Salju turun cukup deras pagi ini. Saya sudah harus bersiap-siap ketika hari masih gelap. Sudah bukan subuh lagi sebetulnya karena di musim dingin matahari baru muncul lewat pukul 7:00 pagi. Saya harus bergegas sebab kendaraan harus dibersihkan dari salju dan sengaja akan saya buat kendaraan kami senyaman mungkin dan hangat sebelum Nina dan Kano siap. Pagi ini kamiakan ke rumah sakit karena sepertinya Kano alergy entah terhadap apa, seluruh tubuhnya penuh dengan rashes. Apakah karena udara kering dan dingin atau karena makanan, saya tidak tahu. Butuh saran dokter dan mungkin butuh rujukan ke dokter spesialis agar dapat segera ditangani. Kasihan dia kalau menghadapi kondisi ini dan bekerja di dapur yang panas dan membuat dia berkeringat.
Sesudah membersihkan diri dan memakai pakaian tebal, kaus tangan serta topi, saya keluar rumah. Halaman belum tersentuh apa-apa, lapisan salju di tanah masih sangat bersih dan indah karena belum ada yang menginjak. Karena saya punya banyak waktu, tidak tahan untuk tidak mengabadikan dan mengambil beberapa foto serta video sebelum kemudian berjalan ke mobil. Saya agak merasa bersalah menginjak lapisan salju yag bersih dan putih ini yang sekarang menjadi penuh degan jejak kaki saya. Saat ini menurut aplikasi di telepon pintar menunjukkan -25 Celcius. sangat dingin dan membuat wajah saya yang tidak tertutup terasa pedih, tapi saya tidak punya pilihan. Kendaraan harus dibersihkan jika ingin digunakan.
Saya bersihkan kaca depan, kaca samping, atap mobil dan kaca belakang dsri salju. Yang penting saya bisa melihat ke berbagai penjuru ketika mengemudi. Sementara saya membersihkan bagian luar, mesin saya nyalakan dan heater dihidupkan sehingga di dalam nanti akan nyaman dan hangat. Ketika hampir selesai saya lihat Kano dan Nina berjalan perlahan-lahan, jadi saya segera menyelesaikan tugas saya membersihkan lalu menyiapkan kendaraan sehingga mereka bisa langsung masuk dan dapat segera berangkat. Masih ada 15 menit lagi waktu untuk ke rumah sakit. Saya perhitungkan paling lama ke rumah sakit akan memakan waktu sekitar 10 enit karena kendaraan harus dikemudikan perlahan-lahan mengingat jalanan penuh salju dan pandangan sangat terbatas.
Jalanan tidak terlalu ramai, mungkin karena hari ini hari libur, Martin Luther King Day, sehingga memudahkan saya untuk mengemudi. Tepat seperti perkiraan, kami tiba di sana tidak lebih dari 10 menit. Dan Kano langsung masuk tanpa ada antrian, juga tidak makan waktu lama Kano sudah keluar lagi. Dia akan mendaoat rujukan ke dokter spesialis. Kami lalu memutuskan untuk mencari sarapan. Jarang kami dapat pergi bertiga. Kano itu nocturnal, tidur di siang hari dan sibuk di malam hari. Waktu dia berbeda dengan waktu Nina dan saya, sehingga kami memang jarang berjumpa, apalagi dapat sarapan bersama. Kami memutuskan pergi ke sebuah diner kecil bernama The Breakfast Club. Ini adalah restoran kecil yang banyak dikunjungi para pensiunan, veteran perang, opa-opa dan oma-oma. Menunya sederhana, khas menu sarapan Amerika. Harganya pun lebih murah jika dibandingkan dengan restoran-restoran modern lainnya.
Salju semakin lebat dan jarak pandang semakin terbatas, tapi ini tidak menghalangi kami untuk pergi ke The Breakfast Club. Kano katanya sangat kelaparan. Nina dan Kano langsung masuk sementara saya mencari parkir dan segera menyusul masuk ke dalam kedai makan itu karena diluar sangat dingin. Nina memesan menu untuk pensiunan, pancake, 1 telur mata sapi, bacon, dan secangkir decaf coffee. Kano memilih skillet yang berisi potongan kentang yang dimasak bersamaan dengan bacon, ham dan sayuran lalu diselesaikan di oven sesudah ditaburi dengan keju hingga meleleh, disamping itu dia juga mendapat sebuah pancake dan secangkir coklat panas dengan whipped cream di atasnya. Saya selalu memilih menu favorit yaitu pancake, hashbrown, 2 telur mata sapi yang saya minta setengah matang, 2 buah link sausage, ham dan bacon, serta secangkir Kopi.
