Terkadang, saat kita menang itulah kekalahan. Saat kita kalah, itulah kemenangan.
Bahkan untuk bertahan itu hanyalah alasan, sebagai tempat persembunyian. Karena takut menerima sakit yang tidak diinginkan.
Menyerah itu bisa jadi suatu keterbukaan, menerima apa adanya. Itu pun suatu perjuangan, bukan sebagai masokis ketagihan sakit.
Memang, yang dibutuhkan bukan hanya setia menjaga dan saling mengingatkan. Perlu juga bergabung dalam ruang yang sama, bersama-sama.
Dengan laku sadar bahwa persamaan bukan penyamaan dan kebersamaan bukan kesamaan. Supaya lengkap.
Walaupun kehadiran adalah pengalihan dan kebersamaan itu ketagihan. Kehilangan diri sendiri lah keterjebakannya.
Maka, saling mengingatkan pun penting meskipun tidak lengkap.
“Jadi, apakah kita masih ada?” Mengingatkan.
Bukan men-jangan lupa-kan