Katanya perlu membedakan mana keinginan mana kebutuhan. Rasanya, itu tidak perlu. Bahkan keinginan berdasarkan pada kebutuhan dan kebutuhan pun berlandaskan keinginan. Kalau lapar rasanya ingin makan, kalau kebelet rasanya ingin buang.
Kalau badan kurang nutrisi butuh asupan makanan, ingin ayam goreng pedas bersaus keju. Kalau seperti ini dengan membedakan mana keinginan mana kebutuhan, pembatasnya adalah dana. Jadi keingat kata jawaban Diogenes saat ditanya kapan saat terbaik untuk makan.
Ia menjawab, "Untuk orang kaya, saat ia mau. Untuk orang miskin, saat dia mampu." Pembatasnya adalah daya, semampu apa ia memenuhi kebutuhannya tercermin dari keinginannya. Oh ternyata, hanya mampu beli satu potong ayam goreng pedas saus keju. Baiklah, ingin yang itu saja.
Keinginan dan kebutuhan adalah satu koin berbeda sisi saja. Koin itu namanya kemampuan. Daya. Dana. Kemampuan. Melampaui keinginan dan kebutuhan, melampaui kemampuan, adalah yang istilahnya kemenikmatian. If we enjoy it, we need it very little.
Sepotong ayam goreng pedas saus keju menjadi sangat memuaskan ketika setiap gigitannya dinikmati semampunya. Di sisi lain, menjadi sangat menggelisahkan ketika setiap gigitannya dimaklum-maklumi ketidak mampuan membeli lima potong.