"There is more wisdom in your body than your deepest philosophy" - Nietzsche
Makanya wajar, yang sangat inovatif dalam perkataan tetap saja repetitif dalam perbuatan. Kontradiksi tidak lah mengherankan, bukankah yang dikatakan adalah yang belum selesai di pemikiran.
Jadi keinget katanya Mahatma Gandhi, kebahagiaan adalah saat apa yang dipikirkan dikatakan dilakukan berada dalam keselarasan / harmoni. Memang tidak harus sama, karena yang utama adalah selaras. Harmonisasi bukan homogenisasi.
Merangkai keunikan dimulai dari menerima perbedaan, kalau masih berupaya menyamakan rasanya seperti menolak untuk berbahagia. Ini pun tak apa, karena pada pengulangan ke seratus empat puluh empat; merasakan ketidak bahagiaan ini adalah kebahagiaannya.
Kembali ke paragraf kedua.