Puncak 1
Minggu 8 mei 2022 bisa kukatakan sebagai hari yang membanggakan buatku. Mengapa? Akhirnya setelah lama memimpikan pendakian ke salah satu puncak tertinggi di pegunungan utara kota Bandung. Ya hari itu aku memutuskan melakukan pendakian ke puncak Bukit Tunggul yang memiliki ketinggian 2209. Puncak Bukit Tunggul merupakan puncak tertinggi di pegunungan utara. Ini puncak tertinggi, takjub dan tak bisa berkata kata. Hari minggu pukul 8.34 aku sudah berada di kawasan Bumi Perkemahan Bincarung – Pasir Angling Cibodas Lembang. Aku janjian dengan Kang Ade pagi itu. Meski semalam hujan deras, tapi aku memutuskan tetap melakukan pendakian. Aku berucap pada Kang Ade, ‘ini mah semampu saya ya kang. Alhamdulilah kalau bisa sampai puncak, kalo pun engga ya tidak usah memaksakan. Berbekal tiga botol air mineral, dua botol minuman isotonic, satu batang coklat serta roti sobek pendakian pun dimulai. Aku tidak benar benar sendiri melakukan pendakian kali ini. Melainkan ditemani Pak Uden selaku warga lokal yang tinggal di perkampungan sekitar Buper Bincarung. Aku mengikuti saran Kang Ade untuk memakai guide karena ketinggian Bukit Tunggul serta masih belum banyaknya pendaki yang mendaki ke Bukit Tunggul. Jadi bisa dikatakan Bukit Tunggul masih ‘perawan’. Meninggalkan basecamp Buper Bincarung, Pak Uden sempat bertanya kenapa aku tidak memakai sepatu gunung untuk mendaki? Aku memang belum punya sepatu gunung. Karena sepatu yang aku incar masih belum mampu kubeli. Hehe. Aku tak banyak bicara saaat mendaki, selain masih kesulitan mengatur nafas aku juga tak mau menguras energi karena belum sempat sarapan. Jalan yang aku lalui menanjak menembus hutan pinus. Bau aroma khas pohon pinus tercium, menyegarkan sekaligus menenangkan. Ini yang aku senang saat hiking, ketenangan… Tenang dari segala ‘keributan’ dunia. Berada ditengah hutan membuat otak dan otot – otot tubuhku sedikit lebih rileks. Pak Uden menyalakan rokok yang dibawanya. Jalanan yang semula hanya tanh basah kini perlahan berubah menjadi tanah coklat yang lengket hingga menambah berat langkah. Pak Uden kembali bertanya, kenapa pakai sandal bu ? Harus nya pakai sepatu kalo mau naik gunung?. Aku jawab, iya pak. Engga punya sepatu gunung nya. Dan sejurus kami pun jalan dalam diam. Pak Uden meninggalkan ku sedikit jauh didepan. Rapat nya pepohonan di kaki Bukit Tunggul membuatku kesulitan mencari spot foto yang bagus. Dan lagi aku mengejar waktu untuk bisa sampai ke puncak tepat saat dzuhur tiba nanti. Tak banyak petani kopi atau pemburu yang kami temui sepanjang jalan. Mungkin hanya sekitar tiga hingga lima orang saja. Kurang lebih tiga puluh menit kami berjalan menanjak, jalanan mulai melandai. Aku mulai terbiasa mengatur nafas, meski rasanya adaa sakit dikepala yang kembali menusuk nusuk. Ahhh sialll…kenapa saat pendakian pun aku masih harus merasakan sakit kepala sih?Aku mencoba tidak mengindahkan sakit kepala tersebut, mungkin karena lumayan lama aku tidak melakukan pendakian hingga oksigen yang masuk ke otakku agak ‘delay’ ahahah. Jalur pendakian dari Buper Bincarung hingga pos 1 terbilang susah susah gampang. Selain faktor tanah basah, jalanan yang menanjak juga mempersulit langkahku. Aku sempat bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku suka naik gunung sih ? Melelahkan dan membuang waktu pikirku. Namun entah mengapa ada perasaan yang tak mampu kulukiskan dengan kata kata, mungkin puas karena berhasil sampai dipuncak, mungkin bahagia bisa melawan rasa mager, atau merasa tenang saat tiba di puncak. Entahlah. Tiga puluh menit kemudian aku tiba di pos 2. Tak banyak berhenti dan hanya mengambil gambar pos 1 dan pos 2 secukupnya saja, Pak Uden memperkirakan kami akan sampai dipuncak kurang dari tiga jam, katanya pak Uden, untuk ukuran ibu ibu speed langkah ku cukup cepat meskipun nafas nya ngos ngosan. Pak Uden pun mengingatkan bahwa dari pos 1 hingga pos 2 belum lah