Saya punya alasan yang sangat egois kenapa akhir-akhir ini banyak cerita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi sehari-hari yang saya alami. Kemungkinan besar esai-esai saya ini tidak menarik untuk orang lain, tapi saya masih terus ingin menulisnya karena ini merupakan bagian dari usaha saya dalam mengabadikan hal-hal yang saya lihat, saya alami dan tidak ingin terlupakan.
Terus terang, akhir-akhir ini saya banyak melakukan hal-hal yang paling saya sukai. Pergi ke tempat-tempat favorit, menyaksikan pertunjukan-pertunjukan yang spesial, menikmati makanan-makanan khas yang saya gemari, dan lain sebagainya. Jika ada yang menanyakan mengapa saya melakukan hal-hal itu, jawabannya sangat sederhana, yaitu "mumpug masih di sini!" Jadi sama seperti orang-orang yang sedang pergi liburan mengunjungi banyak tempat dan berusaha tidak melewatkan tempat-tempat maupun peristiwa yang bisa dinikmati sebab itu adalah kesempatan terbaik dan berusaha sebaik mungkin untuk dapat melakukan semuanya.
Contoh misalnya, musim dingin di akhir tahun. Apa yang biasanya bisa dinikmati dan dikunjungi? Christkindle Market. Ini adalah pasar orang-orang Jerman yang lumayan otentik, walau ternyata tidak semuanya Jerman, sebab di sana saya bisa membeli ponco tenunan khas suku Maya, dan ada juga boneka-boneka khas Rusia. Yang saya cari di sana adalah Mug yang setiap tahun memiliki disain yang berbeda. Mug ini biasa digunakan oleh orang-orang Jerman untuk menyajikan minuman tradisional yang namanya Gluhwein yang kalau diucapkan gaya Indonesia seperti gluuvain (gloo-vine). Yaitu minuman tradisional khas Jerman yang merupakan minuman anggur hangat yang diberi rempah. Karena udara dingin biasanya anggur ini ditambah 1 sloki minuman keras lain. Rasanya agak manis berempah, hampir mirip seperti anggur obat di Indonesia atau bahkan anggur dalam perayaan ekaristi di gereja, hanya ini hangat (dalam pengertian suhu sebab memang dimasak) dan harum rempah apalagi ditambah minuman keras (liquor) lainnya. Untuk cuaca dibawah nol derajat ini menjadi salah satu minuman kegemaran saya walau sebetulnya saya harus hati-hati karena mengandung kayu manis yang tubuh saya agak "tidak mau bersahabat" dengannya hahahaha. Makanan apa saja yang bisa ditemukan di sana? Banyak! Yang jelas segala bentuk sosis Jerman, Pretzel, berbagai jenis keju, pastry seperti strudle, coklat dan banyak lagi. Pokoknya ini seperti pasar kaget khas Eropa. Hari minggu kemarin sebelum pergi ke konser, saya mengunjungi tempat ini yang hanya diadakan setahun sekali di pertengahan bulan Nopember hingga berakhir beberapa hari sebelum Natal.

Apalagi yang bisa dinikmati di musim dingin? Keliling kota dan pedesaan menyaksikan bagaimana masyarakat menghias rumah mereka. Orang-orang sini memang suka berhias! Di musim Semi, mereka berkebun menanam bunga, sayuran dan tanaman lain, sehingga di musim semi dan musim panas halaman rumah peenuh bunga, tomat, cabe, bahkan jagung! Musim gugur beda lagi, karena pepohonan gundul dan tanaman mati atau kering seperti rumput menjadi kuning dan menghilang, halaman rumah diganti dengan hiasan-hiasan sesuai dengan perayaan-perayaan tertentu. Halloween mereka mengias dengan hantu-hantuan, tengkorak, batu nisan atau jack lantern yang terbuat dari labu raksasa. Lewat Halloween, mulailah hiasan berubah, biasanya sesudah Thanksgiving banyak rumah bersolek dengan hiasan lampu-lampu, snowman, dan sebagainya. Ini sangat asyik dilihat, jadi selama beberapa tahun terakhir sesudah saya memiliki kendaraan, saya senang keliling menikmati keunikan musim dingin yang tentu saja tidak mudah ditemukan di Bandung.
Teman-teman mungkin sudah tahu bahwa saya tukang makan. Nah tinggal di sini merupakan sorganya makanan. Saya hampir bisa makan apa saja, mencoba berbagai jenis makanan dari banyak tempat. Ini kesempatan utuk mencoba. Tidak hanya mencoba sih, tapi juga belajar! Saya penggemar daging merah, nah tentu saja Colorado merupakan tempat yang baik jika ingin makan steak misalnya. Karena di sini banyak farm yang berternak sapi. Kalau di Bandung saya tidak akan mampu beli daging sapi kualitas USDA, daging import sangat mahal, pilihannya terpaksa memilih daging lokal yang kualitasnya tentu jauh lebih rendah karena (maaf saja, ini fakta) sapi di Indonesia kurus-kurus dan tidak mempunyai kandungan lemak yang cukup jadi cenderung dagingnya alot. Kalau punya uang lebih baru bisa membeli daging import yang terjangkau seperti dari New Zealand atau Australia, tapi terus terang kalau dibandingkan dengan kualitas daging USDA, ya tetap masih kalah jauh. Nah mumpung di sini, ya saya nikmati sepuasnya. Pho misalnya, ini sup Vietnam favorit saya. Dulu di Bandung saya sering membuat sendiri, masalahnya hanya 1, sulit menemukan Thai basil. Saya sampai menanam sendiri agar bisa membuat pho. Soal makanan memang serba sulit karena keterbatasan supply. Kalaupun ada, karena bukan staple food masyarakat umum, ya jelas harganya juga berbeda.
Hal lain yang saya manfaatkan adalah urusan kesehatan. Saya punya asuransi yang sebagian besar dibayar oleh kantor. Nah, saya manfaatkan sebaik mungkin walau tentu saja saya punya kewajiban untuk membayar porsi "out of pocket" yang maksudnya porsi yang tidak ditanggung asuransi. Contohnya misalnya operasi. Bayangkan jika tidak ditanggung sebagian oleh asuransi. Screening juga saya manfaatkan karena biayanya sangat mahal, misalnya colon cancer screening. Itu sudah saya jalani dan tidak perlu dilakukan lagi sampai 10 tahun mendatang. Colon cancer adalah salah satu penyebab kematian tertinggi karena tidak terdeteksi. Vaksinasi, ini juga menjadi prioritas saya karena semua ditanggung oleh asuransi. Jadi saya setiap tahun ambil flu shot, vaksin campak hingga vaksin covid sudah saya ambil semua hingga booster yang ke-3.
Masih banyak lagi hal-hal yang saya lakukan di sini. Karena waktu tersisa sudah mulai banyak berkurang, saya mengubah persepsi. sekarang bukan "bermukim" lagi tapi saya melihatnya sebagai "libur panjang" ya liburan berbulan-bulan hahaha.. Oleh sebab itu, ya saya lakukan sebanyak dan semaksimal mungkin karena mumpung! Mumpung masih di sini! Hehehe...