Di Ririungan, terutama Atomic Essay Smipa atau disingkat AES, kita bisa menulis apa saja. Jadi sebetulnya jika kita beralasan tidak tahu akan menulis apa untuk berkilah dan melakukan justifikasi supaya tidak menulis, itu tidak tepat. Beberapa waktu yang lalu saya bahkan menulis tentang jamban, hahaha.. Sungguhan, sampai dikomentari oleh @kak-andy. Hahaha.. Nah pagi ini, karena saya belum tahu akan menulis apa, saya memaksakan diri untuk menulis tentang sesuatu. Lihat saja nanti, masa tidak dapat memilih satu bahan obrolan dari milyaran kemungkinan?
Namun hingga saat ini, pukul 11:13 malam, obrolan saya ini masih mandeg di paragraf pertama, saya masih belum dapat memilih satu topik yang menarik yang ingin saya kembangkan. Sambil berpikir, saya iseng melanjutkan nonton petualangan satu keluarga yang berkeliling dunia. Menarik sekali mengikuti kisah-kisah mereka dalam menjalani petualangan mereka berpergian ke berbagai negara.
Saya begitu tertarik karena walaupun pengalaman saya tidak seseru mereka dalam bepergian, tapi setidak-tidaknya ada beberapa hal yang dapat saya mengerti bahkan ikut saya rasakan. Tadinya saya hanya iseng nonton mereka karena ingin mencari semacam referensi tempat-tempat makan yang pernah mereka kunjungi di berbagai kota yang pada saat itu akan saya datangi bersama teman-teman dari Colorado. Sekarang sesudah semuanya usai, justru saya melihat hal-hal lain yang mereka alami.
Keluarga ini berasal dari Amerika, selama 9 tahun berpetualang ke berbagai negara. Sepasang suami istri dan 3 orang anak mereka yang masih kecil-kecil melakukan berbagai perjalanan. Mereka adalah sepasang guru yang selama beberapa tahun bekerja di Timur Tengah, di India dan terakhir di Tembagapura di Papua sebelum akhirnya berhenti bekerja dan memutuskan sepenuhnya menjadi youtuber. Luar biasa berani.
Nah yang sangat menarik adalah kisah yang jika saya hubungkan dengan obrolan saya kemarin bahwa cita-cita seringkali hanya sebagai batu loncatan. Pada saatnya seseorang akan dapat menemukan pintu kesempatan, jalan, dan passion yang kemudian menjadi tujuan hidup mereka. Mereka tidak akan dapat melakukan yang saat ini mereka cintai jika pada awalnya tidak meniti karir sebagai guru. Ketika menjadi guru juga mereka tidak akan pernah berakhir seperti sekarang jika tidak berani memutuskan berkarya di negara lain, dan ketika berkarya di negara lain mereka tidak akan dapat menemukan apa yang mereka cintai jika tidak mulai bepergian sambil mengabadikan pengalaman mereka dalam bentuk video blog.
Seperti saya katakan kemarin, cita-cita dan mimpi itu sangat baik karena bisa menjadi semacam sarana untuk membuat kita terus bergerak maju sambil dalam menjalaninya melihat berbagai kemungkinan, mencari berbagai kesempatan sambil berbenah diri serta melakukan self improvement. Pada saat yang tepat, suatu kesempatan akan muncul dan menjadi jalan yang dipilih untuk melanjutkan perjalanan hidup.
Memang benar ada yang sejak awal sudah dapat menemukan pilihan. Ada seorang artis penyanyi yang berkata bahwa dia sudah memutuskan ingin menjadi seorang penyanyi sejak berusia 4 tahun. Ya, beruntunglah dia jika memang ternyata kesempatan itu sudah terbuka di usia dini. Tapi apakah semua orang dapat mengalami seperti ini? Seperti keluarga yang saya jadikan contoh obrolan saya hari ini, ketika mereka memilih menjadi guru puluhan tahun yang lalu, istilah youtuber saja belum populer, bahkan youtube saja baru diluncurkan 2 dekade yang lalu. Ya jalan hidup setiap orang berbeda-beda, dan bagi saya pengalaman orang lain itu sangat menarik untuk dijadikan topik belajar.
Foto credit: youtube.com