Sehari setelah pertemuan dengan kang Wawan, saya kembali bikin janji bersama mas Imam untuk berkunjung ke kediaman kang Aat. Kalau kemarin saya berangkat ke arah Barat Bandung, kali ini saya melintas kota Bandung ke arah Timur menuju ke rumah kang Aat setelah pindah dari rumahnya yang selama ini sangat dekat dengan Semi Palar. Setiba di sana kang Aat sudah berdiri di depan rumahnya. Duh senang sekali bisa berjumpa dan bakal punya kesempatan berbincang panjang lebar - setelah terakhir berjumpa dalam suasana duka di pemakaman ibunda kak Imam di TPU Baros.
Hari ini perbincangan cukup panjang, kami duduk di meja kayu, di halaman depan di bawah naungan pohon yang rimbun. Pohon pancasila kata kang Aat. Keren ya. Perbincangan sangat luas mulai dari pemimpin bangsa, cerita kang Aat tentang orde lama bagaimana kerakusan segelintir orang bisa menguras kekayaan Indonesia dan dampaknya terasa sampai sekarang. Betapa sulitnya mengelola bangsa yang besar ini tanpa disadari dilandasi kesadaran.
Beliau bercerita juga bagaimana para pendiri bangsa ini betul-betul memahami keberagaman yang dimiliki Indonesia dan merangkai dasar negara di dalam kesadaran penuh akan itu. Hal inilah yang sedang terus diganggu oleh berbagai pihak yang punya kepentingan. Karena takut akan kemajuan dan kejayaan Indonesia. Kata kata kang Aat "Indonesia itu kuat tapi tidak punya pengaruh" sangat membekas dalam memori saya hari itu.
Beliau juga bicara tentang keSundaan. Bahwa orang Sunda hari ini adalah bukan lagi karena faktor genetikanya tapi sebagai manusia yang menghayati dan menjalankan nilai-nilai keSundaan di dalam laku hidupnya sehari-hari. Sudah tidak bisa lagi dijumpai suku Sunda yang asli - sepenuhnya, 100% Sunda karena percampuran suku sudah begitu luas terjadi. Ini mengingatkan saya pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh ahli genetika di dunia bahwa saat ini sudah hampir tidak bisa dijumpai manusia yang secara genetika masih asli.
Kang Aat juga bercerita tentang pengalaman beliau menjadi tim survey ke Kalimantan sebelum program transmigrasi dijalankan oleh pemerintah. Pada jaman itu juga beliau sudah bisa membaca bagaimana keserakahan sudah sangat terasa di kalangan birokrat dalam konteks proyek-proyek besar pada masa itu. Memimpin negara Indonesia yang kaya raya memang perlu mentalitas luar biasa untuk bisa melepaskan diri dari godaan untuk mengambil keuntungan bagi berbagai kepentingan pribadi dan golongan.
Tidak terasa 3 jam kami duduk dan berbincang. Sebelum pamit saya menyampaikan kepada kang Aat. Saya secara pribadi merasa sangat beruntung bisa mendapatkan banyak wawasan, pemahaman dan pemaknaan tentang berbagai hal. Hal-hal yang semestinya didengarkan banyak orang. Dulu wacana-wacana seperti ini banyak ditebarkan di Rumah Nusantara. Saya yang menyempatkan hadir di sana bisa mendapatkan mutiara-mutiara tersebut di sana. Saya menggagas ada obrolan semacam ini, forum terbuka yang bisa kita selenggarakan di Semi Palar - terutama untuk generasi muda yang akan menerima tongkat estafet bangsa ini di masa mendatang. Semoga gagasan ini bisa terlaksana.
Hatur nuhun kang Aat atas ruang dan kesempatan obrolannya. Sangat mengisi dan menghilangkan rasa rindu atas apa yang dulu sering didapatkan. Semoga kang Aat terus diberikan kesehatan dan semangat untuk bisa menebar inspirasi bagi kita semua. Salam.