AES 422 Badminton
joefelus
Tuesday July 19 2022, 3:39 AM
AES 422 Badminton

Di luar masih gelap ketika saya terjaga. Saya lirik jam di HP yang terletak di meja kecil di sisi tempat tidur, masih menunjukkan pukul 4 pagi. Saya raih obat sebutir dan saya minum lalu berusaha kembali tidur. Saya masih punya sekitar 1 jam 15 menit lagi sebelum harus turun dari pembaringan dan bersiap-siap ke kolam renang lalu dilanjutkan dengan kesibukan rutin di hari Senin.

Mata saya terpejam tapi pikiran saya sudah terjaga dan sulit dihentikan. Saya sadar bahwa semalaman saya bermimpi yang begitu nyata dan membuat saya agak terheran-heran. Saya bermimpi tentang Bandung, teman-teman bahkan sekolah Kano. Kok bisa ya? Saya sama sekali tidak memikirkan itu akhir-akhir ini. Apakah karena kemarin saya ngobrol soal grup badminton orang tua Smipa yang akan segera dimulai lagi?

"Orang tua Smipa sudah mau mulai main badminton lagi. Kalo di Bandung, saya mau ikutan. Sayang raketnya hilang." Kata saya pada Nina.

"Lah Jo, itu raket udah tua, dari tahun berapa itu. Beli lagi aja, mungkin malah sekarang banyak yang jauh lebih bagus kualitasnya." Jawab Nina.

"Loh yang dulu itu bagus banget loh, dari titanium atau apa. Merk Yonex, asli buatan Jepang." Kata saya.

"Ya tetep aja, sekarang pasti sudah banyak yang jauh lebih bagus. Lagian khan sudah hilang." Kata Nina lagi.

Iya sih, dalam hati saya mengakui yang diucapkan Nina itu betul. Dari dulu saya memang gemar bermain badminton, dari SD malah ketika raket jaman itu masih terbuat dari kayu dan berat. Lalu generasi berikutnya dari kayu bercampur besi kemudian dari alumunium. Ketika memiliki raket dari alumunium, saya sudah merasa menjadi juara dunia! Itu karena keren dan masih jarang orang yang punya. Saya sering bermain melawan guru-guru ketika masih di SMP, bahkan ikut bertanding ketika ada pertandingan persahabatan antar sekolah melawan pemain dari sekolah Katolik dari kota lain.

Itu pertama kali saya bertanding secara resmi dan saya demam panggung alias grogi hahaha. Permainan saya tidak berkembang walau akhirnya saya menang karena lawan saya jauh lebih gorgi lagi hahahaha! Itu pengalaman pertama saya bertanding ditonton banyak sekali orang. Saya lebih bertanding melawan diri sendiri ketika itu dibandingkan dengan lawan. Apalagi para penonton berteriak-teriak menyebutkan merek bumbu penyedap karena saya pada saat itu memakai kaos gratisan produk bumbu penyedap merk Mi@#n hahaha... Saya tidak ingat apakah saya pernah bertanding lagi sejak saat itu.

Di rantau dulu saya juga bermain badminton. Butuh perjuangan untuk bermain karena saya tidak tercatat sebagai mahasiswa yang berhak menggunakan lapangan. Saya seringkali menyelinap. Di sana banyak pemain dari berbagai negara. Yang paling berat jika bermain melawan para mahasiswa dari China. Mereka jago-jago dan sangat serius tidak mau kalah, sementara para mahasiswa Indonesia tukang bergurau dan bermain hanya untuk bersenang-senang. Tentu saja kami dibantai habis-habisan hingga akhirnya mereka malas bermain dengan kami karena sepertinya mereka sebel bermain dengan orang-orang yang cengengesan dan tidak serius. Kami jika bermain selalu sambil tertawa-tawa lalu kalau kepayahan tidak mampu mengejar shuttle cock ya kami terlentang saja di lapangan sambil terkekeh-kekeh, sementara para pemain dari China ingin permainan segera berakhir dan tidak senang menunggu kami yang bangun perlahan-lahan sambil tertawa-tawa. Ya begitulah kami dan begitulah mereka. Akhirnya mereka memilih lapangan sebelah dan bermain dengan mereka sendiri sementara kami bermain di lapangan sendiri. Kami memang bermain just for fun! Bukan bertanding untuk mengalahkan lawan. Yang lucu, selama di rantau mereka menyebut shuttle cock dengan sebutan bird, ketika kami menyebut dengan "kok" (ga tega nulisnya tanpa kata shuttle) mereka terbengong-bengong dan dikira kami ngomong kasar! Hahahaha.. Ya begitulah, lain padang lain belalang!***

Foto Credit: regenthouse.org.uk