"Uuugh" Keluh saya sambil menunjukkan wajah tidak senang. Nina yang duduk di depan saya sambil makan nasi pecel mengangkat wajahnya penuh tanda tanya. "Kenapa Jo?" Akhirnya Nina bertanya.
"Bumbu pecelnya pake Royco atau semacamnya deh. Aku bisa ngerasain artificial beef atau chicken. Ga suka." Kata saya lagi.
Kami berdua memang sedang sarapan nasi pecel. Pagi tadi saya pergi ke berbagai tempat mencari bunga Kecombrang atau Honje untuk acara di Smipa hari Rabu nanti, menurut informasi yang saya peroleh, bunga ini dapat bertahan di lemari es selama berhari-hari jika penyimpanannya baik. Saya merasa aman untuk membeli hari ini untuk berjaga-jaga sebab setiap saya ke Supermarket, hampir pasti saya tidak menjumpai bunga ini, jadi saya harus ke pasar tradisional, tapi sebelumnya saya ingin mencari di beberapa tempat sayur dekat rumah, pulangnya saya membeli nasi pecel untuk sarapan.
Eniwei, indera perasa saya memang lumayan sensitif dan dapat membedakan jika makanan yang saya rasakan menggunakan perisa daging artifisial atau tidak. Saya sama sekali tidak mengerti mengapa bumbu pecel yang pada dasarnya vegetarian, kok menggunakan perisa daging. Mungkin untuk sementara orang perisa ini tidak terlalu dapat dirasakan, tapi bagi saya ini membuat rasa makanan tidak terlalu saya sukai. Saya bukan anti perisa buatan, banyak kok makanan yang tidak mengganggu saya walau menggunakan perisa daging buatan semacam itu jika memang makanannya menggunakan daging. Tapi bukan untuk bumbu pecel.
Saya berpikir, mungkin saja ibu penjual pecel tadi menggunakan perisa daging untuk menambah rasa umami. Umami adalah rasa ke-5 yang dapat dinikmati manusia. Keempat yang lain yaitu rasa manis, asin, asam dan pahit. Nah jika kelima rasa itu dapat dipadukan dengan sempurna, maka semua indera perasa manusia dapat terpuaskan. Nah rasa umami atau mungkin paling mudah disepadankan dengan "gurih" biasanya diperoleh dari MSG. Hanya saja sejak entah berapa dekade yang lalu MSG memperoleh nama buruk dan semakin lama semakin dihindari walau sebetulnya manusia sangat menyukai rasa umami, sehingga mulai menciptakan bumbu-bumbu serupa untuk menyamarkan penggunaan MSG atau vetsin atau micin. Padahal kalau diperhatikan hampir semua perisa mengandung MSG. Kaldu jamur? mengandung MSG. Kaldu sapi atau kaldu ayam? Juga mengandung MSG. Memang banyak juga yang tidak, tapi saya belum tahu kandungan kimia apa yang mereka gunakan untuk menciptakan rasa umami itu. Kalau suka cemilan seperti keripik kentang berbagai merk, mereka semua menggunakan monosodium glutamate!
MSG atau monosodium glutamate sebetulnya adalah semacam asam glutamik yang secara alami ada di banyak jenis makanan, bahkan tubuh manusia pun menciptakan asam glutamik. MSG yang ada dipasaran biasanya berbentuk kristal, tidak berbau berwarna putih atau bening yang merupakan produk yang dibuat dari hasil memfermentasikan karbohidrat seperti misalnya gula dari tebu, beet dan molasses. Tidak ada perbedaan kimiawi antara MSG dengan asam glutamik dari makanan natural lainnya sehingga memang tubuh manusia sama sekali tidak dapat membedakan antara keduanya.
MSG digunakan sebagai penguat rasa. Sama seperti garam atau gula, dua benda ini juga untuk penguat rasa. Konon dulu manusia hanya memakan makanan hambar ketika di jaman batu, baru kemudian tanpa sengaja daging yang sedang dibakar terkena air laut, dan sejak saat itu garam ditemukan. Entah kejadian sebenarnya begitu atau tidak, tidak ada yang tahu dengan pasti. Yang jelas manusia sangat menyukai rasa.
Kenapa MSG memperoleh nama buruk? Konon katanya ada seorang dokter yang menulis di sebuah jurnal yang mengatakan bahwa dia jatuh sakit setelah mengkonsumsi makanan yang mengandung MSG. Sejak itu banyak penelitian yang dilakukan dan menunjukkan hasil yang buruk. Tapi penelitian modern membuktikan bahwa penelitian-penelitian sebelumnya banyak melakukan kesalahan dan banyak ketidak telitian. MSG kemudian dianggap aman selama manusia mengkonsumsinya dengan wajar tidak lebih dari 30 miligram/1kilo berat badan. Jadi kalau berat badan saya 70 kg, saya dapat mengkonsumsi MSG tidak lebih dari 21 gram. Adakah orang yang mengkonsumsi lebih dari 20 gram micin/hari? Tidak ada! Berdasarkan penelitian, rata-rata manusia mengkonsumsi MSG antara 0,3 hingga 1 gram saja per harinya.
Obrolan saya hari ini bukan merupakan propaganda untuk menggunakan MSG, loh. Kalau benar begitu lebih baik saya direkrut oleh Ajinomoto atau Sasa, supaya sekalian memperoleh penghasilan hahahaha.. Saya haya ingin berbagi informasi saja sebab banyak kesimpang-siuran informasi yang sering terdapat di masyarakat karena banyak yang kurang akurat. Begini saja, jika memang MSG dianggap tidak aman dan berbahaya bagi manusia, mengapa Indomie Mi Goreng menjadi mie instant nomor 1 di dunia yang paling disukai? Bayangkan, 19 miliar bungkus indomie diproduksi setiap tahun dan tersebar di seluruh dunia. Di akhir tahun 90-an ketika saya di Hawaii, Indomie mi goreng masih sulit dijumpai, saya hanya dapat membelinya di toko Asia, dan bagi keluarga mahasiswa miskin, mie instant itu adalah penyelamat hidup! Hahaha.. Nah sekarang hampir di semua supermarket Amerika dapat dijumpai mie goreng bermerek Indomie ini. Seluruh dunia, Australia, Asia, Eropa, Amerika dan Afrika mengenal Indomie, bahkan Nigeria dan Turkiye memiliki pabrik Indomie sejak akhir tahun 90-an dan tahun 2000. Nah Indomie ini sarat dengan MSG dan dikonsumsi oleh dunia! Itu baru mie instant, belum termasuk cemilan lain, banyak cemilan produksi Amerika dan Eropa yang menggunakan MSG, kalau Asia memang sudah jelas Hahaha.
Nah, saya lebih cenderung mengerti jika orang-orang menggunakan MSG, tidak mudah menyeimbangkan penggunaan gula dan garam untuk dapat menciptakan rasa umami yang tepat dan enak, MSG jadi semacam jalan pintas. Ketika memasak saya lebih cenderung menggunakan kaldu jamur yang tentunya sedikit mengandung MSG tapi mempunyai cita rasa netral daripada kaldu sapi atau kaldu ayam yang tetap menggunakan MSG tapi ditambah perisa daging artifisial. Ini yang saya sampai sekarang belum bisa berdamai dengannya. Kalau ingin ada perisa daging, lebih baik membuat kaldu sendiri dari tulang!