AES188 Motret
Andy Sutioso
Thursday November 18 2021, 10:09 PM
AES188 Motret

Awalnya saya mau memberi judul esai hari ini: jeprat-jepret. Rencana mau menulis tentang kesukaan saya memotret sejak dulu. Tapi akhirnya judul saya ganti dengan motret, kalo judulnya jeprat-jepret khawatirnya dipersepsi ini tulisan tentang nembakin orang-orang pake karet gelang, hehehe... 

Ide tulisan malam ini muncul setelah mengunggah foto saya ke Pexels. Diliat-liat, ternyata seru juga setelah cukup banyak foto yang saya unggah ke sana. Total sudah ada 37 foto saya yang diunggah ke sana. Saya kurasi dari koleksi foto saya selama bertahun-tahun ini - terutama sejak muncul yang namanya foto digital. Sebelum foto digital saya juga memotret dengan kamera filem. Saya sempat diwarisi oleh ayah saya kamera filem, Nikon F3, dengan lensa zoom 35-70mm, kalau saya tidak salah ingat. Selain itu saya punya lensa wide angle 28mm. juga. Kamera yang cukup canggih pada jamannya. Sampai suatu waktu harga filem dan cuci cetak jadi terasa sangat mahal sewaktu munculnya kamera digital.

Saya juga menabung untuk membeli salah satu kamera digital terawal yang diproduksi pada jamannya. Kodak DC220. Kamera itu masih saya simpan, resolusinya hanya 640x480 pixel. Haha, luar biasa bukan? Memorynya menggunakan Compact Flash Card yang masih besar banget ukuran fisiknya (mungkin sekitar 3 x 4 cm.) dengan kapasitas penyimpanan 32MB. Zoomnya hanya 3x pembesaran... Lensa bergerak keluar sekitar 1 cm dari body kameranya. Tapi pada waktu itu, kamera itu top of the line... Canggih sekali. Tapi bayangkan betapa primitifnya dibandingkan kamera-kamera jaman sekarang.

Sampai sekarang saya tidak pernah punya DSLR. Punya keinginan besar, tapi ga punya duitnya, hehehe... Mentok-mentok saya membeli Kamera Semi Pro atau kamera Prosumer yang lensanya tidak bisa diganti-ganti. Dalam prosesnya kamera hape semakin canggih, dan ini membuat saya semakin enggan membeli kamera karena hape kita semua saat ini punya kemampuan merekam gambar yang luar biasa. Lalu ngapain nenteng-nenteng kamera ke mana-mana karena hape kita punya fungsi dan kemampuan yang sama (maksudnya untuk merekam gambar).  

Intinya saya ga pernah pusing sama peralatan. Yang saya sukai adalah merekam gambarnya, memotret... sesederhana itu. Memotret bagi saya adalah merekam momen... That's it. Kalaupun saya hanya punya kamera lubang jarum (pinhole camera) so be it... Karena apa yang ada saat kita memotret adalah objek yang dipotret, saya yang merekamnya, dibantu perangkat yang saya pegang saat itu. Sesederhana itu. Saya yakin momen itu tidak bisa diulang - dan saat kita memotret, kita memang mencatatnya secara visual. Kita sang pemotret yang melakukannya. Mengenai estetika, tentunya ini jadi penting, karena seperti lukisan, potret adalah juga sebuah rekaman visual, tapi bukan dengan cat, kita merekam momen menggunakan cahaya dan lensa. Karenanya objek dan sudut yang sama, direkam oleh dua orang pemotret yang berbeda akan berbeda juga hasilnya. 

Terakhir dari aspek estetika, tentunya tidak ada salah dan benarnya, selera penikmatnya bicara cukup signifikan di sana. Seperti ungkapan, "beauty is in the eye of the beholder", sepertinya itu benar. Sebuah karya yang masterpiece bisa dianggap biasa saja oleh beberapa orang. Tapi karya yang sepertinya, sederhana, biasa saja, bisa dianggap sangat estetis oleh orang-orang tertentu. 

Di bawah ini koleksi foto-foto saya di Pexels. Foto-foto yang secara pribadi saya sukai. Saya senang sekarang bisa terkompilasi di sana - dan bisa dinikmati orang lain juga. Setelah terkumpul di sana, saya bisa merefleksikan objek-objek apa yang menarik minat saya, dan ini jadi bahan refleksi saya juga. Oh iya, saya bukan tipe orang yang suka mengedit foto. Karena seperti apa yang saya sampaikan di atas, memotret adalah merekam momen - menggunakan perangkat yang kita pegang saat itu. Jadi komposisi, pencahayaan, warna, dan lain sebagainya ya harus muncul apa adanya, tidak di manipulasi lebih lanjut. Kalau hasilnya baik ya baik, kalau ngga ya sudah, itulah keterbatasan yang ada. Jadi foto-foto yang ada di bawah ini adalah foto apa adanya, bahkan tidak ada proses cropping, untuk memperbaiki framing foto. 

Silakan klik gambarnya untuk masuk ke akun saya di Pexels. Selamat menikmati. 

ScreenShot_20211118222254.jpeg

Oh iya for the record, bagaimanapun mengunggah 37 foto ke pexels, rasanya sangat berbeda dengan menuntaskan 37 esai di Ririungan, karena menulis jauh lebih sulit daripada sekedar merekam gambar... . Sampai jumpa besok di tulisan berikutnya. 

Photo by Shane Aldendorff from Pexels