Memang orang yang lebih tua akan memandang yang lebih muda dengan sebelah mata. Untuk apa merasa kecewa, karena bahkan segala usaha untuk membuat dipandang dengan seluruh mata pun sia-sia. Karena seiring usia, kualitas mata memang sisa sebelah saja. Maksimal pandangannya memang sebelah mata.
Memang yang lebih berpengalaman akan memandang sebelah mata kepada pemula. Untuk apa merasa kecewa, karena bahkan segala usaha untuk membuat dipandang dengan seluruh mata pun sia-sia. Karena perjalanan pengalamannya memberikan pemahaman yang ditukar dengan luka pada mata. Maksimal pandangannya memang sebelah mata.
Merasa kecewa hanyalah konsekuensi dari upaya menjelaskan. Selain daripada bahwa semakin banyak penjelasan semakin banyak kesalah pahaman, maksimal kejelasan yang didapatkan hanyalah sejelas kejernihan pandangan. Yang dimana maksimal pandangan hanya sisa-sisa sebelah mata. Sia-sia lah usaha, menyalakan lentera di siang hari untuk menemukan manusia. (Kisah Diogenes)
Menghirup napas dalam saja untuk menerima bahwa pandangan sebelah mata adalah kebenaran bagi yang dipandang sebelah mata. Menghela napas lega saja untuk menerima bahwa pandangan sebelah mata adalah pegangan bagi yang memandang sebelah mata.
Bayangkan, tanpa kebenaran dan tanpa pegangan ini. Kehilangan yang dialami, adalah kehilangan eksistensi diri. Sudah cukup banyak lalu lalang pencari keberadaan diri yang semakin mencari semakin tersesat, tak perlu ditambah lagi jalanan padat merayap ini. Biarkan sebelah mata tetap sebelah mata. Hingga pada saatnya nanti sebelah mata bertemu sebelah mata, jadi utuh juga.