Kami duduk dekat jendela, mengobrol santai sambil memandang keluar menyaksikan salju yang turun tanpa henti. Ini merupakan kesempatan yang sangat jartang dapat kami nikmati. Nina dan saya sering sarapan berdua di berbagai tempat, tapi kehadiran Kano memang memberikan susana kehangatan yang berbeda. Ini membuat saya sangat bahagia. Duduk bertiga sambil ngobrol dan menikmati salju yang turun. Sebuah perasaan hangat dan penuh kebahagiaan menyusup kedalam relung hati. Ini persitiwa yang nanti akan saya sangat rindukan ketika beberapa bulan mendatang kami akan tinggal berjauhan. Kano akan menetap di Colorado, sementara Nina dan saya akan kembali ke Indonesia.
Salju, entah mengapa, menimbulkan perasaan yang sangat romantis. Musim dingin, baju hangat memiliki kesan yang spesial dalam hidup saya. Tidak ada habis-habisnya saya mengucapkan terima kasih dan bersyukur bahwa kami bertiga dapat menikmati pagi ini. Di luar memang sangat dingin, tapi di dalam ditambah kehangatan dari kehadiran kami bertiga membuat pagi ini begitu spesial. Seandainya saja saya dapat menghentikan waktu, freeze the moment, dan menikmati ini selama saya bisa, akan sungguh sangat menyenangkan.
Makanan tiba, meja kami penuh karena setidak-tidaknya masing-masing mendapat 2 piring besar dihadapan kami. Masing-masing 1 piring untuk pancake, dan satu piring lagi untuk menu sarapan utama. 6 piring besar untuk bertiga. Belum lagi Telur, Kano tidak suka telur sehingga miliknya dipisah dan biasa dihabiskan entah oleh saya atau Nina. Melihat telur mata sapi setengah matang, saya langsung tersenyum dan ingat kembali peristiwa puluhan tahun yang lalu bersama sepasang suami istri sahabat Nina dan saya di kota New York. Itu juga terjadi di bulan Januari, di musim dingin ketika kami masih jauh lebih muda dan belum memiliki anak. Duduk di sebuah kedai yang sederhana seperti sekarang, dengan kemampuan bahasa Inggris ala kadarnya terbata-bata berusaha menjelaskan telur setengah matang pada seorang waiter yang berasal dari Libanon, yang bahasa Inggrisnya pun terbatas, beraksen kental dan lucu.
"Ooo.. We call it over easy, is that what you want?" Tanyanya. Saat itu kami berempat tidak tahu apa istilahnya telur setengah matang hahahaha..
Sekarang, hampir 25 tahun kemudian setelah kejadian menarik di New York itu, saya duduk bersama bersama Nina dan Kano. Menikmati menu yang hampir serupa, pancake, bacon dan telur. Dua musim dingin, dua tempat berbeda, mungkin saya juga sudah menjadi manusia yang berbeda tapi saya masih mempunyai kenangan perasaan serupa. "Ah, dasar saya seorang pelamun!" Kata saya dalam hati. Saya melemparkan senyuman pada Nina dan Kano yang duduk berseberangan dengan saya. Sambil diliputi kebahagiaan, saya mengambil pisau, menciduk sedikit whipped butter lalu mengoleskannya di atas pancake raksasa di piring besar di hadapan saya, lalu mengambil maple sirup dan mengguyurkannya di atas pancake itu. Waiter meletakkan saus tomat serta sebotol cholula, sambal yang hampir selalu dapat dijumpai di kedai-kedai di sini, tidak terlalu pedas tapi kental dengan rasa asam dari cuka. Saya teteskan di berbagai tempat atas makanan di hadapan saya. Kami meneruskan obrolan sambil menikmati sarapan. Ini pagi yang sangat menyenangkan dan saya tidak ingin perasaan ini segera berakhir. Di luar salju terus turun, menutupi semua permukaan, tidak ada suara, hanya kesunyian yang meliputi semua keindahan... Ini akan menjadi salah satu pagi yang akan saya selalu kenang.
Foto credit: retro1025.com