AES 1569 Pengalaman Kuliner 1: Beignets
joefelus
Wednesday February 25 2026, 11:04 AM
AES 1569 Pengalaman Kuliner 1: Beignets

Saat itu masih pagi di awal musim panas di kota New Orleans, di state of Louisiana. Kemarin malam hujan lumayan lebat sehingga pagi ini terasa lebih lembap, ditambah sinar matahari yang cerah. Untuk ukuran, pagi di musim panas di daerah Bayou ini masih saya anggap nyaman. Tunggu saja ketika matahari semakin tinggi, nah itu akan jadi lain cerita, kelembaban dan suhu panas bukan kondisi yang menyenangkan apalagi buat saya yang sudah terbiasa dengan daerah kering dan elevasi yang tinggi.

Misi pagi ini adalah berjalan kaki sekian blok jauhnya untuk mencicipi beignet. Kata orang, jika mengunjungi New Orleans tapi tidak mencicipi beignet, belum sah! Sama seperti kalau ke Garut, tapi tidak mencoba Burayot! Hahaha..

Beignet sangat terkenal di New Orleans, malah sering kali ketika kita membahas jajanan ini, orang langsung mengasosiasikan dengan New Orleans. Itu yang membuat banyak turis, termasuk saya, menjadi penasaran. Sebelumnya saya sudah mencicipi di kota lain, bahkan di tempat dulu saya tinggal di Fort Collins, ada 2 restoran bertemakan Cajun Cuisine yang menjual. Saya sudah coba dua-duanya. Ya, biasa saja, seperti odading atau kue bantal yang ditaburi gula bubuk. Justru yang saya lebih terkesan adalah beignet dari restoran Perancis yang beberapa kali sudah saya kunjungi. Namanya Le Creperie. Beignet di sini jauh lebih upscale seperti donat yang naik pangkat karena super lembut, buttery, velvety, dan diberi isian seperti puree mangga, Nutella, dan sebagainya. Harus datang pagi-pagi sekali jika tidak mau kehabisan karena sangat disukai orang.

Eniwei, saya dan sahabat saya, Mas Aris, bangun pagi-pagi dan menyusuri jalan yang masih banyak genangan air karena hujan semalam. Kota New Orleans bukan kota modern seperti New York, Chicago, bahkan seputar Jalan Sudirman di Jakarta yang terlihat mewah punya gedung bertingkat. Kota New Orleans terlihat seperti kota tua peninggalan kolonial. Hotel tempat kami kebetulan tinggal berseberangan dengan French Quarter yang terkenal penuh dengan "kehidupan". Gedung-gedung kuno berusia sekitar 3 abad bertebaran di mana-mana dengan gaya Perancis, Spanyol, dan Karibia bercampur di sana menciptakan berbagai budaya baru hasil dari inkulturasi dan melting pot 3 budaya ditambah budaya kulit hitam yang kental. Jika tahu istilah voodoo, nah, daerah ini sangat kuat paham kleniknya, bahkan saya sempat mengunjungi museum voodoo yang terus terang kalau saya boleh jujur membuat tersenyum dalam hati sepanjang kunjungan saya ke tempat itu sebab banyak yang tidak masuk akal dan mengada-ada. Tapi budaya yang meyakini ritual ini jangan dianggap remeh sebab kalau ada asap berarti ada apinya, bukan?

Kami berdua menyusuri jalan raja yang di tengahnya ada median dan pada saat tertentu ada kereta seperti trolley yang beroperasi di situ. Bangunan-bangunan tua mewarnai pemandangan pagi ini. Loteng dengan pagar terbuat dari besi tempa menjadi ciri khas daerah sini. Mirip-mirip daerah Pecinan kuno, hanya saja Pecinan sering kali ditandai dengan pintu dan jendela yang besar-besar dan pagarnya bukan dari besi tempa seperti di sini. Saya bukan ahli arsitektur, jadi penjelasan saya bisa saja ngawur, bayangkan saja filem-filem Amerika yang menggambarkan perbudakan daerah Selatan, dengan bangunan-bangunan kolonial tua daerah pertanian. Ya, kurang lebih seperti itu, hanya saja ini di perkotaannya. Kami melewati samping French Quarter yang terkenal dengan Bourbon Street, tempat keramaian pada saat Mardi Gras, sehari sebelum perayaan Rabu Abu menjelang masa pra-Paskah. Nah, ini tempat orang berpesta pora gila-gilaan sebelum memasuki masa puasa.



