Beberapa hari lalu menulis esai judulnya Kecemasan Akan Kemasan. Sore ini mampir satu video di salah satu grup WA saya tentang seekor Paus yang pergi terdampar (tepatnya mendamparkan diri) di salah satu kota pelabuhan di Eropa. Sampai akhirnya paus itu harus ditembak mati oleh petugas di sana. Sebuah tim otopsi membedah paus tersebut dan mendapati bahwa perutnya penuh plastik. Ada lebih dari 30 potong plastik di perut paus tersebut. Paus tersebut seakan membawa pesan bagi kita umat manusia dari kedalaman samudera sana. Pesan semacam "Look people, what have you done!". Bisa kita bayangkan ya kalau di perut kita ada sekian banyak plastik. Duh saya tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya. Link Video ada di sini https://www.youtube.com/watch?v=LhnanAAlvRQ
Sejak tahun 2008 - 2009 saya menaruh perhatian besar - keprihatinan tepatnya pada isu-isu lingkungan. Mulai sejak saya menonton filem yang dibuat Al Gore, The Inconvenient Truth. Filem itu cukup menggoncang pemikiran saya. Dan sejak itu saya terus berupaya mencari solusi, setidaknya di lingkungan terdekat di rumah dan di Semi Palar untuk berbuat sesuatu sejauh kita mampu untuk lingkungan hidup kita. Bagaimanapun bumi ini adalah rumah kita satu-satunya.
Sebelum pandemi di TP15 kita mulai gerakan pilah sampah bahkan mengajak warga Smipa membuat Ecobricks. Tujuannya satu: membangun kesadaran. Supaya semua orang ngeh betapa susahnya kita menghancurkan sampah - plastik2 yang tidak hentinya kita hasilkan dan kita buang entah ke mana... Butuh waktu dan enerji. Itulah kenapa di alam, plastik itu butuh ratusan tahun sampai bisa terurai. Saya sadar juga banyak yang mempertanyakan tentang hal ini. Dari satu sisi bisa jadi ini hal bodoh yang kita lakukan - mengguntingi plastik sampah kita untuk dijadikan Ecobricks. Tapi kalau kita mau jujur, kebodohan kita juga yang meracuni bumi kita dengam sampah kita termasuk mengakhiri hidup paus malang yang menelan sampah yang kita hasilkan... Dan sampai hari ini kita terus melakukan kebodohan-kebodohan itu setiap kali kita membuang sampah-sampah kita.
Sebelum pandemi juga saya sempat berdiskusi juga dengan Reza - salah satu aktifis Plastafvall. Komunitas yang bergerak di pengolahan sampah. Anak-anak muda keren, Reza dan Bea yang sampai hari ini konsisten di pengelolaan sampah. Sampah-sampah yang kita pilah di Fasipisa kita titipkan, bekerja sama dengan Plastafvall untuk diolah melaui sistem pengelolaan sampah mereka. Sayangnya gerakan kita ini terhenti karena pandemi. Walaupun begitu beberapa keluarga masih terus memilah sampahnya dan mengirimkannya ke Fasipisa. Jujur, karena pandemi juga saya tidak bisa menempatkan banyak perhatian juga terhadap Fasipisa. Beberapa kali saya ke sana memang kondisinya tidak terurus dan berantakan. Walaupun begitu, saya rasa keprihatinan saya tidak pernah berkurang, justru semakin bertambah.
Terkait judul di atas, saya juga belum ketemu istilah Indonesianya. Bucket List - kalau diterjemahkan jadi aneh : Daftar Ember, wkwkwk... Karenanya saya menuliskan judul esai dalam Bahasa Inggris. Tapi intinya saya ingin sekali bisa melakukan sesuatu untuk mengolah sampah / limbah. Inilah yang saya diskusikan bersama Reza. Saya sendiri belum tau seperti apa, tapi saya ingin sekali mencari caranya bagaimana. Kalau mau bener, pastinya butuh dana - saya terpikir untuk mencoba crowdfunding. Saya ingin sekali bekerja sama dengan Plastafvall atau komunitas lainnya untuk melakukan ini. Itung-itungan kasar - kalau setiap keluarga di Semi Palar mendonasikan lima ratus ribu sampai sejuta rupiah untuk proyek ini, Seratus sampai seratus lima puluh juta rupiah bisa kita kumpulkan. Anggap saja ini environmental cost yang semestinya kita bayarkan untuk mengolah sampah yang selama ini kitahasilkan. Untuk segala masalah lingkungan (karena kebodohan-kebodohan kita) yang kita hasilkan selama kita hidup - uang sebesar itu saya kira tidak ada artinya.
Pengelolaannya bisa kita buat transparan - seperti yang dilakukan di koperasi. Lagipula kalau olahan sampah kita bisa menjadi produk - ini bisa jadi nilai ekonomi tersendiri buat kita dan hal-hal positif lainnya yang bisa kita lakukan ke depan. Lagipula kita sedang mencoba beralih dari pendidikan holistik ke kehidupan yang holistik. Mudah-mudah terwujud juga di waktu-waktu mendatang. Salam.
Photo by Catherine Sheila: https://www.pexels.com/photo/close-up-photo-of-plastic-bottle-2409022/
Amin... ❤