banyak hal lainnya yang dikatakan yang membuat saya merasa bahwa dia mengambil keuntungan dari berbagai simpati dari banyak orang yang dia terima.

Memang ada tahap-tahap yang biasa dijalani oleh orang-orang yang mengalami kedukaan dari mulai penyangkalan, rasa marah dan mencari kambing hitam, lalu mulai bargaining, lalu depresi dan akhirnya dapat menerima keadaan. Saya merasa rekan saya ini masih berjuang dengan semua perasaan termasuk rasa bersalah dia karena kelalaiannya sehingga tidak berada bersama anaknya yang mengalami kecelakaan. Mungkin cara dia menghadapinya tidak wajar, seharusnya saya mengerti itu. "We are fine! Even we are going to have a party after the memorial service with food and karaoke!" Katanya.

Itu memang terserah dia bagaimana menghadapi kedukaan hanya saja saya merasa tidak mau menjadi bagian dari acara hura-hura yang akan dia lakukan karena itu bukan cara saya dalam menghadapi kedukaan. Banyangkan saja jika saya yang menghadapi situasi itu dan Kano menjadi korban karena kelalaian saya, apakah saya akan mengadakan pesta dan bernyanyi riang gembira dengan mesin kakaoke? Itu bukan saya. Tapi saya menghormati pilihan rekan saya ini. kalau tidak setuju, ya itu tentunya masalah saya, bukan masalah dia. Sekali lagi setiap orang menghadapi kedukaan dengan cara unik masing-masing.

Foto credit; hospice.me