seberapa, perjalanan sesungguhnya ya dimulai dari pos 3 hingga pos 5. Bhaiqqquelahhhh kita lanjut!!! Perjalanan dari pos 2 hingga pos 3 sekitar 30 menit. Masih dengan speed yang sama namun jarak yang lebih jauh dan kontur tanah yang terus menanjak dan sama sekali tak menunjukkan jalan melandai. Makin mendekati pos tiga, saya mulai kepayahan. Jalanan luar biasa menanjak, saya mulai sering meminta waktu istirahat hanya untuk sekedar minum ke Pak Uden. Dengan sabar, Pak uden terus memberi saya semangat, beliau berkata : Ayo, Bu. Puncak lima menit lagi. Puncak lima menit lagi Bu. Padahal saya tahu betul, kami baru memasuki pos tiga dan masih setengah perjalanan menuju puncak. Setelah melewati pos tiga, saya dihadapkan pada sebuah tanjakan tajam dimana saya harus melewati jalan tersebut dengan merangkak seperti ala ala suer hero favorit saya, Spiderman. Pak Uden memberikan saya webbing untuk berpegangan, incase saya kehilangan keseimbangan melewati tanjakan tersebut jadi Pak Uden cukup menarik saya saja. Terdengar suara walkie talkie di saku Pak Uden, rupanya Kang Ade dibawah sana mengkonfirmasi keberadaan kami. Saya tahu apabila resiko besar tersesat karena gunung masih ‘perawan’ biasanya local guide selalu dibekali walkie talkie untuk berkomunikasi untuk segala hal. Aku kira tanjakan tersebut akan berakhir pada sebuah tanah yang sedikit landai atau sebidang tanah untuk setidaknya merebahkan diri sejenak, namun dugaanku salah. Tanjakan tersebut belum lah berakhir dan justru malah makin membuatku ngos ngosan. Gilaaaa…baru pos tiga nihhh, apa kabar di pos empat dan pos lima yaaaa. Hahahah. Lanjut pendakian, kurang lebih empat puluh lima menit aku tempuh dari pos tiga menuju pos empat. Sempat berfikir untuk turun kembali namun rasa penasaranku untuk menginjakkan kaki di puncak Bukit Tunggul lebih besar daripada rasa lelahku. Beberapa sahabat dekat dan keluarga pun mengakui apabila daya tahan fisikku memang cukup kuat. Daan aku selalu berbangga diri bahwa daya tahan fisik yang kuat diturunkan dari keluarga Ayahku. Jalan dihadapanku terhadang dua buah pohon tumbang yang saling tumpang tindih. Pak Uden mencontohkan bagaimana cara melewati pohon tersebut. Sempat Pak uden bercerita bahwa saat hari kamis aku hiking ke curug cibodas, Pak Uden mengantarkan rombongan dari Taiwan. Dan katanya rombongan tersebut gagal mencapai puncak karena beberapa anggotanya tak mampu melewati tumpukan pohon tersebut sehingga mereka memutuskan turun kembali. Sempat berkecil hati dengan statement tersebut, aku kembali meyakinkan diri bahwa aku bisa dan aku mampu. Aku tahu batas maksimal diriku dan ini masih belum mencapai limit maksimalku. Berhasil melewati tumpukan pohon tersebut, langkah kakiku makin terseok seok. Aku sudah tak mampu berkata kata banyak, cukup mengatur nafas dengan harapan bisa menghemat energi yang ada dalam tubuh. Empat puluh lima menit yang amat menguras energi dari pos tiga menuju pos empat. Aku tak lagi ingin banyak mengabadikan moment saat itu, tujuan ku hanya satu. Aku ingin segera tiba dipuncak. Dari pos empat menuju pos lima, aku menghabiskan hampir empat puluh lima menit. Dan saat tiba di pos lima, aku berucap syukur, ini pendakian tertinggiku. Aku berada di ketinggian 2100 mdpl. Karena saat mendaki Gunung BUrangrang, ketinggian hanya 2064 mdpl. Itu artinya aku mendaki tiga puluh enam meter lebih tinggi dari Gunung Burangrang. Dari pos lima menuju puncak bisa dikatakan sedikit lebih ramah. Namun tenagaku terkuras habis diperjalanan dari pos tiga menuju pos lima. Tak lagi kuingat berapa lama waktu tempuh dari pos lima menuju puncak, mungkin tiga puluh lamanya atau kurang aku tidak tahu pasti. Ditengah perjalanan menuju puncak, kami bertemu sepasang suami istri warga lokal yang kebetulan kenal baik dengan Pak Uden. Sang pria kuyakin adalah pemburu karena dia berbekal senapan, sedangkan istrinya Nampak seusia dengan ku. Berdua