Tulisan ini juga merupakan cuplikan tulisanku dari buku "Journey To The West" yang akan direlease di sekitaran bulan Agustus.
Aku ingat hari itu hari Selasa, kami berkumpul di Sekolah pada pukul 11.00 WIB sudah bersiap dan membawa carrier masing-masing. Keluarga dan teman-teman kami berkumpul untuk menyampaikan selamat tinggal terakhir, tepat sebelum pergi kami berfoto dan berpelukan menyemangati kami sambil berpamitan. Kami menunggu kurang lebih 1.5 jam dan berangkat ke Bandara Soekarno Hatta Jakarta menggunakan mobil orangtua Ezar dan Mikha. Aku kebagian di mobil Ezar bersama Kak Gina dan Yanuar, dalam mobil kami banyak cerita dan bercanda mengenai persiapan ke Sumba. Kami juga cerita sedikit tentang polusi Jakarta dan pengalaman liburan kami bersama keluarga sebelumnya. Pada saat itu aku semangat banget dan gak sabar sampai tapi tegang juga sih abisnya kaget gak kerasa tiba-tiba udah mau ke Sumba aja. Tidak lama kami sampai di Airport Soekarno Hatta Jakarta namun masih menunggu mobil Mikha, aku dan Yanuar jajan Roti O dan memuaskan diri mengetahui di Sumba tidak akan Roti O, (spoiler: ternyata ada roti beta) dan menunggu teman kami.
Setelah mobil Mikha datang, kami langsung bergegas mengambil trolley dan menumpuk barang bawaan. Saat itu suasanannya cukup tegang walaupun nampaknya kami sembunyikan dengan banyak candaan dan obrolan-obrolan kecil. Walaupun tegang saat itu aku semangat banget dan gak sabar untuk masuk dan check-in bagasi kami. Selain karena semangat, udara di depan juga sangat gerah sehingga aku gak sabar masuk ke dalam kenyamanan AC hehe. Setelah menunggu pada ke toilet, berpamitan dan berfoto bersama akhirnya kami masuk ke tempat check-in bagasi. Prosesnya cukup simpel dan mudah karena pengalaman-pengalaman kami sebelumnya juga. Setelah check-in bagasi kami langsung bergegas masuk ke gate kami melewati proses pengecekan terlebih dahulu. Di dalam gate kami makan dan jajan sedikit sambil menunggu delay pesawat kami yang mencapai kurang lebih satu jam.
Perjalanan menuju Bali di pesawat cukup berkesan melihat Pulau Jawa malam dari ketinggian sambil menebak posisi pesawat berada saat itu. Sesampainya di Bali kami langsung mengambil barang dari bagasi dan keluar untuk mencari posisi tidur semalam di depan bandara. Kami sempat jajan, berfoto, dan mencari tempat colokan listrik yang sulit sekali hingga aku harus menanyakan satpam sambil ngobrol. Malam itu nampaknya aku tidak begitu kesulitan tidur walaupun sering sekali terbangun oleh banyak hal terutama karena gak sabar mau pergi ke Sumba. Pagi hari itu aku terbangun oleh matahari, kami langsung masuk dan check-in bagasi kami dan masuk ke dalam gate melewati proses pengecekan yang ribet banget. Ezar dihentikan karena membawa lem sepatu yang dimana tidak boleh dibawa haha, ada-ada aja Ezar membawa segala macam di tas kedua sehingga lebih berat dari tas carrier utama. Di dalam kami sarapan dan setelah menunggu di gate paling keren di terminal kami, karena kaca di depannya langsung menghadap ke pesawat memperlihatkan crew-crew sedang mempersiapkan pesawatnya. Akhirnya kami boarding dan terbang tanpa delay-delay lagi, setelah kurang lebih 2 jam melihat Pulau Lombok, Pulau Komodo, dan Sumba dari ketinggian kami akhirnya mendarat dan melalui proses keluar dari airport lagi. Setelah itu kami langsung disambut oleh Kak Yustin menaiki mobil van, melewati Kota Tambolaka menuju ke LC, Unika.