AES 1362 Replika Masa Lalu
joefelus
Saturday March 15 2025, 9:57 AM
AES 1362 Replika Masa Lalu

"Agnes bilang apa soal roti?" Tanya Nina.

"Ga bilang apa-apa, tuh." jawab saya.

"Buat dia roti itu mah ga berarti apa-apa. Cuma roti biasa yang rasanya manis. Beda sama kita karena roti itu mengingatkan banya hal." Sambung saya lagi.

Memang roti yang saya buat beberapa hari lalu itu memiliki nilai yang khusus. Saya buat banyak, sehingga adik saya bagi. Sebetulnya hanya dinner rolls biasa, yaitu roti yang disajikan biasanya bersamaan dengan makan malam, oleh sebab itu disebut dinner rolls. Bentuknya biasanya bulat-bulat, kecil-kecil dan banyak jenisnya. Ada sourdough, sweet dinner rolls, keju seperti misalnya cheddar, herbs atau rempah-rempah seperti rosemarry, garlic dan lain sebagainya. Banyak! Dulu di tempat kerja saya harus memasukkan belasan resep dinner rolls yang disajikan bergantian setiap hari. Biasanya bahan-bahannya berupa tepung, gula, garam, ragi, telur dan susu, lalu baru variasinya ditambahkan berupa rempah-rempah, keju, madu dan sebagainya.

Mengapa dinner rolls memberikan arti khusus bagi Nina dan saya? Karena sangat erat kaitannya dengan pengalaman berbagai peristiwa. Mengingatkan kami pada rumah makan yang menjadi langganan kami, orang-orang yang menemani kami pada saat makan, perayaan-perayaan tertetu, peristiwa dan pengalaman khusus dan lain sebagainya. Sama saja seperti makanan kita di jaman masih kecil, memiliki arti spesial. Tidak jarang kita kangen dengan makanan atau jajanan masa kecil meskipun seandainya makanan itu biasa saja. Saya ingat ada sejenis jajanan jaman kecil yang kerasnya bujubune bisa bikin gigi protol, terbuat dari tepung bentuknya seperti bola dibelah dua, berwarna kecoklatan dan rasanya manis. Saya lupa namanya apa, tapi ini memang sangat keras. Anehnya, saya suka kangen benda ajaib ini. Padahal kalau saya nanti dapat, belum tentu berani makan karena ganti gigi biayanya bisa jutaan kali lipat hahahaha..

Eniwei, menurut para ahli, manusia menyimpan memory di dalam otak. Kalau tidak salah hippocampus adalah bagian yang sangat penting yang berada di lobe temporal di masing-masing celebral cortex. Hippocampus ini konon membantu menciptakan memori yang long term maupun spasial dan terhubung dengan bagian otak lainnya yang memproses bau-bauan dan emosi-emosi lainnya. Nah, jadi ketika kita mencicipi atau mencium sesuatu sering kali mentrigger emosi dan memori bahkan hampir di tingkat bawah sadar.

Nah, mengetahui ini semua membuat saya sangat paham mengapa banyak sekali jenis-jenis makanan maupun bau-bauan yang langsung bisa mengajak saya ke masa lalu, pengalaman tertentu bahkan secara emosi, saya dapat seolah-lah merasakan kembali apa yang saya alami pada waktu-waktu spesial itu. Menarik sekali, ya?

Nah beberapa minggu yang lalu saya duduk di pingir jalan di kota kecil dimana dulu saya dibesarkan. Saya duduk di sana sambil memegang sebuah piring berisi sedikit nasi dan sate kambing. Satenya sangat unik karena hanya diberi kecap dan bubuk cabe, tapi kecapnya memang tidak dapat dibandingkan dengan ketika saya makan sate di tempat-tempat lain. Ini encer, agak asam dari kucuran jeruk nipis, pedas yang khas dari cabe bubuk dan tentu saja harumnya sate yang khas.

"Kalau bawa kontainer, ini kecapnya akan saya bawa pulang!" Kata saya pada teman-teman yang juga ikut menemani.

Kecap sate ini belum pernah berhasil saya tiru padahal saya tahu dengan jelas campurannya, bahkan saya membeli kecap dari pabrik yang sama, diberi jeruk nipis dan sebagainya. Tidak pernah berhasil. Entah mengapa, sampai-sampai saya berpikir kemungkin otak saya tidak mampu menciptakan replika peristiwa itu karena berada di tempat yang salah, suara-suara serta kebisingan yang tidak tepat serta banyak hal lainnya. Sama seperti kita makan gudeg, jika duduk di emperan jalan Malioboro sambil merasa terganggu sebab setiap 5 menit sekai ada pengamen, rasanya beda dengan makan gudeg di tempat lain. Ada sisi-sisi tertentu yang otak kita tidak bisa dibohongi.

Sama seperti dinner rolls yang saya buat. Bentuknya sama, kelembutannya sama bahkan rasanya sangat mendekati, tapi ketika saya nikmati, tetap ada sebuah perbedaan yang tidak dapat diungkapkan. Apakah pada dasarnya manusia itu sangat terikat pada masa lalu dan sulit move on? Menurut saya sepertinya tidak juga. Nostalgia, atau perasaan sentimental yang terkait dengan masa lalu pada dasarnya adalah jenis memori yang sangat kuat, terutama karena sangat terkait dengan emosi. Menikmati sate di jaman kecil merupakan peristiwa yang sangat langka sebab saya bukan berasal dari keluarga berada. Kalaupun suatu waktu kami mampu membeli sate, mungkin hanya diberi 2 tusuk dengan nasi 1 piring dan kecap berlimpah. Nah itu menjadi momen spesial karena kelangkaannya sehingga membuat persitiwa itu tidak terlupakan. Ketika saya berusaha menciptakannya kembali dengan ditambah "balas dendam" karena dulu cuma diberi 2 tusuk dan sekarang saya pesan 10 kali lipat, rasanya tidak sama lagi. Dulu setiap gigitannya sangat berarti sebab bayangkan 2 tusuk sate mungkin hanya ada 10 potong daging kecil, harus dipas-paskan dengan sepiring nasi. Ini merupakan bentuk managemen distribusi yang unik untuk anak SD hahahaha... Masa-masa itu, sesederhana apapun menjadi tidak terlupakan. Bayangkan kebahagiaan seorang anak yang dengan sangat lahap menikmati 2 tusuk sate, kenikmatannya sulit digambarkan. Nah mungkin itu pula yang sulit diciptakan replikanya. Namun apapun itu, semuanya harus selalu disyukuri, bukan?

You May Also Like