Yang paling tidak bisa diajak berdiskusi adalah yang merespon seringkali dengan gak juga. Bukan berarti negasinya salah, benar salah itu urusan konteks saja, dan frasa ini adalah geseran konteks. Merespon dengan gak juga berarti menggeser konteks bahasan kepada yang lebih luas atau lebih sempit atau ke sebelah, sehingga sudah tidak bisa lanjut diskusinya. Terhenti di tengah karena konten tanpa konteks hanyalah diam.
Gak juga memiliki pasangan yaitu, iya sih. Perilakunya jelas berbeda, kalau sama namanya kembaran bukan pasangan. Alih-alih menggeser konteks sehingga konten tidak dapat dibahas seperti gak juga, iya sih ini menerima konteks kemudian membuka saluran baru kepada konteks lain. Lebih luas atau lebih sempit atau geser ke sebelah, semua fokusnya untuk menemukan keterkaitan. Keterhubungan. Sehingga ada relevansi konteks bagi konten.
Maka kemampuan terpenting dalam diskusi adalah antisipasi munculnya gak juga baik dari diri sendiri dan dari kawan bicara. Untuk lawan bicara, iya sih bisa muncul kalau mulai malas menampung kepicikan alias kesempitan pandangan. Picik bukan berarti bodoh, bisa jadi terlalu pintar sehingga menolak keterhubungan dengan cara menggeser konteks. Namun masih kurang pintar, untuk menemukan keterangkaian dan relevansi. Salah satu bentuk antisipasi dengan memosisikan diri pada dua pilihan, berkata lugas atau tinggalkan saja. Diam, bukan pilihan.