mereka menjelajah hingga nyaris ke puncak Bukit Tunggu dengan ditemani anjing peliharaan mereka. Tak henti aku berucap syukur atas kuasa Allah yang telah mengizinkanku dan memberiku kekuatan untuk mendaki hingga puncak Bukit Tunggul. Haru rasanya sekaligus takjub, karena kuasa Allah S.W.T aku bisa berada di atas puncak Bukit Tunggul dengan ketinggian 2209 mdpl. Dari puncak Bukit Tunggul, aku tak bisa menikmati keindahan lembah di bawahnya atau keindahan kota Bandung. Puncak Bukit Tunggul rapat ditutupi pepohonan dibawahnya. Dipuncak Bukit Tunggul terdapat sebuah situs purbakala yang dikenal sebagai situs Babalongan. Balong dalam bahasa Indonesia artinya kolam ikan. Dan benar saja situs babalongan ini bentuknya menyerupai kolam kolam ikan yang tak berair dan nyaris rapat ditumbuhi pohon atau semak belukar. Menurut cerita Pak Uden, dulu nya situs babalongan memang merupakan sebuah kolam tempat mandi bidadari atau apalah itu namanya. Percaya tidak percaya sih tapi itulah yang dipercayai warga lokal. Kutenggak habis kopi dalam tumbler hitam yang kubawa. Sudah agak dingin memang namun lumayan bisa menambah energi bagi tubuh. Kubuka perbekalan yang kubawa dari bawah. Hanya satu roti sobek, biscuit, dan sebatang coklat. Tak lupa aku berbagi dengan Pak Uden dan suami istri tersebut. Tiga puluh menit kami bercakap cakap di atas puncak Bukit Tunggul dan memang tidak ada orang lain selain kami disana. Ketika aku pergi ke mendaki di Burangrang atau Manglayang, aku masih bisa berpapasan dengan para pendaki yang akan muncak atau bahkan hendak turun gunung. Namun di Bukit Tunggul nampaknya tidak seramai dan se popular Gunung Burangrang atau Gunung Manglayang. Ketika itulah aku memutuskan untuk mendaki tujuh puncak di kota Bandung. Nantinya selain ke puncak Bukit Tunggul, Gunung Burangrang dan Gunung Manglayang, aku berencana mendaki puncak – puncak yang termasuk tujuh puncak di kota Bandung. Oke…balik lagi ke pendakian ke puncak Bukit Tunggul, setelah dirasa cukup beristirahat, kami memutuskan untuk kembali turun. Sepasang suami istri memutuskan untuk berjalan lebih cepat dari kami karena satu dan lain hal. Hingga kembali perjalanan ku dan pak Uden dalam kesunyian. Dalam perjalanan dari pos lima menuju pos empat, kami dihadang hujan deras. Jalanan yang semula bersahabat untukku yang hanya memakai sandal gunung kini berubah menjadi perjalanan ekstrim. Jalan yang menurun membuat langkah kaki ku menjadi super licin. Hingga memasuki pos ketiga, sandal gunungku tak lagi mampu bertahan alias putus. Dan tak hanya itu, bagian bawah jas hujan ku pun robek terkena akar tanaman ketika aku berusaha menahan diri agar tidak merosot dijalanan yang licin. Kulepas sandal dan ceana jas hujan tersebut. Tanpa alas kaki, aku meneruskan perjalanan. Namun ternyata berjalanan tanpa alas kaki di tengah hutan saat hujan tetap saja licin. Tidak sekali aku jatuh terpeleset meski sudah berusaha menahan diri dengan bantuan trekking pole, namun tetap saja aku tergelincir. Perjalanan turun yang semula diperkirakan Pak Uden akan berlangsung selama kurang dari tiga jam ternyata melebihi estimasi waktu tempuh saat pendakian. Itu karena kondisi ku yang tidak memakai alas kaki serta hujan yang mengguyur cukup deras. Tiga setengah jam kuhabiskan untuk bisa kembali tiba di Buper Bincarung. Sesampainya di base camp, aku langsung menyelesaikan administrasi dengan Kang Ade, bahkan Kang Ade berbaik hati mengantarkanku kembali ke lapangan dengan permukiman warga karena khawatir motorku kembali tergelincir seperti saat kedatanganku. Aku berjanji aku akan datang kembali ke Taman Bincarung untuk hiking ke Curug Luhur dan melakukan pendakian kembali ke puncak Bukit Tunggul. Ini tidak akan menjadi pendakian terakhirku ke puncak Bukit Tunggul, ini akan menjadi awal pendakian ku ke tujuh puncak di Bandung.
Wah selamat atas keberhasilannya ka. Terjawab pertanyaan Senin kemarin tentang kaki 😄