Jalanan belum terlalu ramai dan kami berdua mulai berkeringat karena lembap dan matahari mulai naik. Tujuan kami adalah Café du Monde. Di sana sudah terlihat ramai karena sudah waktunya sarapan. Ratusan orang duduk di meja-meja restoran kuno ini, sementara yang berdiri antre juga jumlahnya sudah sangat banyak. Di depan restoran ada sekelompok orang yang bermain musik yang sangat khas daerah situ. Ada terompet, trombon, drum dan alat musik lainnya. Mengingatkan saya pada musik-musik khas Louis Armstrong yang, kalau saya tidak salah informasi, memang berdomisili di sini, bahkan bandara di New Orleans namanya Louis Armstrong. Kalau tahu lagu What A Wondeful World, nah itu salah satu lagu terkenal yang dinyanyikan oleh beliau.

Karena sepertinya tidak mungkin kami duduk dan makan di sana, melihat jumlah orang yang antre menunggu meja dan hiruk pikuknya restoran ini. Kami memutuskan untuk membeli beignets untuk dibungkus dan dibawa pulang supaya Kano dan Nina juga bisa ikut merasakan. Antrean sangat panjang dan kami harus benar-benar sabar. Ini membuat saya sangat penasaran mengapa ratusan orang bersedia antre untuk jajanan ini. Apakah karena penasaran seperti kami atau karena memang enak? Kalau saya sangat penasaran sebab banyak filem-filem mempertontonkan betapa luar biasanya beignet ini, salah satunya filem Chef (2014) yang dibintangi John Favreau, John Leguisamo, hingga Robert Doney Jr, Scarlett Johansson maupun Dustin Hofman. Kami memesan 3 bungkus beignet yang penuh dengan taburan gula bubuk dan 2 gelas kopi. Sambil berjalan keluar, kami langsung mencicipi. Mulut saya langsung belepotan gula bubuk, sepertinya 1 kantong berisi entah berapa potong beignets, tapi dengan taburan gula bubuk yang sangat berlimpah. Rasanya ya seperti kue bantal atau odading yang bagian luarnya krispi, tapi bagian dalamnya pilowy dan kopong ditambah rasa manis dari gula bubuk yang berlimpah. Lalu ditambah dengan kopi pahit (yang konon juga terkenal, bahkan kopi bubuknya dijual di mana-mana dalam kemasan kaleng besar dengan gambar restoran itu, di Tokopedia dijual dengan harga 229 ribu rupiah) ya enak! Kopi dan donat memang paduan yang comforting untuk sarapan pagi. Apakah luar biasa rasanya? Tidak juga! Yang saya rasakan spesial bukan beignetnya! Tapi pengalamannya. Sama seperti minum kopi Starbucks, ya begitu-begitu saja, tapi ketika saya minum yang dari toko cikal bakal yang pertama di sejarah bisnis mereka di Seattle, ya pengalaman serunya saja yang saya rasakan. Kopinya mah sama saja! Itu bedanya. Menikmati beignet dan menyeruput kopi pahit di New Orleans punya perasaan yang berbeda daripada makan beignet dan minum kopi yang mungkin jauh lebih enak di Bandung!

Lalu apa serunya bersusah payah ke Café du Monde kalau beignetnya biasa saja? Ya itu tadi yang saya katakan, pengalaman. Apakah sepadan? Untuk perasaan yang saya nikmati pagi itu, saya katakan iya. Apakah saya ingin kembali ke sana? Jika alasannya untuk beignet, saya akan kataka tidak sebab saya bisa menemukan beignet yang lebih enak di tempat lain, bahkan saya bisa buat sendiri yang jauh lebih enak, lebih murah dan lebih banyak. Tapi menikmati suasana di sana, dengan musik yang khas, antre bersama ratusan orang lain, ditambah pengalaman berjalan kaki pagi hari sambil menikmati pemandangan di sana, memberikan perasaan berbeda. Ini adalah satu paket, satu kemasan yang hanya bisa dinikmati di sana.

Foto credit: amateurgourmet.com