Dua hari Satu malam dengan tangis yang tak kunjung henti. Penyesalan yang menghantui. Kuputuskan, saatnya untuk pulih dan mengakuinya. Langkah yang tak mudah, rasanya sakit seperti di telanjangi. Namun katanya keterbukaan adalah awal dari pemulihan, dan aku percaya itu.
Setiap sesi begitu tepat sasaran, kurasa dua hari satu malam untuk itungan retret gereja merupakan waktu yang sangat singkat, tanpa api unggun di malam hari. Namun nyatanya aku mengalami pemulihan besar besaran disana. Menulis surat untuk orangtua merupakan salah satu momen yang mengeluarkan tangisan tak henti. Sembari menulis, air mataku berjatuhan ke kertas yang sedang ku tulis. Permintaan maaf, terimakasih, juga harapan untuk mereka kutulis dalam kertas itu. Suratku tak panjang, bahkan tak sampai setenah kertas yang diberikan. Namun orang tuaku menangis ketika membaca surat yang kutulis.
ketika panitia memberitahu bahwa orang tua sedang ada di aula dan kami diinstruksikan untuk berbaris dan menuju aula, aku melihat kedua adikku di dekat tempat makan. Aku tersenyum. Saat aku masuk, aku mencari keberadaan orang tuaku, yang ternyata sedang duduk di depan melihat ke arah belakang. Aku memeluk mamih dan papih dengan tangisan. Setiap sesi yang ada selalu mengingatkanku pada orang tuaku.
ketika sudah memberikan surat itu dan aku berlutut di hadapan orang tuaku lalu mereka menumpangkan tangannya dan berdoa. Aku pulih.