“Tidak lama tidak bersua, rasanya kurang lama. Seperti masih perlu lebih lama lagi tak bertatap muka, bahkan kalau perlu tak usah lagi berjumpa.” Sahut tonggeret kepada batang pohon. Memang hanya ocehan saja itu, karena apa lah arti tonggeret tanpa batang pohon tempatnya hinggap. Nanti jadi tong kosong nyaring bunyinya. Karena tonggeret yang melepaskan diri dari batang pohon akan terjatuh, masuk ke tong sampah kaleng yang barusan dikosongkan isinya.
Semakin berbunyi lantang di dalam kaleng kosong, bukan semakin banyak yang datang menyelamatkan. Malahan semakin dihindari karena terlalu berisik, suaranya memekakan telinga hingga menggoncang jiwa. Yang seperti ini secara natural tidak didekati kan, malahan perlu dijauhi. Kecuali kalau hendak melawan kausalitas alamiah ini dengan ideologi heroisme, bahwa semuanya bisa diselamatkan dengan membuka ruang obrolan dan memberikan pemahaman.
Memaksakan diri untuk melakukan tindakan heroik macam itu seperti, mengajak kodok untuk terbang. Melompat saja berat, ingatlah bahwa kodok bukan katak. Memang, tampaknya lincah kodok itu. Namun begitu diperhatikan lebih lama sedikit, lidahnya saja yang lincah menangkap lalat yang beterbangan di sekitar tong sampah. Sedangkan badannya tetap di situ-situ saja. Seakan melompat padahal menggeret badan saja ketika berpindah. Beda lho menggeret dengan tonggeret. Walau sama-sama pakai ‘geret’, yang bikin siput geregetan kepada keduanya. Walaupun begitu, siput tetap mengikut.